JEPARA — Suara tabuhan bambu dan perkusi bergema di sepanjang jalan Desa Bringin, Kecamatan Batealit, Sabtu (25/7) malam.
Sejak pukul 20.00, warga mulai memadati sisi jalan untuk menyaksikan grup thongthek yang tampil dalam Festival-Lomba Thongthek perdana.
Ini menjadi rangkaian Sedekah Bumi Desa Bringin 2026. Digelar tingkat Kabupaten Jepara.
Selama lebih dari tiga jam, setiap kelompok bergantian menampilkan konsep terbaiknya.
Ada yang menghadirkan kendaraan hias dengan ornamen ukiran khas Jepara, ada pula yang membawa replika kepala naga dan memadukan permainan alat musik bambu dengan atraksi tari-tarian.
Penonton yang memenuhi sepanjang rute dari depan Gedung NU Bringin hingga Balai Desa Bringin tampak antusias, mengikuti jalannya festival hingga pengumuman pemenang.
Bagi para pemuda Desa Bringin, festival tersebut bukan sekadar perlombaan.
Kegiatan itu menjadi wadah untuk menunjukkan kreativitas, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap desa.
Perwakilan pemuda Desa Bringin, Aris Pratomo, mengaku bersyukur karena pemerintah desa dan para tetua di desa, memberikan kepercayaan kepada pemuda untuk menjadi penyelenggara festival.
"Kami berterima kasih kepada pemerintah desa dan para senior yang sudah memberikan kesempatan kepada pemuda untuk berkreasi. Dari situ muncul rasa memiliki terhadap desa kami," ujarnya, Minggu (26/7).
Menurut Aris, Festival Thongthek tahun ini merupakan penyelenggaraan perdana tingkat Kabupaten Jepara.
Sebelumnya, kegiatan serupa hanya digelar di tingkat RT. Karena mendapat sambutan baik dari masyarakat, pihaknya berharap festival tersebut dapat menjadi agenda tahunan.
"Harapan kami festival ini bisa diadakan setiap tahun. Jangan hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi kegiatan yang dinanti masyarakat sekaligus wadah bagi pemuda untuk berkarya," sebutnya.
Ia juga berharap pemuda terus diberi ruang untuk menyalurkan ide dan kreativitas melalui kegiatan-kegiatan positif.
"Semoga pemuda-pemudi terus diberi kesempatan untuk berkreasi dan menyampaikan gagasan mereka melalui kegiatan seperti ini," imbuhnya.
Dalam festival tersebut, panitia menilai penampilan peserta berdasarkan tiga aspek, yakni performa, aransemen, dan artistik.
Laron Percussion berhasil menjadi juara I dengan nilai 270. Posisi kedua ditempati ACL dengan skor 262, disusul P. Abiyasa di peringkat ketiga dengan nilai 261.
Rotan Gank berada di posisi keempat dengan 258 poin dan Werkudoro di peringkat kelima dengan 246 poin. Sementara Sanjiwo dan Pusar Nada masing-masing memperoleh 243 dan 240 poin.
Kepala Desa Bringin Mardi mengatakan festival budaya menjadi bagian dari upaya melestarikan kesenian thongthek sekaligus memeriahkan Sedekah Bumi Desa Bringin.
Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat menjadi modal agar kegiatan tersebut bisa terus dilaksanakan.
"Festival ini menjadi bagian dari Sedekah Bumi Desa Bringin sekaligus upaya menjaga kesenian thongthek agar tetap berkembang. Kami berharap kegiatan ini bisa terus dilaksanakan setiap tahun," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin