Makam Mbah Dero Dibangun secara Swadaya, Diharapkan Menjadi Wisata Religi Persebaran Islam Era Walisongo

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 19:01 WIB
PEDULI: Para warga tengah melakukan pembangunan di kompleks Makam Mbah Dero pada Senin (3/8. I(FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 
PEDULI: Para warga tengah melakukan pembangunan di kompleks Makam Mbah Dero pada Senin (3/8. I(FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 

JEPARA — Warga bersama unsur Pemerintah Desa dan tokoh masyarakat Desa Tedunan, bergotong royong menggalang dana untuk merehabilitasi kompleks makam Mbah Dero. 

Perbaikan dilakukan secara swadaya, agar makam yang selama ini menjadi tujuan peziarah memiliki fasilitas yang lebih layak.

Sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata religi. Terutama berkenaan dengan periodisasi persebaran Islam di masa lampau, sekitar tahun 1300-an.

Salah seorang warga RT 1/RW 1 Desa Tedunan, Kecamatan Kedung, Sujud (66), mengatakan kondisi bangunan makam saat ini dinilai belum memadai, untuk menampung peziarah yang datang dari berbagai daerah. 

Baca Juga: Pemda Jepara Akan Bahas Permohonan Manajemen Persijap untuk Penggratisan Biaya Sewa Stadion

Karena itu, masyarakat berinisiatif melakukan rehabilitasi dengan mengandalkan bantuan sukarela dari warga dan para dermawan.

"Bangunan makam sudah lama dan perlu diperbaiki agar lebih nyaman bagi para peziarah," ungkapnya, pada Senin (3/8).

Menurut Sujud, makam Mbah Dero ramai dikunjungi peziarah, terutama pada bulan Ruwah menjelang Ramadan. 

Termasuk saat prosesi sedekah bumi desa setempat.

Acara biasanya dimulai sekitar pukul 06.00 WIB dan dihadiri peziarah dari berbagai daerah, seperti Jepara, Kudus, Demak, hingga wilayah lain di Jawa Tengah.

Sujud menuturkan, berdasarkan riwayat yang diketahui warga, tertuang dalam cerita desa, Mbah Dero masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sunan Muria. 

Bahkan, panjang makamnya disebut hampir sama dengan makam Sunan Muria.

Ia juga menyebut, tak jarang, seorang peneliti dari Jakarta yang meninjau lokasi menyebut makam Mbah Dero memiliki nilai sejarah yang penting. Sebagai bagian dari jejak peradaban Islam Nusantara di pesisir utara Jawa.

Menurutnya, karakter nisan Mbah Dero tergolong unik.

Nisan berukuran besar dan panjang tersebut tampak tua dengan material yang menyerupai batu karang. 

Baca Juga: Pemkab Jepara Usulkan Rehab SDN 1 Tedunan ke Kemendikdasmen

Bentuknya berbeda dari nisan makam-makam pada umumnya.

Keberadaan makam Mbah Dero juga dinilai menarik, karena lokasinya hanya berjarak sekitar enam kilometer dari kompleks Makam Mbah Colo, berlokasi di Desa Sowan Lor yang memiliki nisan berlanggam Samudra Pasai. 

Karakter nisan khas Samudra Pasai tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-14.

Kondisi ini memperkaya sudut pandang mengenai persebaran Islam pada masa lampau, khususnya di wilayah pesisir utara Jawa.

Melalui rehabilitasi yang dilakukan secara swadaya, masyarakat berharap kompleks makam Mbah Dero menjadi lebih representatif bagi peziarah.

Sekaligus mampu berkembang sebagai salah satu destinasi wisata religi di Kabupaten Jepara. Tanpa menghilangkan nilai sejarah dan budaya yang dimilikinya.

“Ya semoga ada hasil penelitian yang dapat mengungkap identitas yang sebenarnya mengenai makam-makam kuno ini,” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
Nisan samudra pasai makam mbah dero makam mbah colo persebaran Islam masa lampau Nisan abad ke-14