Tongkang Kandas di Perairan Jepara Berhasil Dievakuasi, KLH Akan Turun Periksa Dampak Batu Bara

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 17:23 WIB
TERCEMAR: Kondisi ekosistem di Perairan Mororejo Jepara tak jauh dari Pulau Panjang yang diduga rusak akibat tumpahan batu bara. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
TERCEMAR: Kondisi ekosistem di Perairan Mororejo Jepara tak jauh dari Pulau Panjang yang diduga rusak akibat tumpahan batu bara. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Tongkang Santoso 06 yang sempat kandas di perairan utara Jepara akhirnya berhasil dievakuasi, setelah beberapa pekan kandas. 

Meski demikian, proses penanganan belum sepenuhnya selesai.

Pemerintah akan melakukan investigasi, mengenai terhadap dampak lingkungan akibat insiden tersebut.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kapal tunda TB Transpower 215 menarik tongkang YDB 6259/Santoso 06 berlayar dari Banjarmasin menuju Marunda, Jakarta.

Kapal ini membawa muatan sekitar 7.221 ton batu bara dan diawaki 10 orang.

Masalah bermula ketika tongkang mengalami kemiringan pada Jumat (26/6). Upaya penyeimbangan (ballast) telah dilakukan, namun tidak berhasil mengatasi dugaan kebocoran pada badan tongkang. 

BERANGSUR PULUH: Kondisi TB Transpower 215 yang menarik tongkang YDB 6259/Santoso 06 berhasil terevakuasi.
BERANGSUR PULUH: Kondisi TB Transpower 215 yang menarik tongkang YDB 6259/Santoso 06 berhasil terevakuasi.

Kondisi tersebut menyebabkan tongkang semakin miring, hingga akhirnya kandas di perairan dengan kedalaman sekitar 10 meter. Lokasi tersebut tak jauh dari Pulau Panjang.

Bahkan dua kali upaya salvage juga sempat gagal. Batu bara pun tumpah, tak terbendung di perairan Jepara. Tercecer.

Staf Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Jepara, Dedi Agus Triyanto, mengatakan proses salvage berikutnya salah satu perusahaan dari Jakarta telah berhasil mengapungkan kembali tongkang tersebut.

"Proses evakuasi sudah berhasil dan kapal sudah kembali mengapung. Selanjutnya akan dilakukan pembersihan dan penanganan lanjutan oleh perusahaan dengan pendampingan instansi terkait," ungkapnya, pada Jumat (24/7).

Dedi mengungkapkan, informasi terbaru yang diterimanya menyebutkan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dijadwalkan turun ke Jepara pada Rabu (29/7) untuk menginvestigasi di lokasi kejadian. 

Tim tersebut akan didampingi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam melakukan survei lapangan.

"Rencana hari Rabu akan ada tim investigasi untuk survei ke lokasi. Setelah itu baru ditentukan langkah-langkah selanjutnya," imbuhnya.

TEREVAKUASI: Kondisi batu bara di atas lumbung kapal tongkang yang kandas di Perairan Jepara.
TEREVAKUASI: Kondisi batu bara di atas lumbung kapal tongkang yang kandas di Perairan Jepara.

Menurutnya, survei tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan tindak lanjut, baik terkait dampak lingkungan maupun penanganan teknis pascaevakuasi.

Selain investigasi lingkungan, kondisi fisik tongkang juga akan diperiksa secara menyeluruh. 

Dedi menjelaskan kapal akan menjalani survei oleh Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), sebelum masuk ke galangan kapal (docking).

"Kapal belum diperiksa secara menyeluruh. Nanti akan dilakukan survei oleh BKI sebelum docking. Di luar daerah, sepertinya di Tegal," jelasnya.

Ia menambahkan, jalur pelayaran di kawasan Jepara sebenarnya telah memiliki sistem pengawasan yang ketat. Di samping lalu lintas laut yang cukup padat.

Setiap alur pelayaran, termasuk keberadaan pipa gas bawah laut hingga kawasan konservasi, telah dipetakan dan dipantau secara berkelanjutan melalui Stasiun Radio Pantai (SROP).

Dengan rampungnya proses evakuasi ini, perhatian kini beralih pada hasil investigasi lingkungan. 

Untuk memastikan ada atau tidaknya dampak pencemaran hingga kerusakan ekosistem, utamanya akibat muatan batu bara maupun kandasnya tongkang tersebut.

"Ya, menunggu KLH melakukan survei di lokasi," pungkasnya.(fik) 

Editor : Mahendra Aditya
ekosistem laut rusak Tongkang kandas di Jepara Batu bara tumpah di laut KLH turun investigasi Dampak batu bara cemari laut Jepara