Cerita Penerima Kartu Guru Sejahtera Jepara, dari Guru Ngaji hingga Sekolah Minggu

M. Khoirul Anwar • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 13:12 WIB
SEDERHANA: Penerima Kartu Guru Sejahtera Ustaz Choirun Nuha (kanan) saat ditemui di rumahnya di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara.
SEDERHANA: Penerima Kartu Guru Sejahtera Ustaz Choirun Nuha (kanan) saat ditemui di rumahnya di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara.
 

JEPARA – Menjelang sore, suara anak-anak mengaji terdengar bersahut-sahutan dari sebuah ruang belajar sederhana di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan. Bangku-bangku kayu kecil berjajar di atas lantai. Di depan kelas, seorang guru duduk tenang sambil memperhatikan satu per satu bacaan para santrinya.

Tak ada pendingin ruangan, tak ada meja guru yang mewah. Hanya semangat mengajar yang terus menyala di tengah segala keterbatasan.

Guru itu adalah Choirun Nuha. Selama sekitar 21 tahun, rutinitas tersebut nyaris tak pernah berubah. Mengajar santri-santri madrasah diniyah menjadi bagian dari pengabdian yang dijalaninya dengan penuh keikhlasan.

Choirul menjadi satu dari 15.120 guru di Kabupaten Jepara yang tahun ini menerima bantuan melalui Program Kartu Guru Sejahtera (KGS). Program tersebut menyasar guru PAUD, TK, Kelompok Bermain (KB), Satuan PAUD Sejenis (SPS), RA, SD dan SMP swasta, guru TPQ, Madrasah Diniyah (Madin), pondok pesantren, sekolah minggu berbagai agama, tutor PKBM, hingga instruktur LKP.

Masing-masing penerima memperoleh bantuan Rp1,4 juta. Nilainya mungkin tak mampu mengubah kehidupan secara drastis, tetapi bagi banyak guru, bantuan itu menjadi tanda bahwa pengabdian mereka tidak luput dari perhatian.

Dua Dekade Mengajar dengan Kesederhanaan

Bagi Choirun, mengajar bukanlah pekerjaan yang menjanjikan penghasilan besar. Untuk berangkat ke madrasah, ia terkadang berjalan kaki. Jika beruntung, ia menggunakan sepeda motor yang kebetulan sedang tidak dipakai anaknya.

Sebagai guru madrasah diniyah, honor yang diterimanya selama ini hanya cukup memenuhi kebutuhan pokok keluarga.

"Bantuan ini sangat membantu sekali. Guru madrasah memang hasilnya pas-pasan karena mengajarnya hanya setengah hari," katanya.

Dana KGS akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membantu biaya pendidikan dua anaknya yang masih menempuh pendidikan di pondok pesantren.

"Semoga Kartu Guru Sejahtera terus berlanjut agar guru-guru, terutama guru diniyah, semakin sejahtera," ujarnya.

Berbagi Berkat untuk Anak-anak Sekolah Minggu

Rasa syukur yang sama dirasakan Esther Sukaenah. Perempuan berusia 56 tahun itu telah mengabdikan diri sebagai guru Sekolah Minggu di Gereja Injil di Tanah Jawa (GITJ) Kancilan, Kecamatan Kembang, selama lebih dari 13 tahun.

Di rumahnya yang sederhana di Dukuh Depok, Desa Kancilan, Esther mengaku tak pernah menyangka akan menerima bantuan tersebut.

"Bantuan ini sangat membantu, besar sekali bagi kami. Ini benar-benar menjadi berkat," ujarnya.

Sebagian dana akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, sebagian lainnya sudah ia niatkan untuk kembali kepada tempat ia mengabdi.

"Bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi ingin berbagi berkat juga untuk gereja dan anak-anak Sekolah Minggu," katanya.

Baginya, perhatian pemerintah bukan sekadar bantuan materi. Lebih dari itu, menjadi penyemangat agar terus melayani dan mendampingi anak-anak setiap pekan.

Membantu Biaya Sekolah Anak

Di Desa Bulungan, Kecamatan Pakisaji, Harmanto juga menyambut kabar bantuan tersebut dengan rasa syukur. Selama 18 tahun, ia mengajar mengaji di TPQ Darun Najah.

Di tengah kebutuhan keluarga yang terus bertambah, bantuan KGS akan digunakan untuk membantu biaya pendidikan anak-anaknya.

"Kartu Guru Sejahtera ini sangat bermanfaat sekali. Bisa dimanfaatkan untuk membiayai anak sekolah sehingga keluarga kami bisa lebih sejahtera," tuturnya.

Bagi Harmanto, program tersebut juga menyampaikan pesan yang lebih luas.

"Semua diberi perhatian. Ini membuat kerukunan umat beragama di Jepara semakin kuat," ucapnya.

Pengabdian yang Diakui

Program Kartu Guru Sejahtera 2026 menjangkau 15.120 guru dengan total anggaran Rp21,168 miliar. Penerima berasal dari berbagai jenjang pendidikan dan lembaga keagamaan, mulai guru PAUD hingga instruktur lembaga kursus.

Di balik angka-angka tersebut, tersimpan ribuan kisah pengabdian yang selama ini berjalan dalam kesunyian. Ada guru yang mengajar anak-anak mengaji setiap sore, guru yang membimbing santri di pondok pesantren, hingga guru Sekolah Minggu yang mendampingi anak-anak mengenal nilai-nilai keagamaan.

Bagi mereka, bantuan Rp1,4 juta mungkin bukan jawaban atas seluruh kebutuhan hidup. Namun, perhatian itu menjadi pengingat bahwa dedikasi mereka dalam membentuk karakter generasi muda tetap memiliki arti.

 

 

Editor : Admin
Guru Sekolah Minggu Guru TPQ jepara guru madrasah Kartu Guru Sejahtera