JEPARA — Distribusi bantuan bahan bacaan bermutu untuk daerah tersendat. Terutama bagi forum taman baca maupun perpustakaan desa hingga perpustakaan tempat ibadah.
Hal tersebut terjadi usai anggaran Perpustakaan Nasional dikepras Rp 343,1 miliar. Anjlok sekitar 48 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 721 miliar.
Meski tahun ini terparah, namun anggaran tersebut tampak terus susut setidaknya dalam tiga tahun terakhir. Pada 2024, anggaran Perpusnas mencapai Rp 725 miliar. Lalu pada 2025, Rp 721 miliar serta 2026 hanya Rp 377,9 miliar.
Di satu sisi, yang menjadi pembahasan santer ialah anggaran pengadaan kipas angin Kopdes Merah Putih senilai Rp 1,8 triliun.
Hal ini memicu perdebatan, mengenai dukungan terhadap pembangunan manusia melalui penyediaan bahan bacaan bermutu.
Berdasarkan data yang dihimpun Radar Kudus, pada 2025 lalu, bantuan bahan bacaan bermutu diberikan terhadap setidaknya 81 perpustakaan desa ataupun kelurahan di Jepara.
Meskipun demikian, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskarpus) Kabupaten Jepara Edy Sujatmiko menyampaikan pihaknya tetap menggalakkan diseminasi informasi. Terutama dalam penjangkauan pemustaka dengan koleksi yang kini dimiliki oleh Perpustakaan Daerah.
"Kami tetap berupaya menggalakkan literasi, tetap berjalan, apa adanya," sebutnya, pada Senin (20/7).
Di samping itu, Edy menyebut, pihaknya juga tengah berupaya menghadirkan inovasi, agar dapat mendukung minat baca masyarakat. Terutama melalui akses dan layanan digital.
Terpisah, di tengah kabar pemangkasan anggaran Perpusnas 2026, denyut gerakan literasi di Kabupaten Jepara diusahakan tetap bergerak. Sekalipun senyap, dari desa ke desa.
Melalui program Relawan Literasi Masyarakat (Relima), sebuah motor berwarna biru bernama Si MoLi (Motor Literasi) berkeliling dari sekolah ke sekolah, perpustakaan desa, hingga taman bacaan masyarakat (TBM). Membawa buku sekaligus menghadirkan pengalaman membaca yang menyenangkan bagi anak-anak.
Relawan Relima, Hasan, menyebutkan selama dua bulan belakangan, ia tidak hanya melakukan pendampingan kepada pengelola perpustakaan dan komunitas literasi. Tetapi juga menghadirkan inovasi Si MoLi ‘Sapa Teman Baca’ sebagai layanan literasi bergerak, yang menjangkau langsung anak-anak.
Dengan mengendarai motor yang dimodifikasi menjadi perpustakaan mini, Hasan membawa puluhan buku bacaan ke berbagai wilayah.
Anak-anak tidak hanya diajak membaca bersama, tetapi juga mengikuti kegiatan membaca nyaring (read aloud), mendengarkan dongeng, berdiskusi, hingga mengikuti program Berzine, yaitu kegiatan pascabaca yang mengajak peserta membuat zine atau buku mini berdasarkan cerita yang baru mereka baca.
Menurutnya, membaca tidak boleh berhenti ketika buku ditutup. "Kami ingin anak-anak tidak hanya selesai membaca, tetapi juga mampu mengolah gagasan, menulis, menggambar, dan menceritakan kembali pengalaman membacanya. Berzine menjadi media agar membaca melahirkan kreativitas," ungkapnya.
Sependek ini, ia telah mengunjungi berbagai lembaga pendidikan dan ruang literasi masyarakat, di antaranya SDN 1 Guyangan, SDN 2 Bangsri, SDN 5 Bangsri, TBM Isyakrimah, MAN 2 Jepara, SMP Negeri 1 Kedung, TBM RA Kartini Welahan.
Rumah Bimbel Pecangaan, Perpustakaan Desa Bina Ilmu Sukodono, Perpustakaan Desa Pandan Sari Kedungcino, Perpustakaan Desa Ajisaka Watuaji, Perpustakaan Desa Bondo Cerdas, Perpustakaan Desa Anak Zaman Nalumsari, Perpustakaan Desa Tugu Jagad Bandungrejo, SDN 4 Sinanggul, SDN 2 Panggang, SDN 4 Panggang, serta SDN 2 Rengging.
Oleh sebab itu, menurutnya, dukungan negara melalui Perpusnas menjadi faktor yang sangat penting untuk menjaga keberlanjutan gerakan tersebut.
Ia berharap ada solusi atas pemangkasan anggaran Perpusnas. Karena hal itu tidak hanya menjadi persoalan administratif, melainkan sebagai masalah investasi terhadap pembangunan manusia.
"Relawan, guru, pustakawan, dan komunitas memang menjadi ujung tombak di lapangan. Tetapi mereka membutuhkan negara yang hadir melalui kebijakan, program, dan dukungan anggaran. Apa yang kami lakukan di Jepara hanyalah satu contoh kecil bagaimana program Perpusnas benar-benar dirasakan manfaatnya hingga ke desa dan sekolah," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya