JEPARA — Program baru, harapan baru. Animo masyarakat untuk menyekolahkan anak di Sekolah Rakyat (SR) Terpadu Kabupaten Jepara menggeliat.
Kuota setiap jenjang, baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) serta Sekolah Menengah Atas (SMA) full. Terpenuhi semua.
Selanjutnya, keterpenuhan kuota tersebut akan dibagi ke dalam tiga rombongan belajar (rombel).
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermasdes) Kabupaten Jepara, Muh Ali, melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Fakir Miskin, Tri Mulyo Mardi Santoso, menilai tingginya minat masyarakat tidak lepas dari keberhasilan pelaksanaan Sekolah Rakyat pada tahun sebelumnya.
Menurutnya, pada periodisasi sebelumnya, masyarakat masih melihat Sekolah Rakyat sebagai program rintisan.
Sehingga belum banyak yang mengetahui gambaran pelaksanaannya.
Memasuki tahun kedua, masyarakat mulai memahami konsep sekolah berasrama tersebut. Getok tular. Mendapatkan informasi yang tak kalah menyenangkan.
Meski harus diasramakan, namun tiada biaya yang membebani siswa beserta wali murid. Gratis. Terlebih ini dikhususkan untuk keluarga dari kalangan pra sejahtera.
"Tahun kemarin masih rintisan sehingga masyarakat belum tahu seperti apa. Sekarang sudah memasuki masa transisi tahun kedua, masyarakat sudah melihat keuntungannya. Anak-anak yang bersekolah di Sekolah Rakyat dinilai lebih terjaga dan terdidik dengan baik. Karena itu antusiasmenya sangat tinggi, terutama untuk jenjang SMP dan SMA," ungkapnya, pada Jumat (17/6).
Ia menjelaskan, mayoritas peserta didik berasal dari keluarga prasejahtera.
Program ini memang disasarkan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Agar dapat mengeyam pendidikan sekaligus pembinaan karakter melalui sistem boarding school.
Untuk jenjang SD, kuota sebanyak 90 siswa kini telah terpenuhi.
Sebelumnya, sebanyak 66 siswa telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati tahap pertama. Sementara 24 siswa sisanya kini tinggal menunggu penetapan melalui SK Bupati tahap kedua.
"SK pertama menetapkan 66 siswa SD, sedangkan SMP dan SMA masing-masing sudah 90 siswa. Untuk SD masih ada 24 siswa yang tinggal menunggu penetapan SK kedua. Sehingga kuota 90 siswa menjadi lengkap," jelasnya.
Baca Juga: Pembangunan Rumah Dinas Bupati Jepara Resmi Dimulai, Proyek Rp4 Miliar Target Rampung Desember
Tri menyebut Dinsospermasdes berperan melakukan identifikasi dan penjangkauan calon peserta didik, bersama pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial serta pemerintah kecamatan.
Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh kuota terpenuhi.
Meski pihaknya mengakui penjaringan peserta didik jenjang SD menjadi tantangan tersendiri. Sebab, tak sedikit orang tua yang semula masih berat melepas anak usia sekolah dasar untuk tinggal di asrama.
"Untuk SD memang paling sulit karena faktor usia. Kerelaan orang tua melepas anak tinggal di asrama masih menjadi tantangan," ujarnya.
Seluruh siswa dijadwalkan mulai masuk asrama pada 29–30 Juli 2026.
Selanjutnya, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dilaksanakan pada Jumat (31/7).
Setelah itu, peserta didik akan mengikuti program orientasi dan pengenalan lingkungan yang telah disusun manajemen Sekolah Rakyat selama sepekan. Termasuk agenda skrining kesehatan yang masih menunggu jadwal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara.
Dari sisi sarana prasarana, Tri memastikan fasilitas Sekolah Rakyat tergolong sangat memadai.
Seperti tersedia lapangan olahraga berstandar nasional. Lapangan berumput bagus, jogging track, maupun lapangan basket.
"Fasilitasnya jauh lebih baik. Selain olahraga, kegiatan seni dan keagamaan juga difasilitasi, seperti rebana, TPQ, dan berbagai kegiatan lain sebagaimana sekolah umum," imbuhnya.
Masing-masing jenjang pendidikan akan menampung 90 siswa yang dibagi dalam tiga rombel.
Gedung SD, SMP, dan SMA berada di lokasi yang terpisah.
Setiap jenjang juga direncanakan memiliki kepala sekolah sendiri. Bahkan dimungkinkan terdapat seorang direktur Sekolah Rakyat sebagai koordinator keseluruhan.
"Struktur organisasi dan tata kelolanya masih menunggu ketentuan dari Kementerian Sosial. Yang jelas, masing-masing jenjang direncanakan memiliki kepala sekolah sendiri," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya