JEPARA — Temuan lama, penjelasan baru. Misteri asal-usul batu relief bermotif Kalabhairawa dan sulur-suluran yang ditemukan pada 2022 lalu di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, mulai menemukan titik terang.
Dari sudut pandang geologi, batu yang menjadi media pahatan tersebut diduga merupakan produk aktivitas vulkanik. Muncul kemungkinan berasal dari kawasan Gunung Muria purba.
Hal tersebut itu disampaikan oleh Dosen Teknik Geologi Universitas Diponegoro, Anis Kurniasih, saat mengikuti peninjauan lapangan bersama tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) di Desa Kriyan, pada Selasa (4/8).
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan pemetaan kawasan, menggunakan foto udara untuk mengidentifikasi sebaran temuan batu dan struktur bata.
Anis menjelaskan, dari sejumlah sampel batu yang diamati langsung di lapangan, karakteristiknya menunjukkan batuan hasil aktivitas gunung api.
Beberapa jenis batuan yang ditemukan antara lain batu tuf berbutir halus, batu pasir vulkanik berbutir lebih kasar, hingga batu andesit.
"Kalau struktur batanya tentu masuk kajian arkeologi. Sementara dari sisi geologi, berdasarkan pengamatan lapangan terhadap batuan aslinya, dapat disimpulkan sementara bahwa materialnya merupakan produk vulkanik," tuturnya.
Menurutnya, hampir seluruh batu yang ditemukan di sekitar lokasi, termasuk yang berada di dekat masjid Al Makmur Kriyan dan batu relief dua sisi, masih berada dalam satu kelompok batuan hasil proses vulkanisme.
Ia memprediksi, kemungkinan sumber material tersebut berasal dari aktivitas Gunung Muria pada masa lalu.
Kendati demikian, kemungkinan batuan berasal dari gunung api lain juga masih terbuka, sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut.
"Lokasi terdekat memang Gunung Muria yang pada masa itu (masa lampau, red) masih aktif. Kemungkinan berkaitan dengan Muria, tetapi tidak menutup kemungkinan material ini diangkut dari gunung api lain," imbuhnya.
Anis juga melakukan pengujian sederhana terhadap batu relief Kalabhairawa menggunakan larutan asam klorida (HCl).
Pengujian itu bertujuan mengetahui apakah batu tersebut termasuk batuan karbonatan atau bukan.
Hasilnya menunjukkan batu tidak bereaksi terhadap HCl, sehingga dipastikan bukan batuan karbonat.
Berdasarkan karakter fisiknya, batu tersebut lebih sesuai dikategorikan sebagai batu tuf atau batuan hasil endapan material vulkanik.
Artinya, secara sepintas material yang digunakan untuk membuat ornamen (dua sisi) pada masa lampau itu, memang berasal dari produk vulkanik.
Hal menarik lainnya, sambung Anis, ialah kondisi relief dua sisi yang tetap keras sekalipun batu tuf.
Umumnya, batu tuf bersifat rapuh. Namun pada temuan di Kriyan justru mengalami pengerasan alami.
Ia menduga telah terjadi proses geologi sekunder, seperti pengaruh panas vulkanik atau alterasi oleh air panas, yang membuat batuan menjadi lebih padat dan kuat.
"Ini menarik untuk diteliti lebih jauh karena karakter batuannya berbeda dengan tuf pada umumnya. Bisa jadi berkaitan dengan kedekatan terhadap sumber panas vulkanik atau proses alterasi yang terjadi setelah batu terbentuk," sebutnya.
Terkait penentuan umur temuan, Anis menegaskan bahwa penanggalan geologi, tidak serta-merta dapat menentukan usia relief atau kebudayaan yang membuatnya.
Menurutnya, metode seperti carbon dating umumnya dilakukan terhadap benda yang terdapat material organik.
Sementara batuan vulkanik memerlukan metode penanggalan berbeda, dengan menganalisis mineral yang terkandung di dalamnya.
"Bila yang ditentukan adalah umur batuannya, hasilnya bisa mencapai puluhan hingga ratusan ribu tahun. Namun itu bukan berarti usia relief atau budayanya juga sama. Untuk mengetahui kapan relief dipahat, diperlukan pendekatan arkeologi dengan metode yang berbeda," jelasnya.
Karena itu, Anis menilai penelitian geologi hanya menjadi salah satu bagian untuk mengungkap sejarah temuan di Desa Kriyan.
Kajian arkeologi tetap memegang peran utama dalam mengungkap konteks budaya, fungsi, hingga periode pembuatan relief dua sisi yang kini menjadi perhatian banyak orang tersebut.
Diharapkan terdapat penelitian lintas disiplin antara geolog, arkeolog, dan peneliti kebudayaan dapat segera dilakukan.
Agar asal-usul dan nilai sejarah temuan langka di Desa Kriyan dapat terungkap secara lebih utuh. Terutama mengenai dugaan situs ataupun Kerajaan Kalinyamat, maupun era dan peradaban yang jauh lebih tua.
Sementara itu, dalam sejumlah jurnal, tak sedikit yang mengulas mengenai jejak aktivitas dan misteri erupsi terakhir Gunung Muria. Sebagaimana kini berdiri di pesisir utara Jawa Tengah, yang menyimpan catatan geologi unik dalam sejarah vulkanologi Indonesia.
Berbeda dengan deretan gunung api aktif di jalur utama Pulau Jawa, Gunung Muria berada di zona busur belakang (back-arc), yang membuatnya memiliki karakteristik magma kaya kalium.
Pada masa lampau, wilayah ini merupakan pulau vulkanik terpisah, sebelum akhirnya sedimentasi material mengeringkan Selat Muria dan menyatukannya dengan daratan utama Jawa (Sunarto, 2008).
Meskipun saat ini Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengategorikannya sebagai gunung api purba yang tidak lagi aktif atau tidur panjang (dormant), misteri mengenai kapan letusan terakhirnya sempat menjadi fokus penelitian intensif para ahli.
Sebelumnya, kajian mendalam ini dipicu oleh rencana penempatan tapak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Semenanjung Muria. Untuk mengukur risiko bencana secara spasial, para ilmuwan melacak bukti-bukti geokronologi dan sisa material erupsi purba (McInnes dkk., 2003).
Berdasarkan kompilasi data vulkanologi global, aktivitas vulkanik terakhir di kompleks Muria diperkirakan terjadi pada sekitar rentang tahun 160 Sebelum Masehi (SM) hingga 300 Masehi (Simkin & Siebert, 1994).
Data tahun 160 SM ini pertama kali dikompilasi dalam katalog vulkanologi historis Indonesia oleh Neumann van Padang (1951).
Erupsi di masa purba tersebut menghasilkan bentang alam berupa struktur lingkaran kawah atau maar di beberapa titik lerengnya akibat interaksi magma dengan air bawah tanah (Bronto dkk., 2007).
Simpulan mengenai asal batu serta umur budaya yang melekat atas relief tersebut, masih memerlukan kajian lebih lanjut. Terutama untuk memastikan realitas historis serta konteks peradabannya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya