JEPARA – Menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, PLN UIK Tanjung Jati B terus memperkuat keandalan pembangkit melalui pelaksanaan pemeliharaan terencana atau planned outage Unit 2 PLTU Tanjung Jati B.
Salah satu pekerjaan strategis dalam kegiatan tersebut adalah turbine inspection atau inspeksi menyeluruh pada peralatan turbin.
General Manager PLN UIK Tanjung Jati B, Andi Makkasau, mengatakan bahwa semangat Kemerdekaan Indonesia diwujudkan PLN melalui kerja nyata dalam menjaga keandalan pasokan listrik.
Pemeliharaan pembangkit menjadi bagian penting untuk memastikan sistem kelistrikan tetap andal dalam mendukung aktivitas masyarakat, pelayanan publik, dan pertumbuhan ekonomi.
Pekerjaan turbine inspection Unit 2 meliputi penggantian Main Stop Valve (MSV) serta pemeriksaan terhadap Control Valve (CV), Reheat Stop Valve (RSV), dan Intercept Control Valve (ICV).
Komponen-komponen tersebut memiliki peranan penting dalam mengatur dan mengisolasi aliran uap menuju turbin sekaligus mendukung sistem proteksi ketika terjadi kondisi operasi yang tidak normal.
Proses pemeriksaan dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pembongkaran, pembersihan komponen MSV, pemeriksaan kondisi seat valve menggunakan metode non-destructive testing berupa penetrant test, hingga pemasangan cassette MSV baru.
Pemeriksaan juga mencakup main valve, extraction steam check valve, serta pelayanan terhadap katup-katup pendukung turbin.
Selain pemeriksaan mekanis, tim melakukan kalibrasi sekitar 35 turbine control valve, penggantian aktuator pada sistem Low Pressure Bypass dan High Pressure Bypass, serta penggantian dan kalibrasi modul antarmuka katup utama turbin pada sistem Digital Electro-Hydraulic Control atau DEHC.
Rangkaian pekerjaan ini ditujukan untuk meningkatkan akurasi respons katup, keandalan sistem kontrol, dan keselamatan pengoperasian turbin.
“Turbin merupakan salah satu peralatan utama yang mengubah energi uap menjadi energi mekanis untuk menggerakkan generator. Oleh karena itu, setiap komponen harus diperiksa secara presisi agar mampu bekerja dengan respons yang tepat, stabil, dan aman saat unit kembali dioperasikan,” jelas Andi.
Planned outage Unit 2 berlangsung sejak 28 Juni 2026 dan ditargetkan selesai pada 11 Agustus 2026, dengan durasi maksimal 45 hari. Secara keseluruhan, program tersebut mencakup 1.034 work order, melibatkan lebih dari 1.150 pekerja, serta didukung oleh 30 perusahaan kontraktor.
Selain inspeksi turbin, pekerjaan utama mencakup pemeriksaan generator, perbaikan pipa circulating water, penggantian pipa boiler, serta overhaul peralatan pendukung pembangkit.
Pelaksanaan pekerjaan mengacu pada prinsip 5 ON, yaitu On Safety, On Time, On Scope, On Quality, dan On Cost. Setelah pemeliharaan selesai, keandalan unit ditargetkan berada pada tingkat yang sama atau lebih baik dibandingkan kondisi sebelumnya, dengan kemampuan operasi mencapai 660,8 megawatt atau lebih baik serta tingkat efisiensi pembangkit yang tetap terjaga.
Aspek keselamatan menjadi prioritas utama dengan sasaran zero accident, tidak terjadi kasus pertolongan pertama, tidak ada insiden keamanan, serta terpenuhinya seluruh parameter lingkungan.
Pengawasan pekerjaan dilakukan melalui safety induction, toolbox meeting, inspeksi lapangan secara berkala, penerapan permit to work, dan pemantauan aktivitas pada area prioritas melalui CCTV secara waktu nyata.
Andi menegaskan bahwa kolaborasi antara PLN, pengelola pembangkit, tenaga ahli, dan seluruh mitra kerja menjadi faktor penting dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai target.
“Dirgahayu Republik Indonesia. Dengan semangat kolaborasi dan keselamatan, kami optimistis pemeliharaan Unit 2 dapat diselesaikan tepat waktu, tepat mutu, dan memberikan hasil terbaik. Inilah bagian dari komitmen PLN untuk terus menjaga energi yang menggerakkan kemajuan Indonesia,” tutup Andi.
Editor : Ali Mustofa