JEPARA — Gemerlap kreativitas dan keberagaman karya meramaikan Jepara Art Carnival 2026.
Puluhan peserta tampil membawa karakter dan karya masing-masing. Membuat Jalan Pemuda Jepara Kota berubah drastis, sesak, penuh warna, pada Sabtu (15/8) malam.
Helatan acara tersebut bukan sekadar pertunjukan seni.
Tetapi juga ruang untuk memperkenalkan potensi budaya dan ekonomi kreatif Jepara.
Setidaknya 60 peserta dari sejumlah daerah ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Selain dari Jepara, para peserta juga datang dari Semarang, Salatiga, Bondowoso, Kudus, Rembang, Bandungan, Malang, Pati, hingga Jember.
Keberagaman asal peserta menunjukkan bahwa Jepara Art Carnival mulai menjadi ruang pertemuan kreativitas lintas daerah.
Jepara tidak hanya menjadi lokasi penyelenggaraan, tetapi juga menjadi panggung untuk memperkenalkan karya dan potensi daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Bupati Jepara Witiarso Utomo membuka Jepara Art Carnival secara simbolis pada pukul 20.00 WIB.
Sejurus dengan itu, ribuan masyarakat yang menyaksikan dibuat terpukau dengan kreativitas para peserta.
Ada yang merespon kekayaan alam, bawah laut, keragaman budaya hingga potensi lokal maupun ikon nasional lain. Sementara itu para pengunjung juga turut mengantre foto, terlebih mereka yang datang bersama anak-anak.
Berfoto dengan maskot para peserta yang dilengkapi pernak-pernik membuat sumringah. Tawa lepas maupun lirih acapkali tampak.
Ia menilai penyelenggaraan event semacam ini memiliki dampak yang lebih luas, terutama terhadap geliat ekonomi masyarakat.
Menurutnya, kreativitas dalam seni, budaya, dan busana dapat menjadi bagian dari kekuatan pariwisata Jepara.
Karya-karya tersebut perlu terus dikembangkan agar tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi mampu diperkenalkan secara nasional hingga dunia.
"Ini membawa impact ekonomi di Jepara. Budaya dan kreasi yang ditampilkan di Jepara ini kita bentuk dan usahakan untuk menghadirkan, mengenalkan kepada dunia," ujarnya.
Baginya, event wisata menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan aktivitas ekonomi.
Ketika event menghadirkan peserta maupun pengunjung dari berbagai daerah, pergerakan ekonomi ikut tumbuh.
Pelaku kuliner, usaha kreatif, transportasi, penginapan, hingga sektor perdagangan dapat merasakan dampaknya.
Karena itu, pihaknya tidak ingin event wisata berhenti sebagai agenda seremonial.
Sejumlah kegiatan terus didorong, termasuk Jepara Art Carnival dan Karimunjawa Beach Trail Run, sebagai bagian dari upaya memperkuat daya tarik wisata daerah.
Wiwit mengatakan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan juga didorong untuk terus mengembangkan karya dan kreativitas lokal.
Potensi yang dimiliki Jepara harus dikemas menjadi sesuatu yang menarik, sehingga mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan.
"Untuk menumbuhkan ekonomi di Jepara, kita harus terus menyelenggarakan event. Roda perekonomian di Jepara harus terus bergerak," jelasnya.
Tidak hanya pemerintah kabupaten, pemerintah kecamatan juga diminta ikut mengambil peran.
Setiap kecamatan dinilai memiliki potensi wisata yang berbeda dan dapat dikembangkan menjadi daya tarik baru.
"Pemerintah Kecamatan juga harus mengeksplorasi potensi wisata masing-masing," sambungnya.
Jepara Art Carnival, hematnya, menjadi gambaran bagaimana seni, budaya, fashion, dan pariwisata dapat dipertemukan dalam satu panggung.
Di balik kemeriahan acara itu, ada upaya untuk membuka ruang bagi kreativitas sekaligus memperluas promosi potensi Jepara.
Dengan dukungan masyarakat dan berbagai pihak, Wiwit berharap geliat event wisata di Jepara terus tumbuh.
Bukan hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga membuka peluang, memperkuat serta menggerakkan ekonomi masyarakat.
"Kami ingin mendapatkan dukungan dan cinta kasih dari masyarakat Jepara," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin