Menjaga Energi dari Bawah Laut, PLN UIK Tanjung Jati B Tuntaskan Intake Pipe Inspection Jelang HUT ke-81 RI

Admin • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 14:30 WIB
TELITI: Petugas memantau aktivitas penyelam secara waktu nyata melalui CCTV dan sistem komunikasi bawah air saat inspeksi pipa intake Unit 2 PLTU Tanjung Jati B. Pemantauan ini membantu koordinasi pekerjaan, pendokumentasian kondisi pipa, serta memastikan keselamatan penyelam selama berada di bawah laut.
TELITI: Petugas memantau aktivitas penyelam secara waktu nyata melalui CCTV dan sistem komunikasi bawah air saat inspeksi pipa intake Unit 2 PLTU Tanjung Jati B. Pemantauan ini membantu koordinasi pekerjaan, pendokumentasian kondisi pipa, serta memastikan keselamatan penyelam selama berada di bawah laut.

JEPARA – Tidak semua pekerjaan untuk menjaga keandalan listrik terlihat dari permukaan. Di PLTU Tanjung Jati B, sebagian pekerjaan penting justru berlangsung di bawah laut. PLN UIK Tanjung Jati B melaksanakan intake pipe inspection dan perbaikan pipa air pendingin bawah laut Unit 2 sebagai bagian dari program planned outage 2026.

Pipa intake berfungsi mengalirkan air laut menuju sistem pendingin pembangkit. Air tersebut digunakan untuk mendukung proses pendinginan uap di kondensor agar siklus produksi listrik dapat berlangsung secara stabil dan efisien. Karena memiliki peran penting, kondisi pipa harus dipastikan tetap kuat, tidak mengalami kebocoran, dan mampu menjaga kelancaran pasokan air pendingin.

General Manager PLN UIK Tanjung Jati B, Andi Makkasau, mengatakan bahwa pemeriksaan pipa intake menjadi salah satu pekerjaan strategis dalam pemeliharaan Unit 2. Keandalan sistem pendingin, menurutnya, sangat berpengaruh terhadap kesiapan pembangkit saat kembali beroperasi.
“Pipa intake menjadi jalur awal yang memastikan kebutuhan air pendingin pembangkit tetap terpenuhi. Walaupun posisinya berada di bawah laut dan tidak terlihat, peralatan ini memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas dan keandalan operasi Unit 2,” ujar Andi.

Pemeriksaan dilakukan pada sejumlah segmen pipa atau spool 3 hingga 7. Hasil inspeksi menemukan beberapa bagian mengalami penipisan, sobek, dan berlubang. Tim juga menemukan material batu yang terbawa arus dan masuk melalui bagian pipa yang mengalami kerusakan. Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim teknis untuk segera melakukan tindakan perbaikan agar tidak mengganggu aliran air menuju sistem pendingin.

Perbaikan dilaksanakan dengan memasang 52 pelat penguat atau bended plate berukuran sekitar 150 sentimeter × 300 sentimeter. Pemasangan dilakukan melalui metode underwater welding oleh tenaga penyelam yang memiliki kompetensi khusus.

“Pekerjaan bawah laut membutuhkan ketelitian, kesiapan peralatan, dan koordinasi yang sangat baik. Setiap tahapan harus dilakukan berdasarkan hasil inspeksi agar pelat penguat terpasang pada posisi yang tepat dan mampu melindungi bagian pipa yang mengalami penurunan kondisi,” jelas Andi.

Keselamatan menjadi prioritas utama selama pekerjaan berlangsung. Setiap penyelam diwajibkan berada dalam kondisi fit to work, memiliki sertifikat kompetensi, dan menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja. Tim juga menyiapkan sistem komunikasi bawah air, CCTV, peralatan penyelaman, serta prosedur isolasi sistem sebelum penyelam memasuki area pekerjaan.

Kondisi arus, gelombang, dan kecepatan angin terus dipantau selama pekerjaan. Aktivitas penyelaman dihentikan apabila kondisi perairan melampaui batas aman yang telah ditentukan. Penerapan prosedur tersebut menjadi bagian dari komitmen PLN untuk memastikan pekerjaan selesai tanpa mengabaikan keselamatan personel.

Editor : Admin
planned autage jepara pln PLTU Tanjung Jati B