SNT Jepara Dibangun dengan Anggaran Rp 250 Miliar, Fasilitas Bertaraf Internasional

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:16 WIB
Kepala BBPMP Jawa Tengah Nugraheni Triastuti (kiri) beserta Kepala Disdikpora Jepara Ratib Zaini (kanan). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
Kepala BBPMP Jawa Tengah Nugraheni Triastuti (kiri) beserta Kepala Disdikpora Jepara Ratib Zaini (kanan). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Sekolah baru, harapan baru. Jepara terpilih sebagai kabupaten yang didirikan Sekolah Nasional Terpadu (SNT).

SNT di Jepara akan dibangun dengan anggaran fantastis, mencapai Rp 250 miliar. 

Sekolah tersebut dirancang memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap dan bertaraf internasional.

Kepala BBPMP Provinsi Jawa Tengah, Nugraheni Triastuti, mengatakan pembangunan SNT Jepara akan dilengkapi berbagai fasilitas penunjang pendidikan.

Di antaranya seperti ruang kelas bertaraf internasional, laboratorium berstandar dunia, laptop untuk setiap siswa, hingga fasilitas olahraga termasuk kolam renang.

Selain itu, SNT juga akan memiliki fasilitas ketahanan pangan, yang disesuaikan dengan kearifan lokal daerah.

"Pembangunan SNT ini besar, karena berbagai fasilitas akan disiapkan. Setiap anak nantinya mendapatkan satu laptop, kemudian ada ruang kelas, laboratorium, fasilitas olahraga termasuk kolam renang, serta ketahanan pangan yang menyesuaikan kearifan lokal," ungkap Nugraheni, pada Selasa (11/8).

Menurutnya, pembangunan SNT dilakukan secara bertahap.

Dari sejumlah SNT yang direncanakan secara nasional, sebanyak 37 sekolah akan dibangun pada 2026.

Jepara dan Banyumas menjadi dua daerah di Jawa Tengah yang telah lebih dahulu menjalankan operasional SNT.

Sementara itu, pembangunan SNT Purbalingga dijadwalkan dimulai tahun ini dan penerimaan siswa ditargetkan berlangsung tahun depan.

"Secara nasional yang mulai beroperasi di tahun ini ada 17 SNT, di Jateng ada dua, Jepara dan Banyumas. Purbalingga juga dibangun tahun ini, tapi baru tahun depan mulai berjalan (menerima murid, red)," jelasnya.

Untuk SNT Jepara, proses pembangunan ditargetkan mulai memasuki tahap lelang perencanaan pada September mendatang.

Pembangunan akan menggunakan skema multiyears.

Nugraheni menjelaskan, SNT akan menerapkan tiga kurikulum yang diintegrasikan dalam proses pembelajaran.

Pertama, kurikulum nasional. Kedua, pendekatan STEM yang mencakup sains, teknologi, teknik, dan matematika. Ketiga, kurikulum yang mengacu pada kearifan lokal.

"Ketiga kurikulum ini akan diintegrasikan sehingga anak-anak juga akan dekat dengan lingkungannya. Serta menjadi problem solver dari persoalan yang ada di lingkungan sekitar," ujarnya.

SUMRINGAH: Para siswa SNT sedang berangkat dari Pendopo Kartini Jepara untuk menjalani MPLS di BBPMP Jawa Tengah sejak 11-17 Agustus mendatang. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
SUMRINGAH: Para siswa SNT sedang berangkat dari Pendopo Kartini Jepara untuk menjalani MPLS di BBPMP Jawa Tengah sejak 11-17 Agustus mendatang. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Sebelum mengikuti pembelajaran di SNT, para siswa mendapatkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang difokuskan pada pembentukan karakter. Selama 11-17 Agustus di BBPMP Jawa Tengah.

BBPMP Jawa Tengah sebagai fasilitator pelaksanaan MPLS bagi siswa SNT Jepara dan Banyumas. 

Salah satu materi yang ditekankan adalah penerapan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat.

Kebiasaan tersebut meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, belajar, mengonsumsi makanan bergizi, bermasyarakat, serta tidur lebih awal.

"Ini akan lebih mudah dilakukan dengan cara menginap. Kebetulan BBPMP Jawa Tengah memfasilitasi untuk melakukan MPLS SNT, sehingga dapat merangsang karakter melalui tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat," katanya.

Dalam MPLS, siswa juga akan dikenalkan dengan kegiatan "Pagi Ceria" yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, senam anak Indonesia hebat, serta berdoa.

Materi mengenai perubahan iklim juga akan diberikan, untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.

MPLS berlangsung selama lima hari. Ditutup dengan mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus di BBPMP Jawa Tengah.

"Kami juga berharap anak-anak menjadi bagian dari petugas upacara nantinya," katanya.

Setelah mengikuti upacara, para siswa akan kembali ke Jepara.

Jawa Tengah menjadi salah satu daerah yang mendapat program SNT. Untuk tahap awal, hanya Jepara dan Banyumas yang menjalankan program tersebut, masing-masing dengan 80 siswa.

Jepara dan Banyumas dipilih karena dinilai memiliki komitmen pemerintah daerah, dalam menyiapkan lahan untuk pembangunan SNT seluas sekitar 10 hingga 20 hektare.

Selain kesiapan lahan, kelengkapan administrasi juga telah disiapkan. Pemerintah daerah juga berkomitmen menyediakan SNT transit bagi siswa SMP-SMA. Terutama selama gedung utama SNT masih dalam proses pembangunan.

"Penyiapannya sekitar setahun. Ketika sekolah sudah berdiri, tinggal ditempati," ujarnya.

Dalam struktur awal SNT, akan terdapat satu kepala sekolah dan 12 guru yang mengampu seluruh mata pelajaran.

Para guru dan kepala sekolah juga akan menggunakan dua bahasa dalam proses pembelajaran, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris secara bergantian.

SNT juga mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA. Mata pelajaran disusun secara berkesinambungan sehingga tidak terjadi tumpang tindih materi antarkelas.

"Karena ini merupakan sekolah terintegrasi, pembelajaran SMP dan SMA akan dibuat berkesinambungan," pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
Sekolah Nasional Terintegrasi Investasi pendidikan Pembangunan SNT Jepara Anggaran SNT Fantastis Fasilitas canggih