Harlah ke-35 Unisnu Jepara Pacu Reputasi Global: Mahasiswa Asing dan Dosen Doktor Bertambah, Akreditasi Unggul Meningkat

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 18:27 WIB
KHIDMAT: Paparan oleh Rektor Unisnu Jepara Abdul Djamil dalam rangka peringatan Harlah ke-35 pada Kamis (6/8). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
KHIDMAT: Paparan oleh Rektor Unisnu Jepara Abdul Djamil dalam rangka peringatan Harlah ke-35 pada Kamis (6/8). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Tahun baru harapan baru. Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara menjadikan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-35, sebagai momentum memantapkan langkah, menuju perguruan tinggi berdaya saing global. 

Dalam satu tahun terakhir, kampus di bawah naungan Yayasan Perguruan Tinggi Islam Nahdlatul Ulama (Yaptinu) Jepara tersebut menorehkan berbagai capaian.

Mulai dari meningkatnya jumlah program studi berakreditasi unggul, bertambahnya dosen bergelar doktor, naiknya jumlah mahasiswa baru, hingga meluasnya jejaring kerja sama internasional.

Rektor Unisnu Jepara, Prof. Dr. H. Abdul Djamil, M.A mengatakan, tema besar yang diusung kampus saat ini ialah memperkuat inovasi dan gagasan untuk memajukan institusi. 

Menurutnya, seluruh program telah dituangkan dalam peta jalan (roadmap) pengembangan kampus hingga tahun 2038.

Pada periode 2024–2028, Unisnu memprioritaskan penguatan ekosistem inovasi ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya menuju perguruan tinggi unggul berdaya saing global. 

Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara Prof. Dr. H. Abdul Djamil, M.A
Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara Prof. Dr. H. Abdul Djamil, M.A.

Kemudian pada 2028–2032, kampus akan memperluas kolaborasi global berbasis IPTEK, seni, budaya, serta kearifan lokal.

Tahap berikutnya, 2032–2035, difokuskan pada pemantapan reputasi dan inovasi berkelanjutan, sebelum akhirnya pada 2035–2038 Unisnu ditargetkan menjadi centre of excellence berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya yang mampu bersaing di tingkat dunia.

"Roadmap ini tidak boleh hanya menjadi kata-kata manis. Semuanya harus diwujudkan dalam kerja nyata yang terukur," tegasnya, pada Kamis (6/8).

Ia menjelaskan, peningkatan mutu akademik menjadi fokus utama. Pada tahun akademik 2024/2025, Unisnu memiliki tiga program studi berakreditasi unggul atau sekitar 14 persen dari seluruh program studi.

Kini, pada tahun akademik 2025/2026, jumlah tersebut meningkat menjadi lima program studi atau sekitar 23 persen.

Program studi yang telah meraih akreditasi unggul di antaranya Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Guru PAUD, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) serta Hukum Keluarga Islam (HKI). 

Sementara pada pertengahan Agustus mendatang, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis juga dijadwalkan menjalani asesmen akreditasi.

"Target kami akreditasi unggul terus bertambah sehingga Unisnu semakin kompetitif dan mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya," ucapnya.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga terlihat dari bertambahnya jumlah dosen bergelar doktor. 

Pada tahun akademik 2024/2025, dosen berkualifikasi S3 mencapai 40,27 persen. Kini meningkat menjadi 50,35 persen, sedangkan dosen berkualifikasi S2 tercatat 45,31 persen.

Menurut Abdul Djamil, capaian tersebut menunjukkan tingginya semangat para dosen untuk melanjutkan studi doktoral, baik di dalam maupun luar negeri. 

Kualifikasi dosen menjadi salah satu indikator penting, utamanya dalam meningkatkan kualitas akademik dan akreditasi perguruan tinggi.

Kepercayaan masyarakat terhadap Unisnu juga terus meningkat. Hal itu terlihat dari melonjaknya jumlah mahasiswa baru yang pada tahun akademik 2025/2026 mencapai 3.750 mahasiswa.

BERDAYA SAING: Sejumlah mahasiswa dari luar negeri yang turut berkuliah di Unisnu Jepara. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
BERDAYA SAING: Sejumlah mahasiswa dari luar negeri yang turut berkuliah di Unisnu Jepara. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Selain itu, Unisnu kini menjadi rumah bagi 13 mahasiswa asing yang berasal dari enam negara, yakni Pakistan (2 orang), Timor Leste (2), Yaman (2), Nigeria (1), Sudan (4), dan Afghanistan (2).

"Komitmen kami adalah mencerdaskan kehidupan antarbangsa. Siapa pun yang ingin belajar di Unisnu, kami terbuka menerima mereka," imbuhnya.

Di bidang internasionalisasi, Unisnu juga tengah menjalankan program double degree bersama Minghsin University of Science and Technology, Taipei, Taiwan.

Program tersebut diikuti oleh Arif Rachman Hakim, Fathinatul Labibah, dan Nando Nilna Muna. Ini menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman akademik mahasiswa di tingkat global.

Tak hanya itu, mahasiswa Unisnu juga menorehkan berbagai prestasi internasional melalui sejumlah kompetisi bergengsi, seperti International Moslem Youth Competition (IMYC), World Youth Invention and Innovation Award (WYIIA), World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2026, World Invention Competition and Exhibition (WICE), 6th Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO), hingga International Student Mobility Summer Camp & Conference 2026.

Prestasi tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa Unisnu bersaing di tingkat dunia melalui riset, inovasi, dan karya ilmiah.

Untuk memperkuat jejaring global, Unisnu juga memperluas kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi luar negeri.

Pada tahun akademik 2025/2026, kampus menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan Kattakurgan State Pedagogical Institute di Uzbekistan, Minghsin University of Science and Technology di Taiwan, serta Thai Global Business Administration Technology College di Thailand.

“Secara keseluruhan, Unisnu kini telah memiliki 27 kerja sama internasional dengan berbagai institusi di Asia, Eropa, Amerika, hingga Afrika yang mendukung kolaborasi pendidikan, penelitian, inovasi, dan pertukaran mahasiswa,” jelasnya.

Abdul Djamil juga menyoroti implementasi teknologi kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) di lingkungan kampus sebagai bagian dari transformasi menuju smart campus.

Melalui pengembangan Business Intelligence dan Generative AI, Unisnu menghadirkan sejumlah layanan digital seperti Knowledge Intelligence Assistant (KIA), sistem pelaporan kekerasan SAKTI, penerapan AI pada e-Curriculum, hingga One Stop Policy Reasoning (OSPR).

"Kami ingin membangun kultur kampus yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Sekarang mahasiswa maupun dosen tidak selalu harus datang ke kantor hanya untuk bertanya kepada petugas. Layanan berbasis AI sudah mulai kami terapkan," ujarnya.

Menurutnya, penguatan inovasi juga dilakukan melalui kolaborasi dengan dunia industri. 

Berbagai dialog terus dibangun untuk memetakan kebutuhan industri, khususnya pada bidang sains, teknologi, dan desain produk. 

Kolaborasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya melestarikan seni ukir Jepara melalui pendekatan akademik dan inovasi.

Sementara itu, Ketua Yaptinu Jepara Prof. Dr. H. Shodiq Abdullah, M.Ag, menegaskan bahwa seluruh capaian tersebut merupakan hasil sinergi berbagai pihak.

Menurutnya, yayasan akan terus memperkuat kemitraan dan kolaborasi, baik di tingkat nasional maupun internasional, guna mendukung pengembangan Unisnu.

"Kami ingin membangun pola interaksi yang sinergis. Semua yang kami lakukan adalah bentuk pengabdian dan ibadah, mengabdi kepada bangsa dan kemanusiaan. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi terhadap kemajuan Unisnu Jepara," sambungnya.

Ia juga menyebut pembangunan Kampus II seluas dua hektare menjadi salah satu langkah strategis, untuk mendukung pengembangan institusi di masa mendatang.

Senada, Ketua Senat Unisnu Jepara Dr. H. Mahalli, M.Pd mengatakan, perjalanan selama 3,5 dekade membuktikan bahwa Unisnu terus berkembang dan semakin dipercaya masyarakat.

Menurutnya, di tengah perubahan global yang berlangsung sangat cepat, perguruan tinggi dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebutuhan masyarakat.

"Harlah ke-35 ini bukan sekadar peringatan bertambahnya usia. Ini adalah momentum memperkuat komitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas jejaring, memperkuat riset, serta menjadikan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah sebagai landasan moral dalam pengembangan kampus," terangnya.

Mahalli berharap semangat kolaborasi dan budaya mutu terus menjadi fondasi sehingga Unisnu Jepara semakin unggul, bereputasi. Serta memiliki daya saing global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal yang menjadi jati dirinya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
Harlah Unisnu ke-35 Centre of Excellence Berdaya saing Kampus impian unisnu jepara