Menggali Jejak Kerajaan Kalinyamat Bagian IV, Warga Ungkap Temuan Struktur Kuno di Bawah Masjid Al Makmur Kriyan

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 17:46 WIB
ARSIP: Hisyam Maliki menunjukkan gorong-gorong dengan struktur bata kuno di bawah Masjid Al Makmur Kriyan. (PP NAILUN NAJAH UNTUK RADAR KUDUS) 
ARSIP: Hisyam Maliki menunjukkan gorong-gorong dengan struktur bata kuno di bawah Masjid Al Makmur Kriyan. (PP NAILUN NAJAH UNTUK RADAR KUDUS) 

JEPARA — Upaya menelusuri jejak Kerajaan Kalinyamat kembali mengemuka. Kali ini dalam forum Jagongan Budaya Kalinyamat, yang dihelat di Pondok Pesantren Nailun Najah Assalafy, RT 15/RW 3, Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan.

Forum pada Jumat (31/7) malam tersebut, menjadi ruang dialog yang mempertemukan masyarakat, budayawan, akademisi, pelaku seni, hingga generasi muda.

Mendiskusikan sejarah, tradisi, serta perkembangan kebudayaan utamanya di kawasan Kalinyamatan, Jepara dan daerah sekitar.

Salah satu temuan yang mengemuka berasal dari cerita masyarakat, mengenai adanya struktur pasangan bata kuno yang berada di bawah Masjid Al Makmur, Desa Kriyan. 

Temuan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu petunjuk dalam menelusuri lanskap Kerajaan Kalinyamat, meski masih membutuhkan penelitian arkeologis lebih lanjut.

Sebagaimana sebelumnya juga ditemukan struktur bata kuno yang berada di area yang banyak disebut sebagai Langgar Bubrah.

Serta temuan watu gilang maupun andesit putih yang diduga sebagai bahan pembuatan relief atau ornamen, seperti yang berada di Masjid Mantingan dan Makam Ratu Kalinyamat-Sultan Hadlirin.

Jika dipetakan secara kasar, temuan struktur tersebut berada hampir di seluruh petak tanah Desa Kriyan. Hingga menyambung ke desa-desa sebelah, termasuk di Desa Sendang.

Pendiri Yayasan Widya Gilang Gumilang Kriyan, Hisyam Maliki (36), mengatakan Jagongan Budaya Kalinyamat dirancang sebagai media berbagi pengetahuan, sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai budaya lokal.

Terutama berkenaan dengan Tradisi Baratan, Ratu Kalinyamat, dan warisan budaya Desa Kriyan.

Menurutnya, forum tersebut tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga wadah untuk menghimpun berbagai informasi yang selama ini berserakan di tengah masyarakat. Baik tutur maupun temuan arkeologis. 

"Melalui konsep diskusi yang terbuka dan partisipatif, kami berharap lahir gagasan, dokumentasi, serta kolaborasi dalam upaya pelestarian budaya. Hasil diskusi ini nantinya menjadi dasar penyusunan rekomendasi, penguatan narasi sejarah lokal, hingga pengembangan program pemajuan kebudayaan yang berkelanjutan," ungkapnya, pada Sabtu (1/8).

ANTUSIAS: Para peserta jahongan budaya Kalinyamat hadiri acara yang berlangsung di Kompleks Ponpes Nailun Najah Assalafy Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan pada Jumat (31/7). (PP NAILUN NAJAH UNTUK RADAR KUDUS) 
ANTUSIAS: Para peserta jahongan budaya Kalinyamat hadiri acara yang berlangsung di Kompleks Ponpes Nailun Najah Assalafy Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan pada Jumat (31/7). (PP NAILUN NAJAH UNTUK RADAR KUDUS) 

Hisyam menjelaskan, salah satu fokus utama forum ialah mencari irisan sejarah, dari desa-desa maupun kecamatan lain di Kabupaten Jepara. Terlebih yang memiliki keterkaitan dengan riwayat Ratu Kalinyamat.

Selain menggali sumber tertulis, forum juga menginventarisasi toponim, cerita tutur masyarakat, hingga temuan-temuan lapangan. Kemudian dikorelasikan dengan pandangan para sejarawan, budayawan, dan akademisi.

"Dimulai dari titik Siti Hinggil, kami mencoba memetakan bagian-bagian lain yang diduga berkaitan dengan Kerajaan Kalinyamat. Semua informasi, baik berupa nama tempat, cerita masyarakat maupun temuan di lapangan, akan dikaji bersama sehingga dapat melahirkan pemahaman baru," jelasnya.

Dalam pemaparannya, Hisyam juga mengutip catatan sejarawan Belanda P.J. Veth yang merujuk pada berita Portugis. 

Dalam sumber tersebut disebutkan nama 'Cherinhama' atau 'Cerinhama' sebagai kota utama, yang berada sekitar tres leguas atau sekitar 15–18 kilometer dari Pelabuhan Jepara ke arah pedalaman.

Menurutnya, tak sedikit sejarawan meyakini bahwa nama tersebut merupakan penyebutan Portugis untuk Kalinyamat. 

Ejaan 'nh' digunakan bangsa Portugis untuk mewakili bunyi 'ny' yang lazim digunakan dalam bahasa Jawa.

“Sehingga secara leksikal, serapan bahasa yang tertulis mengalami perubahan jika diucapkan secara lisan. Cherinhama bisa saja menjadi Kalinyamat bagi lidah orang Jawa,” terangnya.

Sementara itu, pemerhati sejarah Jepara, Hisyam Zamroni, menilai upaya mengungkap keberadaan pusat Kerajaan Kalinyamat memerlukan penelitian yang lebih sistematis.

Ia mendorong agar pemerintah menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), akademisi, hingga arkeolog untuk melakukan penelitian secara menyeluruh. Untuk memastikan keberadaan keraton maupun pusat pemerintahan Kerajaan Kalinyamat.

Menurutnya, diperlukan pembentukan tim khusus yang bertugas menyusun peta penelitian, berdasarkan berbagai sumber sejarah, baik dari arsip Portugis, Spanyol, maupun China.

"Selama ini kita lebih banyak menggunakan sumber-sumber Eropa. Padahal catatan dari China juga sangat penting untuk melengkapi sejarah Kalinyamat. Semua sumber itu perlu dipadukan agar gambaran sejarahnya semakin utuh," ucapnya saat diskusi pada Jumat (31/7).

Melalui Jagongan Budaya Kalinyamat, berbagai temuan dan informasi yang berkembang di masyarakat diharapkan dapat terdokumentasi dengan baik. 

Serta menjadi pijakan penelitian lanjutan, sehingga sejarah Kerajaan Kalinyamat dapat diungkap secara lebih komprehensif, sekaligus memperkuat identitas budaya Kabupaten Jepara.

“Tentu ini akan memperkuat status Ratu Kalinyamat, usai ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 2023 lalu,” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
Kerajaan Kalinyamat Struktur kuno Cherinhama Sumber China Ratu Kalinyamat