JEPARA — Perkembangan kemampuan belajar siswa di Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Jepara mulai terlihat. Hal tersebut diungkapkan oleh guru rombongan belajar (rombel) tingkat dasar.
Pendampingan intensif yang dilakukan para guru termasuk wali asuh, membuat kemampuan literasi dan numerasi dasar para siswa meningkat.
Terutama bagi anak yang sebelumnya sempat putus sekolah. Kini mereka tampil lebih percaya diri dalam belajar. Menunjukkan kemampuan yang memadai dalam menyerap pembelajaran.
Apalagi dalam prosesnya pembelajaran dilakukan secara deep learning.
Guru rombel A kelas I dan II, Khori Apriza, mengatakan proses belajar mengajar selama ini berlangsung lancar tanpa kendala berarti.
Rombel A menangani siswa kelas I dan II, sedangkan rombel B untuk kelas III dan rombel C mengajar kelas IV serta kelas V.
Saat ini Sekolah Rakyat Dasar rintisan di Jepara memiliki 75 siswa. Terdiri atas 10 siswa kelas I, 18 siswa kelas II, 22 siswa kelas III, sembilan siswa kelas IV dan 16 siswa kelas V.
Belum ditambah 90 siswa SR Terpadu pada setiap jenjang, dari SD, SMP dan SMA.
Menurut Khori, pembelajaran di kelas awal difokuskan pada penguatan kemampuan dasar, terutama literasi dan numerasi.
Sejumlah siswa yang sebelumnya belum mengenal huruf kini mulai mampu mengenali alfabet. Sedangkan siswa yang sebelumnya masih mengeja, perlahan sudah mampu membaca kalimat sederhana.
"Perkembangan anak-anak cukup signifikan. Semua itu karena pembiasaan dan pendampingan yang dilakukan terus-menerus," ujarnya, pada Jumat (24/7).
Ia mengungkapkan, beberapa siswa merupakan anak yang sempat putus sekolah.
Meski demikian, semangat belajar mereka cukup tinggi. Bahkan, mereka aktif mengikuti pembelajaran dan berusaha menyelesaikan setiap tugas tepat waktu.
Bagi siswa yang masih mengalami kesulitan membaca maupun menulis, pihak sekolah memberikan pendampingan khusus.
Guru bersama wali asuh terus membimbing siswa di luar jam pembelajaran. Ini dilakukan agar mampu mengejar ketertinggalan tanpa merasa tertinggal dari teman-temannya.
"Di Sekolah Rakyat tidak ada anak yang ditelantarkan. Semua mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhannya sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang bersama," imbuhnya.
Kegiatan belajar mengajar berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 12.20 WIB. Setelah itu siswa mengikuti program keasramaan yang diisi berbagai kegiatan pengembangan karakter dan minat bakat.
Selain mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti tahfiz, pencak silat, tari, pramuka, English Club, dan sepak bola, para siswa juga mengikuti Madrasah Diniyah (Madin) pada Senin hingga Rabu.
Materi keagamaan meliputi Iqra, Yanbu'a hingga pembelajaran Al-Qur'an yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.
Pembelajaran Madin dibagi ke dalam tiga kelompok dengan pendampingan ustaz dan ustazah.
Khori menambahkan, seluruh kegiatan dirancang untuk membentuk kebiasaan baik, sekaligus mengembangkan potensi setiap anak.
Oleh karena itu, sekolah tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter melalui pembiasaan sehari-hari di lingkungan asrama.
Untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan tersebut, Sekolah Rakyat Jepara diperkuat kepala sekolah, tiiga guru kelas, staf administrasi, wali asuh, wali asrama, juru masak, petugas keamanan, hingga tenaga kebersihan.
Secara keseluruhan terdapat 42 personel yang terlibat dalam operasional sekolah.
“Tahun ajaran baru ini, murid juga mulai dipindah dari Gedung SR Dasar percepatan dari BLK Pecangaan ke Kawasan SR Terpadu di Suwawal Timur Kecamatan Pakis Aji,” pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya