JEPARA — Malam mulai turun di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji. Cahaya bulan purnama menerangi halaman Pura Giri Tungka yang perlahan dipenuhi umat Hindu.
Dengan pakaian serba putih maupun adat Jawa, satu per satu umat memasuki area pura.
Mereka yang memakai busana adat tersebut tampak rapi dan bersahaja. Serasi dan harmonis.
Kaum laki-laki mengenakan udeng di kepala, kemeja putih, dipadukan dengan kamen, saput ataupun kain.
Sementara kaum perempuan tampil anggun. Mengenakan kebaya dengan kamen atau kain panjang dan selendang.
Balutan busana bernuansa putih dan ragam warna itu, menghadirkan kesan bersih dan sakral.
Selaras dengan makna Sembahyang Purnama sebagai momentum menyucikan diri lahir maupun batin.
Hawa dingin tak menyurutkan langkah umat. Selain orang tua, anak-anak juga ikut hadir, mengikuti sembahyang.
Sekitar pukul 19.00 WIB, sembahyang Purnama dimulai.
Dipimpin pemangku pura, prosesi diawali dengan menghaturkan sesaji yang diiringi lantunan kidung suci dari para umat.
Suasana hening dan penuh kekhidmatan terasa sepanjang jalannya persembahyangan.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Jepara, Ngarbianto, menjelaskan bahwa sembahyang Purnama merupakan ibadah rutin yang dilaksanakan setiap bulan saat bulan penuh.
Selain Purnama, umat Hindu juga menjalankan sembahyang Tilem ketika bulan mati, sebagai bagian dari siklus ibadah bulanan.
"Malam ini di Pura Giri Tungka diikuti sekitar 55 umat. Selain di sini, umat juga melaksanakan sembahyang di pura lain seperti Pura Puser Bumi, Dharma Loka, dan Pura Manggala Dharma. Kalau jumlah kesemuanya bisa mencapai sekitar 500 orang," tuturnya, pada Rabu (29/7).
Para umat melakukan persembahyangan secara saksama di pura masing-masing.
Menurutnya, sembahyang Purnama menjadi momen untuk menyucikan batin, memohon berkah, sekaligus mendekatkan diri kepada Hyang Widhi Wasa.
Ia berharap umat senantiasa mengingat kewajiban bersembahyang, terutama saat sandyakala, serta menjaga kepedulian terhadap sesama.
Malam ini pun terasa berbeda, karena Kepala Kejaksaan Negeri Jepara, Agung Bagus Kade Kusimantara, kembali berkunjung ke Pura Giri Tungka. Serta turut membersamai persembahyangan.
Kunjungan tersebut merupakan yang kedua kalinya.
Kehadirannya disambut hangat oleh umat, yang kemudian mendengarkan dharma wacana yang disampaikannya.
Dalam pesannya, Kajari mengingatkan umat agar tetap waspada menghadapi berbagai tantangan di era digital.
Pihaknya menyoroti maraknya penipuan berbasis teknologi, serta bahaya penyalahgunaan narkoba yang dapat merenggut masa depan.
Agung Bagus juga mengajak umat untuk terus mengamalkan ajaran Tri Kaya Parisudha.
Meliputi, manacika parisudha (berpikir yang baik), wacika parisudha (berkata yang baik), dan kayika parisudha (berbuat yang baik).
Bagi para umat, kehadiran Kajari memberikan kesan tersendiri.
Selain mengikuti sembahyang dengan khusyuk, mereka merasa damai dan bahagia karena memperoleh wejangan yang memperkuat nilai-nilai spiritual. Sekaligus menjadi pengingat untuk tetap berhati-hati menghadapi tantangan kehidupan modern.
Ngarbianto menambahkan, dalam waktu dekat umat Hindu di Jepara juga bersiap menggelar kegiatan Utsawa Dharma Gita (UDG), yang direncanakan berlangsung di Gedung Sima.
UDG sendiri menjadi festival atau lomba nyanyian suci dan seni baca kitab suci keagamaan Hindu.
Ia berharap kegiatan tersebut, dapat semakin mempererat persaudaraan dan kebersamaan. Terutama bagi kalangan umat Hindu di Kabupaten Jepara.
“Semakin erat dan semakin kompak. Aman dan damai,” pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya