Sejumlah Warga Komplain Aktivitas Pondok Ash Babussyifa Jerukwangi, Pengasuh Berikan Tanggapan Terbuka

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 23:11 WIB
BERIZIN: Tampak depan Pondok Pesantren Ash Babussyifa Warohmah di Desa Jerukwangi, Bangsri, pada Jumat (7/8). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
BERIZIN: Tampak depan Pondok Pesantren Ash Babussyifa Warohmah di Desa Jerukwangi, Bangsri, pada Jumat (7/8). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

BANGSRI — Keberadaan Pondok Pesantren Ash Babussyifa Warohmah di Desa Jerukwangi, Kecamatan Bangsri, dikeluhkan sejumlah warga. 

Berbagai persoalan yang dinilai mengganggu kenyamanan dan keamanan lingkungan. Hal itu disampaikan masyarakat dalam musyawarah yang digelar di Posyandu RW 7 Desa Jerukwangi, Selasa (4/8) lalu.

Salah satu warga, Burham memimpin jalannya musyawarah beserta 35 warga. 

Pertemuan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas berbagai aduan masyarakat terkait aktivitas pondok pesantren.

Sejumlah keluhan yang muncul seperti misalnya pengelolaan pondok yang dinilai tertutup, aktivitas santri yang kerap berteriak hingga mengganggu warga.

Penggunaan pengeras suara yang dianggap tidak memperhatikan kondisi lingkungan, hingga dugaan penampungan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), yang dinilai tidak mendapatkan penanganan sebagaimana mestinya.

Menurut warga, keberadaan ODGJ di lingkungan pondok beberapa kali menimbulkan keresahan. Karena ada yang keluar dari area pondok, berkeliling di permukiman, bahkan masuk ke pekarangan rumah warga.

Selain itu, warga juga mengaku pernah mendengar teriakan minta tolong dari dalam pondok, melihat adanya pelemparan meja mengaji dari lantai atas bangunan, hingga pelemparan batu dari area pondok. 

Beberapa santri juga disebut pernah meminta rokok secara paksa di warung warga, disertai perilaku mengancam.

Warga juga mempertanyakan keterbukaan pengelola pondok. Ketua RT disebut pernah meminta data santri, namun hingga kini data tersebut belum diberikan.

Pemicu menguatnya keberatan masyarakat ialah meninggalnya seorang santri sepekan yang lalu.

Di tengah masyarakat beredar dugaan bahwa korban meninggal akibat dianiaya santri lain, yang diduga mengalami gangguan kejiwaan.

Dalam musyawarah, masyarakat meminta aparat melakukan investigasi secara menyeluruh. Agar penyebab kematian dapat dipastikan, termasuk memastikan ada atau tidaknya dugaan tindak penganiayaan.

Namun demikian, berdasarkan hasil klarifikasi yang disampaikan pihak kepolisian dalam forum tersebut, santri yang meninggal diketahui memiliki riwayat penyakit epilepsi atau ayan. 

Polisi juga telah meminta keterangan kepada keluarga korban, yang menyampaikan bahwa korban memang memiliki riwayat gangguan kejiwaan.

Meski demikian, sebagian warga tetap berharap seluruh proses, termasuk pemeriksaan medis maupun penyelidikan yang diperlukan, dilakukan secara menyeluruh agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

Sekretaris Desa Jerukwangi, Nur Kholis, mengatakan pemerintah desa sedang menyiapkan surat resmi, kepada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara, sebagai tindak lanjut atas hasil musyawarah warga.

"Kami membuat konsep surat sebagai tindak lanjut dari aduan masyarakat yang merasa terganggu dan kurang nyaman. Karena itu  dilakukan rapat bersama warga," tuturnya.

Ia mengatakan, pemerintah desa tidak ingin terburu-buru mengirimkan surat, tanpa memastikan seluruh isi aduan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

"Saya bersama Petinggi sudah konsultasi ke KUA. Aduan masyarakat terkait pondok pesantren nantinya akan kami sampaikan ke Kemenag, agar dilakukan monitoring dan diketahui duduk persoalannya seperti apa," ucapnya.

Kendati demikian, pihaknya hendak melakukan tabayyun serta muhasabah terlebih dahulu dengan warga lain. Terutama dengan warga yang berada di sekitar pondok pesantren.

Nur Kholis menambahkan, hingga saat ini pemerintah desa masih melakukan pendataan dan penelusuran lebih lanjut. Mengenai kejelasan informasi yang disampaikan dalam musyawarah.

Pihaknya juga mengimbau masyarakat tetap menjaga situasi kondusif, tidak mudah terprovokasi, dan menyerahkan proses penyelesaian kepada pihak yang berwenang.

"Sebelum surat kami kirim ke Kemenag, kami akan menelusuri warga secara door to door. Kami harus hati-hati, jangan sampai membuat surat yang isinya tidak sesuai dengan kenyataan," sebutnya.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Ash Babussyifa Warohmah di Desa Jerukwangi Ahmad Prayitno (54), menyambut baik kedatangan Radar Kudus pada Jumat (7/8).

Ia bahkan mengenalkan sejumlah santri yang memiliki gejala psikologis serta disebut anak nakal.

Pondoknya, sebut Kiai Prayitno, memang berbeda dengan ponpes pada umumnya.

Selain ngaji kitab kuning serta hafalan Alquran, iya bersama dengan sang istri, Ibu Nyai Rofiah (46) mencurahkan waktunya untuk mengasuh para anak yatim maupun orang dengan gangguan jiwa. 

Hal tersebut dilakukannya sejak setidaknya tahun 1997. Baru kemudian tahun 2017, dapat membangun gedung yang memadai. 

Pada 2021, pondok tersebut mengandung izin resmi dari Kemenag RI.

Sejak awal, Kiai Prayitno juga menceritakan rekam jejaknya nyantri dari Pati, Rembang hingga Ploso Kediri.

Ia mengaji dengan para Kiai sepuh, serta mendapatkan sanad keilmuan secara bersambung.

"Salah satu santri yang meninggal, berasal dari Bawu, Kecamatan Batealit. Dibawa ke sini sejak awal Ramadan, dan sakit epilepsi sudah kronis. Di rumah berkali-kali kambuh, sampai di sini malah berangsur pulih," ucapnya.

Mengetahui sang putra berangsur pulih, orang tua pun merasa senang. 

"Tapi waktu hari Kamis (30/7), setelah salat Zuhur, seketika ngosek (kambuh, red). Lalu kemudian pingsan, kami pun membawanya ke rumah sakit, tapi ternyata tidak tertolong," ucapnya.

Pihaknya menampik jika dilakukan penganiayaan oleh santri lain. Ia menyebut kini terdapat setidaknya 14 santri putra yang berada di pondok pesantren di Desa Jerukwangi tersebut.

"Usai menghembuskan nafas terakhir, ibunya datang, serta menerimakan dan membawanya pulang untuk dikebumikan. Pada pukul 21.00 malam dikubur. Banyak yang bersaksi, Baru kali ini ada mayit yang wangi, bahkan orang yang menggali kuburnya," ujarnya.

Pada hari Senin (3/8), pihaknya didatangi pihak kepolisian. Di mana mengungkap laporan masyarakat serta kenyataan jauh berbeda, bertolak belakang dari kejadian sebenarnya.

"Tidak ada apa-apa sama sekali. Soal santri yang meninggal karena memang punya riwayat epilepsi," katanya.

Kiai Prayitno juga menceritakan, memang terdapat sejumlah tetangga yang benci akan keberadaan pondok yang menampung ODGJ.

"Pondok ini diresmikan Bupati Marzuki tanggal 9 Desember 2017. Santri miskin, yatim, anak nakal, preman saya terima. Saya obati, saya tata semua. Ketika sembuh, pulang," ujarnya.

Ia juga menunjukkan salah satu santri putra yang tuna grahita maupun anensefali atau tanpa bagian otak tertentu. Dengan telaten Kiai Prayitno mendidiknya, mengajari sopan santun, serta kasih sayang. 

"Iya, misi kami memang memanusiakan manusia. Jika semua pondok pesantren hanya menerima orang baik-baik, lalu bagaimana orang yang seperti ini?" tandasnya.(fik)

Editor : Admin
santri yatim Ash Babussyifa Warohmah Jerukwangi Pesantren inklusif Rangkul dan sembuhkan ODGJ pondok pesantren