Menggali Jejak Kerajaan Kalinyamat V: Lestari Moerdijat, BRIN, BPK Jawa Tengah Telusuri Temuan Arkeologis

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 19:28 WIB
PEDULI: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat didampingi Kepala BPK Jawa Tengah Riris Purbasari dan Peneliti BRIN Retno Handini meninjau temuan relief dua sisi di Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan, pada Minggu (2/8). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 
PEDULI: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat didampingi Kepala BPK Jawa Tengah Riris Purbasari dan Peneliti BRIN Retno Handini meninjau temuan relief dua sisi di Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan, pada Minggu (2/8). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS) 

KALINYAMATAN — Sejarah seputar Jepara masih belum tuntas tersusun dan dibaca. Namun, kini, upaya penelusuran atas periodisasi dan babak demi babak, terus dilakukan.

Tidak hanya seputar sosok Ratu Kalinyamat pada abad ke-16, namun juga era sebelumnya. Peralihan Hindu-Buddha menuju Islam, begitupun masa klasik.

Suasana di kawasan Langgar Bubrah, Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, pada Minggu (2/8) berbeda dari biasanya. 

Usai ramai temuan relief atau ornamen dua sisi bermotif Kalabhairawa serta Sulur-suluran beberapa waktu lalu, kini terus memantik perhatian oleh banyak pihak.

Temuan itu membuat masyarakat kembali menoleh pada sejarah panjang Kalinyamatan, wilayah yang diriwayatkan pernah menjadi pusat kekuasaan Ratu Kalinyamat.

Harapan untuk mengungkap jejak masa lalu itu mendapat dukungan lebih luas. 

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah, akademisi, hingga pemerhati sejarah untuk ambil peran. Menelusuri lebih jauh asal-usul temuan di Kriyan tersebut.

MISTERI: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat didampingi para peneliti meninjau lokasi situs Langgar Bubrah yang juga terdapat makam kuno. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
MISTERI: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat didampingi para peneliti meninjau lokasi situs Langgar Bubrah yang juga terdapat makam kuno. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Relief atau ornamen tersebut menjadi simpul penting. Tampak menandai peradaban yang merintangi kejayaan Jepara di masa lampau.

Sebelumnya, pada 2022 warga menemukan batu berukir pada dua sisi itu, yang diduga merupakan bagian dari struktur bangunan kuno. Sejenis batu andesit putih itu, diduga merupakan bagian dari relief bertutur yang melekat pada satu bangunan pemujaan.

Temuan tersebut kemudian menjadi bahan pembahasan. Dari mulut ke mulut, hingga kini BPK Jawa Tengah serta BRIN turun tangan.

Lestari Moerdijat, mengatakan Jepara memiliki kekayaan sejarah yang mempesona. Tak hanya sebagai realitas historis, tapi juga sebagai bagian warisan ilmu pengetahuan dan peradaban. Di antaranya mengenai keterampilan mengukir, dan kecakapan berdagang masyarakat.

Menurutnya, temuan baru menjadi cermin, bagaimana kemudian tak sedikit warisan budaya yang masih belum terungkap, menunggu disibak.

"Jepara ini begitu kaya. Ada banyak sumber dan temuan baru yang harus ditindaklanjuti. Jangan sampai kekayaan sejarah ini hilang karena tidak segera didata dan dilestarikan," ujarnya, pada Minggu (2/8).

Rerie menilai langkah paling penting saat ini ialah melakukan inventarisasi terhadap seluruh temuan. 

Setelah itu, benda-benda tersebut perlu diklasifikasikan, diberi nomor inventaris, kemudian dikonservasi dan, jika memungkinkan, direkonstruksi.

Empat tahapan tersebut, lanjutnya, menjadi fondasi pelestarian cagar budaya. Selain itu, diperlukan dukungan pendanaan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, maupun berbagai lembaga agar upaya pelestarian dapat berjalan berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan bahwa penelitian sejarah tidak bisa hanya mengandalkan cerita lisan. 

Kajian harus diperkuat dengan dokumen primer, naskah kuno, serta penelitian arkeologi. Sehingga kesimpulan yang dihasilkan memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Kehadiran tim BPK Jawa Tengah bersama peneliti BRIN, menurut Rerie, menjadi langkah awal untuk menelusuri sekaligus mengungkap situs tersebut. 

Meski kunjungan itu belum ditujukan untuk penyelamatan situs, namun dapat mengawali proses penelitian. Agar setiap langkah yang diambil memiliki dasar ilmiah yang kuat. Hingga diputuskan, apakah perlu upaya ekskavasi.

SARAT NILAI: Tampak depan relief atau ornamen dua sisi, bermotif Kalabhairawa dan Sulur-suluran yang ditemukan dari Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
SARAT NILAI: Tampak depan relief atau ornamen dua sisi, bermotif Kalabhairawa dan Sulur-suluran yang ditemukan dari Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Ia mengatakan, minimnya data ilmiah mengenai peninggalan di Kriyan justru menjadi tantangan bagi para peneliti. 

Pihaknya juga menyebut, kehadirannya bersama BRIN dan BPK Jawa Tengah di Kriyan, merupakan tindak lanjut atas permintaan Pemkab Jepara. 

Sebelumnya, Bupati Jepara Witiarso Utomo meminta bantuan untuk memperoleh pandangan mengenai objek yang diduga sebagai cagar budaya (ODCB), sekaligus langkah-langkah yang perlu dilakukan secara kolaboratif.

"Hari ini saya mengundang Kepala BPK Jawa Tengah untuk melihat langsung lokasi ini. Yang diminta pemerintah daerah ialah bagaimana langkah yang perlu dilakukan dan apa saja yang bisa disinergikan. Karena itu kami juga mengajak BRIN serta para penggiat budaya untuk berdiskusi bersama," ucapnya.

Rerie juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan para penggiat budaya, yang selama ini memberikan perhatian terhadap temuan-temuan di Kriyan. 

Menurutnya, kepedulian warga menjadi modal penting dalam upaya mengungkap sejarah kawasan tersebut.

Dengan latar belakang pendidikan arkeologi, ia mengaku memiliki kesan dan pandangan awal ketika melihat langsung kondisi lokasi. 

Hamparan bata kuno beserta bentuk temuan yang ada, memberikan indikasi kuat bahwa kawasan tersebut pernah menjadi bagian dari sebuah bangunan penting di masa lampau.

"Saya dulu sekolah (kuliah jurusan, red) arkeologi. Kalau melihat lokasi, bentuk, dan hamparan batanya, secara kasat mata kita bisa sepakat bahwa ini sesuatu (situs penting, red). Tetapi kita tidak boleh mengambil kesimpulan terlebih dahulu. Yang pasti, struktur bata seperti ini menunjukkan pernah ada sesuatu yang harus diteliti lebih lanjut," tegasnya.

Senada, Kepala BPK Jawa Tengah Riris Purbasari berharap, dalam waktu dekat tim dapat melakukan survei lapangan di sekitar lokasi. 

Penelusuran tidak hanya berfokus pada temuan relief, tetapi juga mencari sumber bahan baku bata di sekitar kawasan, sekaligus menggali cerita tutur masyarakat yang selama ini diwariskan turun-temurun. 

Menurutnya, informasi dari warga menjadi bagian penting untuk melengkapi data arkeologis, sebelum penelitian yang lebih mendalam dilakukan, terutama oleh BRIN.

Ia menyampaikan, hal yang menarik perhatian ialah relief bercorak Kalabhairawa yang dipahat dalam bentuk potrait.

Dari tampilan visualnya, relief tersebut diduga merupakan bagian dari sebuah susunan bangunan yang lebih besar. 

Selain itu, terdapat perbedaan langgam pada bagian belakang panel (Sulur-suluran), yang memunculkan pertanyaan baru mengenai asal-usul dan periodisasi temuan tersebut.

"Kalau dilihat dari satu panel ini menarik karena panel Bhairawa ini memiliki langgam yang berbeda, dengan bagian belakangnya (Sulur-suluran, red). Itu akan kami diskusikan bersama pihak-pihak yang memiliki kewenangan dan keahlian," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa saat ini temuan di Kriyan masih perlu dilakukan tahap penelitian, belum penyelamatan atau konservasi. 

BPK akan lebih dahulu berdiskusi dengan para ahli untuk menentukan langkah berikutnya. 

Sebagai perbandingan, pihaknya baru saja mengunjungi Situs Mantingan pada Minggu (2/8), yang memiliki tak sedikit peninggalan dengan karakter serupa. 

Riris, melanjutkan, perjalanan sejarah Jepara memang sangat panjang. Untuk itu, berbagai kemungkinan masih terbuka terkait asal-usul struktur batu yang ditemukan di Kriyan.

Menurutnya, dalam sejarah Nusantara, tak sedikit bangunan keagamaan yang memanfaatkan kembali material bangunan sebelumnya. 

Ia mencontohkan di Purworejo pernah ditemukan umpak masjid yang berasal dari lingga-yoni.

"Bisa saja sebuah masjid didirikan di lokasi bangunan yang lebih tua, termasuk candi. Namun, semua itu tidak boleh disimpulkan begitu saja. Harus dibuktikan melalui penelitian," ucapnya.

Riris juga menyebut, motif pahatan, bentuk batu, hingga jenis material akan menjadi bagian penting dalam penelitian. 

Tim peneliti akan memastikan apakah batu-batu tersebut benar berasal dari bangunan kuno, merupakan material yang dipindahkan dari lokasi lain, atau memiliki fungsi berbeda.

“Kalau motif seperti ini (Kalabhairawa dan Apsara, red) biasanya terletak di tempat-tempat pemujaan (candi, red),” ujarnya.

Sementara itu, Peneliti Utama BRIN Retno Handini menyebutkan masing-masing peneliti memiliki keahlian berbeda.

“Jadi saya informasikan kepada teman-teman arkeolog, yang spesialisasinya itu keahlian seputar Hindu-Buddha,” sambungnya.

Pihaknya berharap, di antara peneliti ada yang tergerak untuk membuat proposal guna melakukan penelitian di daerah Kriyan. 

“Kami juga akan meminta informasikan kepada pimpinan, jika situs ini (Kriyan, red) layak diteliti. Jadi mudah-mudahan ada perhatian khusus, semoga diberi alokasi khusus untuk penelitian. Prosesnya masih panjang,” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
Kerajaan Kalinyamat BPK Jawa Tengah BRIN teliti ornamen Kriyan Potensi ekskavasi situs bersejarah Situs bersejarah Jepara