Aktivitas Ekspor Jepara Masih Stabil, Semester Pertama Tembus Rp 4 Triliun 

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 18:48 WIB
ANTUSIAS: Para pengunjung di Pameran Tatah yang diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia mengamati hasil karya seniman Jepara, pameran ini ditujukan untuk mempromosikan produk seni dan kerajinan Jepara secara lebih luas. (TATAH UNTUK RADAR KUDUS)
ANTUSIAS: Para pengunjung di Pameran Tatah yang diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia mengamati hasil karya seniman Jepara, pameran ini ditujukan untuk mempromosikan produk seni dan kerajinan Jepara secara lebih luas. (TATAH UNTUK RADAR KUDUS)

JEPARA — Aktivitas ekspor dari Kabupaten Jepara pada semester pertama 2026 masih menunjukkan tren yang stabil. 

Nilai ekspor berbagai komoditas hingga Juni 2026 berhasil menembus Rp 4,07 triliun, dengan industri furnitur kayu tetap menjadi penopang utama ekspor daerah.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jepara, Anjar Jambore Widodo, mengatakan sektor industri berorientasi ekspor masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global. 

Produk furnitur, alas kaki, tas, hingga garmen masih menjadi komoditas andalan yang dipasarkan ke berbagai negara.

"Berdasarkan data semester pertama 2026, total nilai ekspor Jepara mencapai Rp 4.074.332.918.803. Kondisi ini menunjukkan aktivitas ekspor masih relatif stabil dan didominasi produk-produk unggulan daerah," ungkapnya.

Data Disperindag mencatat, furniture dari kayu menjadi komoditas dengan nilai ekspor terbesar, yakni mencapai Rp 936,64 miliar dari volume ekspor 11,77 juta kilogram. 

Di bawahnya terdapat alas kaki senilai Rp 677,27 miliar. Lalu tas, dompet, dan koper senilai Rp 670,67 miliar. Serta produk garmen yang menyumbang Rp 228,42 miliar.

Komoditas lain yang turut menopang ekspor antara lain kayu olahan dan produk turunannya sebesar Rp 57,26 miliar, furniture nonkayu Rp 44,11 miliar, handicraft kayu Rp 19,24 miliar, stonecraft, hasil laut, tekstil, produk kertas, logam, hingga mesin dan peralatan mekanik.

“Jika diakumulasikan, jumlah dari komoditas tekstil, garmen, alas kaki, tas dan dompet mencapai Rp 1,351 triliun. Melebihi furnitur jika hanya berdiri sebagai komoditas sendiri,” jelasnya.

Jika dibandingkan dengan capaian sepanjang tahun 2025, nilai ekspor semester pertama 2026 tersebut telah mencapai sekitar 42,7 persen dari total ekspor tahun lalu yang tercatat sebesar Rp 9,53 triliun. 

Pada 2025, total volume ekspor Jepara mencapai 95,75 juta kilogram dengan nilai USD 570,85 juta, melibatkan 292 eksportir yang mengirim produk ke 114 negara tujuan.

Pada 2025, struktur ekspor juga masih didominasi sektor furnitur kayu dengan nilai mencapai Rp 2,74 triliun. Disusul alas kaki sebesar Rp 2,30 triliun, tas, dompet, dan koper Rp 2,17 triliun, serta produk garmen yang menembus Rp 991,57 miliar. 

Dominasi komoditas tersebut menunjukkan industri manufaktur Jepara masih memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.

Anjar mengatakan capaian semester pertama menjadi modal positif untuk mengejar target hingga akhir 2026. 

Pihaknya optimistis nilai ekspor masih dapat meningkat pada paruh kedua tahun ini.

"Kami terus mendorong pelaku usaha meningkatkan kualitas produk, inovasi desain, serta memperluas pasar ekspor. Harapannya, capaian ekspor hingga akhir tahun bisa menyamai bahkan melampaui realisasi tahun sebelumnya," pungkasnya.(fik) 

Editor : Mahendra Aditya
buruh jepara ekspor jepara Industri tekstil dan alas kaki furniture jepara nilai ekspor