BRIN Lakukan Penjajakan Awal Potensi Temuan Arkeologi di Kriyan Jepara, Petakan Lanskap Kawasan dengan Foto Udara

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 18:59 WIB
PEMETAAN: Peneliti dari BRIN beserta Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta ahli Geologi, melakukan tinjauan di Kawasan Langgar Bubrah Desa Kriyan pada Selasa (4/8). Lokasi ini merupakan tempat ditemukannya ornamen dua sisi bermotif Kalabhairawa serta Sulur-suluran beberapa waktu lalu. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 
PEMETAAN: Peneliti dari BRIN beserta Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta ahli Geologi, melakukan tinjauan di Kawasan Langgar Bubrah Desa Kriyan pada Selasa (4/8). Lokasi ini merupakan tempat ditemukannya ornamen dua sisi bermotif Kalabhairawa serta Sulur-suluran beberapa waktu lalu. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 

JEPARA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai melakukan penjajakan awal terhadap potensi temuan arkeologi di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan. 

Langkah tersebut dilakukan dengan memetakan titik temuan, sekaligus menyusun gambaran lanskap kawasan melalui foto udara.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (4/8) ini merupakan tindak lanjut, setelah Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat bersama Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah Riris Purbasari dan tim peneliti BRIN meninjau temuan relief batu dua sisi di Desa Kriyan pada Minggu (2/8).

Peneliti BRIN dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan (PR ALMBB), Ida Bagus Putu Prajna Yogi, menyampaikan kunjungannya ke Kriyan merupakan bagian dari penjajakan awal. Terutama untuk menindaklanjuti sejumlah temuan yang muncul di lokasi.

"Kebetulan kami sedang melakukan riset di Patiayam, Kudus. Setelah ada kunjungan Wakil Ketua MPR RI, BPK Jawa Tengah, dan beberapa tim BRIN ke lokasi temuan relief, kami melanjutkan ke sini untuk melakukan penjajakan awal terhadap potensi yang ada," ungkapnya, pada Selasa (4/8).

Tak tanggung-tanggung, pihaknya melakukan tinjauan di dua titik.

MENDETAIL: Proses pemetaan kawasan oleh BRIN, BPK beserta Pemerhati Sejarah Jepara, pada Selasa (4/8). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
MENDETAIL: Proses pemetaan kawasan oleh BRIN, BPK beserta Pemerhati Sejarah Jepara, pada Selasa (4/8). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Pertama, di kawasan Langgar Bubrah yang menjadi tempat ditemukannya relief bermotif Kalabhairawa serta Sulur-suluran, kemudian di situs Siti Hinggil.

Menurut Bagus, selain temuan relief batu di lokasi tersebut, juga ditemukan sebaran struktur bata merah yang cukup luas. 

Ia beserta tim, melakukan pemetaan kawasan dengan foto udara dari Langgar Bubrah beserta daerah sekitarnya.

"Di lapangan terlihat lanskap dengan sebaran struktur bata yang cukup luas. Di lokasi yang disebut masyarakat sebagai Langgar Bubrah, temuan batanya sangat banyak. Itu yang membuat kami datang ke sini untuk melihat lebih jauh," tuturnya.

Ia menjelaskan, hasil kunjungan tersebut masih berupa pendokumentasian awal. 

Bagus menambahkan, ia akan mendeskripsikan seluruh temuan, bila perlu juga menyusun rekomendasi sebagai bahan pertimbangan bagi pimpinan BRIN guna melakukan tinjauan lebih dalam.

"Saya sebatas melaporkan apa yang kami temukan, mendeskripsikan kondisinya, lalu membuat rekomendasi tindak lanjut. Harapannya dapat menjadi langkah awal untuk dilakukan riset arkeologi yang lebih komprehensif," jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, berdasarkan informasi masyarakat, kawasan Langgar Bubrah belum pernah menjadi objek penelitian arkeologi. 

DOKUMENTASI: Peneliti BRIN Ida Bagus Prajna Yogi melakukan pencatatan digital di lokasi Langgar Bubrah yang terdapat hamparan temuan struktur bata kuno. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
DOKUMENTASI: Peneliti BRIN Ida Bagus Prajna Yogi melakukan pencatatan digital di lokasi Langgar Bubrah yang terdapat hamparan temuan struktur bata kuno. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Meskipun di wilayah tersebut juga terdapat Situs Siti Hinggil, yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten pada 2018 lalu.

Ia menilai Desa Kriyan menyimpan banyak titik yang menarik untuk diteliti, mulai dari toponimi Langgar Bubrah, Siti Hinggil, hingga Gunung Mas. 

Berbagai lokasi tersebut selama ini juga dikaitkan oleh para pemerhati sejarah lokal, sebagai dugaan Kerajaan Kalinyamat.

Termasuk terdapat interpretasi kosmologi Jawa, mengenai bentang alam dan garis imajiner yang sejurus dengan Gunung Muria.

"Yang perlu diungkap adalah bagaimana bentuk permukiman kuno atau lanskap kawasan ini pada masa lalu. Dari laporan masyarakat, bata-bata merah tersebar di banyak titik di Desa Kriyan. Ini menjadi indikasi yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut," ucapnya.

Untuk itu, BRIN tidak hanya mempelajari titik-titik temuan secara terpisah, tetapi juga memetakan hubungan antarwilayah melalui pendekatan lanskap.

"Langkah awal kami adalah memahami ruang, bukan hanya ruang mikro, tetapi juga meso hingga makro. Kalau berbicara permukiman kuno, kami harus melihat korelasi antarruang, sistem sungai, saluran buatan, hingga pembagian ruang alami maupun buatan," terangnya.

PEDULI: Peneliti BRIN, Perwakilan BPK, Ahli Geologi beserta warga Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan meninjau Situs Siti Hinggil pada Selasa (4/8).(FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
PEDULI: Peneliti BRIN, Perwakilan BPK, Ahli Geologi beserta warga Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan meninjau Situs Siti Hinggil pada Selasa (4/8).(FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Melalui pemetaan udara dan pencitraan detail, ia berharap memperoleh gambaran utuh. Mengenai pola ruang kawasan yang nantinya menjadi dasar penentuan arah penelitian arkeologi berikutnya.

"Ketika foto udara dan pencitraan sudah dilakukan secara mendetail, paling tidak kami memiliki gambaran mengenai ruang dan langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya," katanya.

Hasil penjajakan awal tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada pimpinan BRIN, BPK Jawa Tengah, serta Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan tindak lanjut penelitian dan upaya pelestarian potensi arkeologi di Desa Kriyan.

Sebagaimana diketahui bersama, jika situs tersebut berkaitan dengan sosok dan kepemimpinan Ratu Kalinyamat, hal ini tentu dapat memperkuat statusnya, sejak ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2023 lalu.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
Kerajaan Kalinyamat Kriyan Kalinyamatan Struktur kuno BRIN Lakukan Tinjauan Awal Temuan Arkeologis