Hasil Uji Sampel Makanan SPPG Bandengan 5 Ditemukan Bakteri, SPPG Ditutup

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 15:39 WIB
TUTUP: SPPG Bandengan 5 Milik Yayasan Cahaya Arjuna Harapan Bangsa ditutup sementara, buntut dugaan keracunan ratusan siswa-guru di SMPN 2 Jepara, pada Senin (3/8) lalu. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
TUTUP: SPPG Bandengan 5 Milik Yayasan Cahaya Arjuna Harapan Bangsa ditutup sementara, buntut dugaan keracunan ratusan siswa-guru di SMPN 2 Jepara, pada Senin (3/8) lalu. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Hasil pengujian sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bandengan 5 Jepara, ditemukan sejumlah bakteri.

Terutama pada beberapa menu dan air bersih yang digunakan dalam proses pengolahan makanan.

Hal tersebut membuat SPPG Bandengan 5 yang dikelola Yayasan Cahaya Arjuna Harapan Bangsa ditutup sementara, buntut dugaan keracunan 123 siswa dan guru di SMPN 2 Jepara, pada Senin (3/8) lalu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara Hadi Sarwoko menyampaikan, pengujian dilakukan terhadap bank sampel makanan yang sebelumnya disimpan di dalam freezer

Pemeriksaan dilakukan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jepara pada 4 hingga 7 Agustus 2026.

Dari hasil pemeriksaan, sejumlah sampel makanan dinyatakan tidak ditemukan bakteri. 

Sampel tersebut meliputi nasi putih, tempe goreng, serta labu siam wortel bumbu kuning.

Namun, hasil berbeda ditemukan pada menu beef teriyaki. 

Dalam sampel tersebut ditemukan bakteri Enterobacteriaceae dan Salmonella sp. yang menjadi bakteri penyebab gangguan pencernaan.

Selain dapat memicu gangguan pencernaan, bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi sistemik. Terutama jika masuk ke dalam tubuh dalam jumlah yang tidak normal.

Di samping itu, pemeriksaan terhadap sampel semangka juga menemukan sejumlah mikroorganisme.

Di antaranya Bacillus cereus dan Enterobacteriaceae yang juga merupakan bakteri penyebab gangguan pencernaan.

Pada sampel semangka juga ditemukan yeast dan mold atau ragi dan kapang. 

Mikroorganisme tersebut dapat menyebabkan makanan lebih cepat mengalami kerusakan atau pembusukan.

Jenis itu termasuk mikroorganisme mikrospis, yang termasuk dalam kerajaan (kingdom) Fungi (jamur).

Sementara itu, pemeriksaan terhadap air bersih yang berada di bak cuci menemukan adanya coliform.

Hadi mengatakan, hasil pemeriksaan tersebut telah dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN). SPPG Bandengan 5 juga telah dihentikan sementara.

“Sudah kami laporkan ke BGN dan sudah ditutup SPPG-nya. Kelanjutannya menunggu dari BGN,” ungkapnya pada Sabtu (8/8).

Terpisah, Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Jepara M Mustofa Wildan mengatakan, pihaknya melakukan sejumlah langkah setelah mendapatkan hasil pemeriksaan tersebut.

Salah satunya dengan melarang sementara penggunaan menu daging, dengan sumber yang sama seperti yang digunakan pada menu SPPG Bandengan 5.

“Sementara kami melarang penggunaan menu daging dengan sumber yang sama dari menu SPPG tersebut,” sambungnya.

Selain itu, pengawasan terhadap proses penyediaan makanan juga ditingkatkan. 

Pengecekan sanitasi, khususnya terhadap sumber air yang digunakan dalam proses pengolahan makanan, turut dilakukan.

“Kami melakukan peningkatan pengawasan serta pengecekan sanitasi, khususnya sumber air yang dipakai dalam mengolah MBG,” ucapnya.

Wildan menambahkan, laporan mengenai perkembangan kasus tersebut masih disampaikan kepada pimpinan BGN.

Terkait kemungkinan pencabutan izin SPPG, ia menyebut keputusan tersebut bukan berada di tingkat daerah.

“Pencabutan izin yang berhak memberi keputusan dari pimpinan (BGN, red),” ujarnya.

Menurutnya, pihaknya masih menunggu arahan lebih lanjut dari pimpinan BGN, mengenai penanganan kasus SPPG Bandengan 5.

“Sementara kami masih menunggu petunjuk untuk kasus di Jepara ini,” pungkasnya.(fik)

Editor : Ali Mustofa
SPPG Jepara Ditutup Ratusan siswa-guru keracunan menu mbg meracuni siswa SMPN 2 Jepara keracunan mbg