JEPARA – Penemuan hamparan struktur bata kuno berukuran besar di kawasan Situs Langgar Bubrah, Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, kembali memantik perhatian publik dan pegiat sejarah. Setelah dilakukan pembersihan lahan oleh pemilik tanah, ribuan susunan bata merah kuno tampak semakin jelas di permukaan dan memunculkan dugaan baru mengenai keberadaan pusat Kerajaan Kalinyamat.
Temuan ini dinilai bukan sekadar sisa bangunan biasa. Ukuran bata yang jauh lebih besar dibandingkan bata modern, teknik penyusunannya tanpa semen, serta bentangan struktur yang memanjang hingga puluhan meter mengindikasikan adanya kompleks bangunan kuno berskala besar.
Sejumlah tokoh masyarakat, pegiat sejarah, hingga pemerintah desa kini mendesak dilakukan penelitian arkeologi secara menyeluruh agar misteri situs tersebut dapat terungkap secara ilmiah.
Baca Juga: Menggali Bekas Kerajaan Kalinyamat Bagian I: Struktur Bangunan Semakin Jelas, Butuh Perhatian Serius
Struktur Bata Diduga Bukan Pondasi, Melainkan Dinding Bangunan
Pengasuh Pondok Pesantren Nailun Najah Assalafy Kriyan, Muhammad atau yang akrab disapa Gus Mad, bersama Petinggi Desa Kriyan M. Khanafi dan sejumlah warga meninjau langsung lokasi temuan pada Selasa (7/7).
Dari hasil pengamatan di lapangan, struktur bata ternyata tidak hanya muncul pada satu titik, melainkan membentang sambung-menyambung hingga puluhan meter.
Menurut Gus Mad, temuan terbaru mengubah dugaan awal yang menyebut struktur tersebut hanya berupa pondasi bangunan.
"Awalnya saya mengira ini hanya pondasi. Tetapi setelah area dibersihkan, terlihat susunan batanya sangat tinggi. Kemungkinan besar ini merupakan bagian dari struktur bangunan atas atau dinding, bukan sekadar pondasi," ujarnya.
Bata-bata tersebut memiliki dimensi sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan bata yang digunakan pada bangunan masa kini. Karakteristik ini lazim ditemukan pada bangunan dari masa klasik di Nusantara, terutama pada situs-situs peninggalan kerajaan Hindu-Buddha maupun masa awal Islam.
Temuan Ornamen Dua Sisi Perkuat Dugaan Situs Bersejarah
Penemuan struktur bata bukanlah satu-satunya temuan penting di kawasan Langgar Bubrah.
Sebelumnya, warga menemukan sebuah panel batu berukir dua sisi yang dihiasi motif sulur-suluran. Salah satu sisi diduga menggambarkan figur Kalabhairawa, sementara sisi lainnya menampilkan sosok Apsara yang sedang menari atau berdendang.
Meski sebagian wajah ukiran mengalami kerusakan, artefak tersebut dinilai memiliki nilai arkeologis tinggi dan memperkuat dugaan bahwa kawasan ini merupakan bagian dari kompleks bangunan penting pada masa lampau.
Menindaklanjuti penemuan tersebut, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara telah melakukan peninjauan lapangan pada Juni 2026.
Selain itu, komunitas pegiat sejarah juga telah mengirimkan laporan resmi mengenai dugaan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) kepada Pemerintah Kabupaten Jepara sebagai dasar untuk penelitian lanjutan.
Diduga Berkaitan dengan Kerajaan Kalinyamat
Salah satu alasan mengapa temuan ini dianggap penting adalah letaknya yang berada di Desa Kriyan.
Dalam sejumlah sumber sejarah lokal, kawasan tersebut diyakini sebagai salah satu lokasi yang berkaitan dengan Kerajaan Kalinyamat, kerajaan bercorak Islam yang berkembang di pesisir utara Jawa pada abad ke-16 di bawah kepemimpinan Ratu Kalinyamat.
Ratu Kalinyamat dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara. Ia memimpin ekspedisi laut melawan Portugis di Malaka dan pada 2023 resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 115/TK/TH/2023.
Selama ini, penelitian mengenai Kerajaan Kalinyamat lebih banyak berpusat di kawasan Masjid dan Makam Mantingan. Sementara kawasan Kriyan yang dalam sejumlah riwayat disebut sebagai pusat pemerintahan kerajaan belum banyak diteliti secara arkeologis.
Karena itu, Gus Mad berharap pemerintah dapat memperluas fokus penelitian agar lokasi sebenarnya bekas Kerajaan Kalinyamat dapat dipastikan berdasarkan bukti ilmiah.
Situs Berdekatan dengan Warisan Budaya Lain
Petinggi Desa Kriyan, M. Khanafi, mengatakan kawasan Langgar Bubrah juga berada tidak jauh dari Situs Siti Hinggil dan Gunung Mas.
Situs Siti Hinggil sendiri telah ditetapkan sebagai Objek Warisan Budaya Kabupaten Jepara melalui Keputusan Bupati Jepara Nomor 430/410 Tahun 2018 bersama puluhan objek bersejarah lainnya.
Namun hingga kini, kajian arkeologis secara komprehensif terhadap kawasan tersebut masih sangat terbatas.
Menurut Khanafi, keberadaan sejumlah situs yang saling berdekatan menunjukkan kawasan Kriyan berpotensi menjadi salah satu pusat peradaban penting di Jepara pada masa lampau.
Ia berharap pemerintah, arkeolog, akademisi, dan sejarawan dapat duduk bersama untuk menyusun penelitian terpadu demi menyelamatkan tinggalan sejarah yang kini sebagian berada di lahan dan permukiman warga.
Perlu Penelitian Ilmiah Sebelum Menarik Kesimpulan
Meski berbagai temuan di lapangan mengarah pada dugaan adanya kompleks bangunan kuno, para pegiat sejarah menegaskan bahwa status situs tersebut masih memerlukan penelitian arkeologi yang mendalam.
Ekskavasi, pemetaan struktur, analisis artefak, hingga penanggalan material diperlukan untuk memastikan usia bangunan, fungsi kawasan, serta keterkaitannya dengan Kerajaan Kalinyamat maupun periode sejarah lainnya.
Jika hasil penelitian mendukung dugaan tersebut, Situs Langgar Bubrah berpotensi menjadi salah satu penemuan arkeologi terpenting di Jepara dalam beberapa dekade terakhir sekaligus memperkaya khazanah sejarah pesisir utara Jawa.
3 Fakta Menarik Situs Langgar Bubrah Jepara
1. Bata Berukuran Jumbo
Struktur bata yang ditemukan memiliki ukuran sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan bata modern dan disusun tanpa menggunakan semen, ciri khas teknik konstruksi bangunan kuno di Nusantara.
2. Membentang Puluhan Meter
Susunan bata tidak hanya muncul di satu titik, tetapi memanjang hingga puluhan meter. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa struktur tersebut merupakan bagian dari kompleks bangunan besar, bukan sekadar pondasi.
3. Diduga Berkaitan dengan Kerajaan Kalinyamat
Lokasi penemuan berada di Desa Kriyan yang dalam sejumlah catatan sejarah lokal disebut sebagai kawasan yang berkaitan dengan berdirinya Kerajaan Kalinyamat, meski keterkaitan tersebut masih menunggu pembuktian melalui penelitian arkeologi.