JEPARA — Upaya mengangkat seni ukir Jepara sebagai warisan budaya dunia, dinilai tidak cukup berhenti pada kesuksesan pameran dan peluncuran buku.
Kalangan akademisi mendorong lahirnya policy brief atau rekomendasi kebijakan, sebagai pijakan pengembangan seni ukir secara berkelanjutan.
Hal ini ditujukan agar tradisi yang telah menjadi identitas Jepara, mampu bertahan sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pengukir.
Dorongan tersebut mengemuka seiring peluncuran buku ‘TATAH: Suluk, Sulur, dan Jepara – Rekonstruksi Jepara Melalui Seni Ukir’ yang digelar di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat (10/7).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pameran seni ukir TATAH, yang sejak April 2026 telah menarik lebih dari 53 ribu pengunjung.
Sejarawan sekaligus pengajar Universitas Gadjah Mada (UGM), Arif Akhyat, menilai persoalan terbesar seni ukir Jepara saat ini bukan terletak pada kualitas karya.
Melainkan belum adanya desain kebijakan, yang mampu menjadikan ukir sebagai sumber ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
"Selama ini ukir sebagai sumber ekonomi pokok masyarakat belum menjadi solusi. Hal itu karena secara sistemik belum didesain melalui kebijakan yang akuntabel dan berkelanjutan," ungkapnya.
Menurut Arif, inovasi produk yang berkembang selama ini lebih banyak ditentukan oleh kebutuhan pasar, dibandingkan hasil pengembangan berbasis riset.
Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.
"Inovasi lebih banyak ditentukan pasar. Bahkan pasar akan tetap menjadi determinan utama perkembangan ukir paling tidak lima tahun ke depan," imbuhnya.
Karena itu, ia mendorong pembangunan ekosistem seni ukir dari bawah (bottom-up) melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan, mulai pemerintah, pelaku usaha, perajin, akademisi hingga komunitas.
Menurutnya, kolaborasi tersebut harus memiliki payung kebijakan yang jelas. Sehingga mampu menumbuhkan ketertarikan masyarakat secara alami, bukan sekadar berbasis proyek.
Di samping itu, akses terhadap pembiayaan perbankan dan pasar juga perlu diperluas bagi para pengukir.
Di tengah berkembangnya teknologi mesin CNC yang mampu memangkas waktu produksi, Arif menilai teknik ukir manual tetap memiliki posisi tawar yang amat penting.
"Ukir tradisional tetap sangat relevan sebagai fondasi ekonomi kreatif sekaligus identitas kultural Jepara," tegasnya.
Ia optimistis masa depan seni ukir Jepara masih terbuka lebar karena didukung peluang pasar, sumber daya manusia, bahan baku, inovasi, hingga jaringan pelaku industri yang terus berkembang.
Karena itu, setelah berakhirnya pameran TATAH nanti, Arif berharap seluruh hasil diskusi dan temuan akademik tidak berhenti sebagai dokumentasi semata.
"Harus ada policy brief untuk pengembangan lebih lanjut dan perubahan pola pengembangan berbasis keunggulan lokal," terangnya.
Sementara itu, penulis perempuan asal Jepara Susi Ernawati, yang turut menyusun buku tersebut, berharap karya itu menjadi khazanah dan rujukan untuk mengenalkan kembali sejarah seni ukir Jepara kepada masyarakat luas.
Menurutnya, proses penyusunan buku dilakukan melalui riset yang panjang. Karena tak sedikit pengetahuan dan keterampilan (skill heritage) seni ukir yang mulai terancam hilang.
"Buku ini mencoba merumuskan sejarah ukir Jepara dengan data riset yang tidak sederhana. Harapannya memberi manfaat besar untuk mengenal kembali seni ukir Jepara. Banyak skill heritage yang nyaris punah, sehingga menjadi perhatian kami untuk mendokumentasikannya," sambungnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat mengenal, menghargai, sekaligus ikut melestarikan seni ukir sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
Susi juga mengaku terkesan dengan antusiasme masyarakat, terhadap peluncuran buku maupun pameran TATAH di Museum Nasional.
"Saya tidak menyangka antusiasmenya sebesar ini. Sebagai warga Jepara saya senang bisa menjadi bagian dari city branding kota kami (Jepara, red) di Ibu Kota (Jakarta, red),” ujarnya.
Peluncuran buku tersebut dihadiri langsung Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, Bupati Jepara Witiarso Utomo, serta sejumlah perwakilan kementerian.
Pemerintah pusat menegaskan komitmennya memperkuat pelestarian seni ukir melalui pelatihan bersama maestro ukir, pengembangan sekolah lokakarya, hingga mendorong pengakuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO.
Bupati Jepara Witiarso Utomo merasa bangga, serta menyambut baik kehadiran buku tersebut sebagai wajah baru untuk memperkenalkan sejarah seni ukir kepada generasi muda.
Sekaligus memperkuat identitas budaya Jepara di tengah arus modernisasi.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat, seni ukir Jepara diharapkan tidak hanya terus hidup sebagai tradisi.
Tetapi juga berkembang sebagai kekuatan budaya dan ekonomi yang berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun internasional.(fik)
Editor : Ali Mustofa