JEPARA — Sebanyak 123 orang yang terdiri atas 110 siswa dan 13 guru SMPN 2 Jepara dilaporkan mengalami gejala gangguan pencernaan, usai menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hingga Rabu (5/8), penyebab pasti insiden tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jepara, Muhammad Musthofa Wildan, mengatakan pihaknya pertama kali menerima laporan dari sekolah pada Selasa (4/8).
"Laporan kami terima pada Selasa. Dari sekolah disampaikan ada siswa SMPN 2 Jepara yang mengalami mual dan sakit perut," ujarnya, Rabu (5/8)
Wildan menjelaskan, berdasarkan penelusuran awal, para siswa mulai merasakan keluhan sejak Senin (3/8) malam, beberapa jam setelah mengonsumsi menu MBG yang disajikan pada Senin pagi.
Saat itu menu yang diberikan terdiri atas beef, teriyaki, tumis labu, sayur wortel, tempe goreng, dan semangka potong.
Laporan awal yang diterima SPPG pada Selasa (4/8) siang menyebutkan seorang siswa sempat memeriksakan diri ke Rumah Sakit PKU Aisyiyah Jepara.
Setelah itu, pihak sekolah bersama SPPG melakukan pendataan terhadap siswa yang mengalami gejala.
"Pada Selasa baru tercatat 47 orang yang melaporkan keluhan sakit perut dan diare. Per hari ini jumlahnya bertambah menjadi 123 orang, terdiri atas 110 siswa dan 13 guru," sebutnya.
Secara keseluruhan terdapat 1.112 yang menerima MBG dari SPPG Yayasan Cahaya Arjuna Bangsa atau Bandengan 5.
SPPG tersebut juga melayani setidaknya delapan sekolah. Namun, kasus gangguan pencernaan hanya ditemukan di SMPN 2 Jepara.
Kondisi itu menjadi salah satu dasar dugaan awal bahwa kontaminasi kemungkinan terjadi, setelah proses distribusi makanan hingga dikonsumsi siswa di sekolah.
"Informasi awal mengarah pada kemungkinan adanya kontaminasi dalam proses pengantaran sampai makanan dikonsumsi. Karena yang terdampak hanya SMPN 2 Jepara, sementara tujuh sekolah lainnya tidak ada laporan serupa," jelasnya.
Untuk memastikan penyebabnya, sampel makanan yang disajikan pada Senin telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) sejak Selasa (4/8).
SPPG juga menegaskan seluruh biaya pengobatan bagi siswa maupun guru, yang mengalami keluhan akan menjadi tanggung jawab pihaknya.
"Perawatan ditanggung. Sampai saat ini tidak ada yang menjalani rawat inap," ujarnya.
Meski terjadi dugaan keracunan, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis pada Rabu (5/8) tetap berjalan.
Namun, SPPG menyatakan siap mengikuti keputusan pemerintah pusat apabila nantinya diterbitkan surat penghentian sementara (suspend), sembari menunggu hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium.
"Hingga saat ini kami masih menunggu petunjuk dari pimpinan. Apabila nantinya keluar surat suspend, tentu akan kami laksanakan sesuai ketentuan," ucapnya.
Sementara itu, salah seorang guru SMPN 2 Jepara, Nita Gusti, memastikan kondisi siswa maupun tenaga pendidik yang sebelumnya mengalami keluhan kini telah berangsur pulih.
Aktivitas belajar mengajar pun kembali berjalan normal.
"Alhamdulillah anak-anak sudah sembuh dan kondisinya sudah terkendali. Bapak dan Ibu Guru juga sudah bisa mengajar seperti biasa," ujarnya.
Menurut Nita, makanan yang disajikan saat itu tidak hanya dikonsumsi para siswa, tetapi juga oleh para guru. Namun, tidak seluruh penerima makanan mengalami keluhan yang sama.
"Yang makan bukan hanya anak-anak, guru juga ikut makan. Tetapi memang tidak semua siswa maupun guru mengalami gejala. Mungkin kondisi kesehatan atau daya tahan tubuh masing-masing berbeda," katanya.
Ia menambahkan, situasi di SMPN 2 Jepara kini telah kondusif.
Seluruh kegiatan pembelajaran kembali berlangsung lancar.
Kini semua pihak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terkait penyebab pasti insiden tersebut.(fik)
Editor : Mahendra Aditya