JEPARA — Kapal pengangkut batu bara yang kandas di Perairan Jepara, dipastikan berada di luar zona konservasi.
Namun, potensi kerugian ditaksir mencapai Rp 5-15 miliar. Tergantung dengan jenis batu bara yang ditarik kapal tunda atau Tug Boat (TB) Transpower 215 tersebut.
Tinggi rendahnya kalori menentukan harga pasaran batu bara. Termasuk jika diperuntukkan untuk kebutuhan domestik, seperti PLN maupun industri.
Pemerintah Indonesia sendiri, mematok tarif flat khusus Domestic Market Obligation (DMO), maksimal sebesar US$ 70 per ton. Hal tersebut ditetapkan untuk stabilitas harga listrik nasional.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Tongkang Santoso 06 yang tenggelam di perairan dekat Pulau Panjang tersebut mengangkut 7221 ton batu bara.
Tujuan pelayarannya dari Banjarmasin menuju Marunda, Jakarta.
Jika harga per ton batu bara tersebut US$ 70, maka potensi kerugian atas 7221 ton batu bara yang tenggelam, mencapai Rp 9.06 miliar.
Belum lagi kerugian atas rusaknya terumbu karang serta maupun ekosistem bawah laut lainnya.
Kepala Stasiun Radio Pantai (SROP) Jepara Distrik Navigasi Semarang Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Edi Pitono, menjelaskan bahwa lokasi tenggelamnya tongkang berdekatan dengan kawasan konservasi Pulau Panjang.
Meskipun setelah pihaknya memetakan dengan peta konservasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, masih berada di luar garis konservasi.
Ia menyebutkan, jika pihak kapal telah menginformasikan adanya kendala kemiringan tongkang sejak Jumat (26/6) lalu.
Namun setelah dilakukan ballast atau penyeimbang, gagal. Sehingga dugaan kebocoran pada badan kapal tongkang tak teratasi. Seminggu kemudian, kapal tak hanya miring tapi juga kandas di perairan dengan kedalaman sekitar 10 meter tersebut.
Menurut Edi, usai nahkoda melaporkan tongkang mengalami indikasi kebocoran, kemudian meminta izin berlindung di perairan Jepara.
Lokasi tersebut juga telah digunakan kapal lain, yakni MDM Batola, yang sebelumnya mengalami insiden serupa. Bedanya, MDM Batola berhasil berlindung dan dievakuasi.
"Pada prinsipnya kami hanya menyampaikan informasi. 10 awak kapal selamat," ujarnya.
Pihaknya juga menyebutkan, saat insiden terjadi, kondisi angin cukup tenang. Berembus dari arah Tenggara dengan kecepatan 4-5 knot, serta gelombang ombak hanya 0,5 meter.
"Waktu itu, saya langsung menyampaikan kepada pihak Syahbandar atau UPP Pelabuhan," katanya.
Di samping itu, jarak daratan Jepara dengan lokasi tenggelamnya tongkang sekitar 3,5 mil.
Lebih lanjut dijelaskan, pihaknya juga terus melakukan pengawasan.
Agar kapal lain yang melintas di perairan Jepara tidak mengganggu keberadaan Pipa Gas Kalimantan-Jawa (Kalija), sebagai instalasi yang menghubungkan pasokan gas bumi dari Kalimantan ke Pulau Jawa.
Edi juga menyebut, di sekitar lokasi juga terdapat lima fasilitas tambat labuh kapal.
"Seperti untuk emergency, kapal mati, perbaikan kapal, kapal pemerintah atau kapal lain, kapal cargo dan TB," tandasnya, Kamis (16/7).
Tiga pekan berselang, namun proses evakuasi atas kapal tongkang dan muatan batu bara tersebut belum dapat dilakukan. Untuk sementara waktu, juga telah disebar jaring agar batu bara yang tenggelam tidak terbawa arus hingga ke mana-mana.(fik)
Editor : Mahendra Aditya