Belajar dari Rumah ke Rumah, Cara Siswa SDN 1 Tedunan Tetap Menuntut Ilmu

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 17:23 WIB
SEMPIT: Siswa-siswi SDN 1 Tedunan terpaksa harus belajar di rumah warga pada Senin (3/8), usai atap sekolah ambrol pada 12 Juli lalu. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
SEMPIT: Siswa-siswi SDN 1 Tedunan terpaksa harus belajar di rumah warga pada Senin (3/8), usai atap sekolah ambrol pada 12 Juli lalu. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Hampir tiga pekan setelah atap bangunan SDN 1 Tedunan, Kecamatan Kedung, ambrol, aktivitas belajar mengajar belum kembali normal. 

Demi menjamin keselamatan guru dan peserta didik, pihak sekolah terpaksa memindahkan kegiatan belajar murid. Dari rumah-rumah warga di sekitar sekolah.

Suasana belajar tampak terbatas pada Senin (3/8). Tiga kelas, meliputi kelas IV, V dan VI harus menjalani kegiatan pembelajaran di ruang tamu milik warga, yang berlokasi di belakang sekolah.

Di ruangan sempit yang rata-rata hanya berukuran sekitar 3 x 8 meter itu, ruangan terasa sesak.

Guru kelas pun, tak jarang, harus menyibakkan kertas ke area leher. Hawa panas menyerang tubuh. Panas kempranyas.

SESAK: Para siswa SDN 1 Tedunan kelas IV, V dan VI terpaksa melakukan pembelajaran di rumah-rumah warga di RT 1/RW 3, Desa Tedunan karena atap ruangan sekolah ambrol pada 12 Juli lalu. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
SESAK: Para siswa SDN 1 Tedunan kelas IV, V dan VI terpaksa melakukan pembelajaran di rumah-rumah warga di RT 1/RW 3, Desa Tedunan karena atap ruangan sekolah ambrol pada 12 Juli lalu. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Tak kurang akal, salah satu guru menjelaskan siklus fotosintesis dengan suasana di dalam kelas tersebut. Tak ayal, penjelasan terkait produksi oksigen dan karbon dioksida itu menjadi lebih masuk akal. Mudah dimengerti, meski dengan proses pembelajaran yang serba terbatas tersebut.

Selama proses kegiatan belajar mengajar tersebut, para siswa juga harus membawa meja belajar sendiri. 

Sementara itu, karena ruangan yang digunakan berkapasitas terbatas, siswa harus berdempet-dempetan. Nyaris tanpa celah.

Di sisi lain, bangunan sekolah yang rusak masih menyisakan ancaman. Tembok ruang kelas tampak mengalami keretakan. Menjalar, dari bagian atap hingga sisi lainnya.

Besi yang menjadi kerangka atap juga telah melengkung, mengombak. Sedangkan rangka kayu dan plafond telah ambrol di beberapa sisi.

Kepala SDN 1 Tedunan, Kresna Amiruddin, mengatakan keselamatan peserta didik menjadi pertimbangan utama sejak insiden atap roboh pada Minggu (12/7) lalu. Beruntung, ambrolnya atap terjadi saat libur sekolah.

"Semenjak kejadian atap roboh, kami segenap guru dan staf langsung bertindak cepat merelokasi anak-anak demi keselamatan dalam proses pembelajaran," ungkapnya, pada Senin (3/8).

MANDIRI: Para siswa harus membawa meja belajar sendiri dari rumah, agar dapat mengikuti pembelajaran di rumah warga. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
MANDIRI: Para siswa harus membawa meja belajar sendiri dari rumah, agar dapat mengikuti pembelajaran di rumah warga. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Sebelumnya, saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada 13–17 Juli 2026, seluruh kegiatan dilaksanakan di halaman sekolah. 

Pihak sekolah tidak berani menggunakan ruang kelas yang terdampak, karena dikhawatirkan terjadi keruntuhan susulan.

Sejak Senin, (13/7), guru bersama tenaga kependidikan juga mengevakuasi mebel, dokumen penting, serta peralatan elektronik dari ruang kantor maupun ruang kelas untuk menghindari kerusakan.

Mulai Senin, 20 Juli 2026, kegiatan belajar mengajar untuk siswa kelas IV, V, dan VI dipindahkan ke rumah warga, yang berada di belakang sekolah. Tepat setelah pihak sekolah berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Tedunan beserta para wali murid.

Semula kegiatan belajar dipindah ke salah satu pondok pesantren tak jauh dari lokasi. Tiga hari pertama memanfaatkan bangunan pondok, tapi kemudian kegiatan pembelajaran dipindah ke rumah warga lainnya.

"Sementara ada tiga kelas yang kami relokasi di rumah warga, tepatnya di belakang sekolah, di rumah Pak Abdul Kholik. Kelas IV, V, dan VI sementara waktu belajar di sana," imbuhnya.

Total siswa di SDN 1 Tedunan sendiri, sebanyak 157 orang.

PANTANG MENYERAH: Guru beserta peserta didik di SDN 1 Tedunan Kecamatan Kedung, tetap melakukan pembelajaran, meski atap ruang kelas ambrol. Pembelajaran dilakukan di rumah warga di sekitar sekolah. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
PANTANG MENYERAH: Guru beserta peserta didik di SDN 1 Tedunan Kecamatan Kedung, tetap melakukan pembelajaran, meski atap ruang kelas ambrol. Pembelajaran dilakukan di rumah warga di sekitar sekolah. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Sebanyak 84 siswa terdampak relokasi tersebut, terdiri atas 28 siswa kelas IV, 29 siswa kelas V, dan 27 siswa kelas VI.

Sementara itu, siswa kelas I, II, dan III masih menempati ruang sekolah yang dinilai relatif lebih aman.

Namun, menurut Kresna, kondisi tersebut tetap berisiko. Sehingga kini, pihaknya tengah berupaya mencari lokasi relokasi tambahan.

"Tidak menutup kemungkinan kelas I, II, dan III juga akan direlokasi. Yang kami utamakan keselamatan anak nomor satu. Pembelajaran harus tetap berjalan sehingga hak anak untuk belajar tetap terpenuhi," tegasnya.

Kondisi rumah warga yang digunakan sebagai ruang belajar, lanjut Kresna, belum memenuhi standar sebagai tempat pembelajaran. 

Ruang yang sempit membuat siswa harus membawa meja belajar sendiri dari rumah.

"Tempat relokasi sekarang tidak representatif. Anak-anak terpaksa membawa meja belajar sendiri. Selain itu juga mengganggu kenyamanan pemilik rumah. Kami berharap pemerintah segera merehabilitasi bangunan sekolah, karena saat ini kami tidak punya pilihan lain selain memanfaatkan rumah warga," pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
SDN 1 Tedunan buruh rehabilitasi usulkan bantuan perbaikan sekolah sekolah rusak atap ambrol