Ketika Jalan-Jalan Jepara Berubah: Kerja Cepat yang Mulai Terasa di Masa Witiarso–Gus Hajar

Admin • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 07:59 WIB
MULUS: Pekerja mengaspal jalan Welahan belum lama ini, ruas Gidangelo-Guwosubokerto itu belasan tahun belum tersentuh perbaikan.
MULUS: Pekerja mengaspal jalan Welahan belum lama ini, ruas Gidangelo-Guwosubokerto itu belasan tahun belum tersentuh perbaikan.

Sebulan terakhir, ada pemandangan yang cukup sering saya temui ketika melintasi sejumlah jalan di Kabupaten Jepara.

Alat berat bekerja. Sisi jalan dikeruk. Truk pengangkut material hilir mudik. Di beberapa titik, badan jalan yang sebelumnya terasa sempit mulai diperlebar. Di tempat lain, saluran drainase dibongkar dan U-Ditch mulai berjajar menunggu dipasang.

Saya tidak hanya melihatnya melalui unggahan di media sosial. Hampir setiap hari, saya menyaksikannya sendiri di jalan.

Mulai dari jalur penghubung Mindahan–Bringin–Batealit, ruas Raguklampitan menuju Geneng, Raguklampitan menuju Kalinyamatan, hingga sejumlah ruas di kawasan Kota Jepara.

Namun, dari semua pemandangan pembangunan itu, ada satu hal yang justru paling menarik perhatian saya.

Kecepatan pengerjaannya.

Di beberapa titik, pembangunan bukan sekadar menambal lubang atau memperbaiki permukaan jalan. Pemerintah memperlebar badan jalan. Alat berat masuk, sisi jalan dikeruk cukup dalam untuk kemudian dipersiapkan menjadi tambahan badan jalan.

Biasanya, fase seperti inilah yang cukup mengkhawatirkan pengguna jalan.

Saya pernah melihat pola pekerjaan jalan di mana sisi jalan sudah telanjur dikeruk, tetapi kemudian dibiarkan cukup lama. Siang hari mungkin masih bisa diantisipasi. Tetapi ketika malam tiba, bekas galian di samping jalan bisa menjadi ancaman.

Salah mengambil posisi sedikit saja, ban kendaraan bisa terperosok.

Namun, dalam beberapa proyek yang saya amati kali ini, jeda semacam itu relatif singkat.

Dikeruk. Dipersiapkan. Lalu segera dicor.

Bekas pengerukan tidak terlalu lama menganga. Bantalan segera disiapkan, konstruksi beton dikerjakan, dan perlahan badan jalan menjadi lebih lebar.

Ruas Raguklampitan–Geneng menjadi salah satu yang paling terasa.

Saya cukup sering melewati jalur tersebut. Kini ruang jalannya terasa jauh lebih lega. Kendaraan besar bisa melintas lebih leluasa. Ketika dua kendaraan berpapasan, pengemudi tidak lagi harus terlalu banyak mengambil sisi jalan seperti sebelumnya.

Hal serupa terlihat pada pekerjaan drainase.

Setelah penggalian dilakukan, U-Ditch relatif cepat dipasang. Galian terbuka di pinggir jalan tidak dibiarkan terlalu lama.

Mungkin bagi sebagian orang ini terlihat sebagai perkara teknis kecil. Tetapi bagi masyarakat yang setiap hari melintas, cara sebuah proyek dikerjakan sama pentingnya dengan hasil akhirnya.

Sebab pembangunan infrastruktur tidak cukup hanya dibicarakan melalui angka anggaran.

Pertanyaannya bukan sekadar: berapa miliar rupiah yang disiapkan?

Tetapi juga: seberapa cepat anggaran itu berubah menjadi pekerjaan nyata? Seberapa baik kualitasnya? Dan seberapa kecil proses pembangunan tersebut mengganggu aktivitas masyarakat?

Di titik inilah saya melihat warna yang cukup kuat dalam kepemimpinan Bupati Jepara Witiarso Utomo bersama Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar atau Gus Hajar.

Ada keberanian memberikan porsi besar kepada pembangunan infrastruktur. Namun, yang tak kalah penting adalah bagaimana keputusan di meja pemerintahan itu diterjemahkan menjadi alat berat yang bekerja, beton yang dicor, drainase yang terpasang, dan jalan yang benar-benar bisa dirasakan masyarakat.

Skalanya memang besar.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Jepara, sepanjang 2025–2026 ditambah rencana alokasi 2027, anggaran yang disiapkan untuk penanganan jalan mencapai Rp502,47 miliar. Anggaran tersebut diarahkan untuk menangani 265 ruas jalan.

Targetnya pun terukur. Tingkat kemantapan jalan kabupaten yang berada pada angka 72,85 persen didorong menjadi sekitar 79 persen pada akhir 2027.

Angka-angka tersebut tentu baru akan memiliki arti ketika diwujudkan di lapangan.

Dan hari-hari ini, sebagian wujudnya mulai terlihat.

Jalan yang sempit mulai dilebarkan. Jalan rusak diperbaiki. Drainase dibangun. Alat berat bekerja di banyak titik. Yang patut diapresiasi, tahapan pekerjaan di sejumlah lokasi berlangsung relatif cepat sehingga masyarakat tidak terlalu lama dipaksa beradaptasi dengan jalan yang sudah telanjur dibongkar.

Tentu belum waktunya mengatakan semua persoalan jalan di Jepara selesai.

Masih ada ruas-ruas yang membutuhkan penanganan. Masih ada pekerjaan rumah yang menunggu. Bahkan proyek yang sudah selesai pun harus terus diawasi kualitasnya.

Sebab cepat saja tidak cukup.

Jalan yang dibangun hari ini harus mampu bertahan menghadapi beban kendaraan dan waktu. Jangan sampai semangat mempercepat pembangunan justru membuat kualitas konstruksi terabaikan.

Karena itu, tantangan berikutnya bagi pemerintahan Witiarso–Gus Hajar bukan hanya mempertahankan kecepatan pembangunan, tetapi memastikan cepat dalam pengerjaan, tepat dalam pengawasan, dan kuat dalam kualitas.

Jika pola itu mampu dijaga hingga akhir periode pembangunan, saya kira perubahan wajah jalan-jalan Jepara akan semakin terasa.

Sebab jalan sesungguhnya bukan sekadar hamparan beton dan aspal.

Di atas jalan itulah setiap pagi buruh berangkat menuju pabrik.

Anak-anak menuju sekolah.

Petani membawa hasil panen.

Pengusaha mengirim barang.

Pedagang mencari penghidupan.

Wisatawan datang menikmati Jepara.

Dan ribuan aktivitas ekonomi bergerak dari satu desa menuju desa lainnya.

Maka ketika pemerintah berani jor-joran mengalokasikan anggaran untuk jalan, yang sedang dibangun sesungguhnya bukan hanya infrastruktur.

Yang sedang diperpendek adalah waktu tempuh. Yang sedang diperlancar adalah distribusi barang. Yang sedang dibuka adalah akses ekonomi. Dan yang sedang dibuat lebih nyaman adalah kehidupan masyarakat Jepara sendiri.

Barangkali masyarakat tidak semuanya menghafal berapa ratus miliar anggaran jalan yang dialokasikan pemerintah. Tidak semua pula mengetahui berapa persen target kemantapan jalan pada 2027.

Tetapi masyarakat mempunyai ukuran keberhasilan yang jauh lebih sederhana.

Mereka merasakannya ketika mengendarai sepeda motor. Ketika membawa mobil. Ketika berangkat bekerja. Ketika mengantar anak sekolah. Atau ketika dua kendaraan besar akhirnya dapat berpapasan tanpa harus berebut badan jalan.

Dan mungkin, apresiasi paling sederhana atas kerja pembangunan itu cukup terdengar dari percakapan orang-orang yang setiap hari melewatinya:

“Saiki dalane luwih apik, luwih amba, lan luwih penak dilewati.” (*)

Editor : Admin
APBD Wiwit jalan infrastruktur