JEPARA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mulai menyiapkan langkah awal pengelolaan kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Muria.
Di antaranya melalui program konservasi lahan, berbasis kopi dan tanaman buah lainnya seluas 1.700 hektare.
Upaya ini, akan dilakukan secara berjenjang. Hingga 2033 mendatang. Desa Tempur, menjadi titik permulaan.
Program tersebut diproyeksikan menjadi pintu masuk penguatan fungsi konservasi, sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
Program itu sejalan dengan terbitnya keputusan pemerintah, mengenai perubahan fungsi sebagian kawasan hutan menjadi Tahura Muria seluas sekitar 9.445 hektare.
Kawasan tersebut berada di tiga kabupaten, meliputi Jepara, Kudus, dan Pati. Sebelumnya area ini terdiri atas sebagian kawasan Hutan Lindung, Hutan Produksi Terbatas, dan Hutan Produksi Tetap.
Tahura Muria, dibentuk untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati, perlindungan sistem penyangga kehidupan, pendidikan dan penelitian, wisata alam, pemberdayaan masyarakat sekitar hutan, hingga pengembangan jasa lingkungan.
Pengelolaan kawasan nantinya dilakukan sesuai ketentuan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Bupati Jepara Witiarso Utomo, mengatakan Kabupaten Jepara memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Sehingga perlu dijaga melalui pendekatan konservasi yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Ia menyebut, telah menjalin komunikasi dengan sejumlah perusahaan swasta, untuk mendukung investasi tanaman konservasi di kawasan Tahura.
"Kami sudah berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan yang siap mendukung penanaman di kawasan Tahura. Tahap awal dimulai dari Tempur, sekitar Oktober hingga November mendatang, disertai sosialisasi berbasis wisata," ungkapnya.
Menurut Mas Wiwit sapaan akrab Bupati Jepara, ia akan fokus melakukan konservasi lahan seluas sekitar 1.700 hektare. Dengan penanaman hampir 400 ribu pohon.
Hal tersebut disebut menjadi langkah yang ideal. Dengan penanaman per hektare sekitar 200-250 pohon.
Tanaman yang dikembangkan tidak hanya kopi, tetapi juga alpukat, petai, maupun berbagai jenis tanaman konservasi lainnya.
Pada tahap awal, Desa Tempur akan menjadi lokasi prioritas dengan komposisi sekitar 70 persen tanaman kopi.
Program ini diharapkan mampu menjaga tutupan lahan. Sekaligus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kopi masyarakat.
Dukungan terhadap konservasi Tahura Muria juga datang dari masyarakat Desa Tempur.
Salah seorang petani kopi asal Dukuh Duplak, Junaidi, menilai keberadaan Tahura akan membawa manfaat bagi warga. Terutama dalam menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus memperkuat sektor perkebunan.
"Saya sangat setuju. Dari desa sendiri sebenarnya sudah ada perencanaan bersama pak Petinggi, untuk membuat demplot bibit tanaman buah dan kayu keras,” ucapnya.
Dalam hal tersebut, dilakukan kerja sama dengan PT PLN Tanjung Jati B dan Djarum.
“Kalau dari pemerintah daerah belum ada informasi detail, namun kami di desa sudah mulai berinisiatif," imbuhnya.
Disebutkan, upaya ke depan, kawasan Desa Tempur termasuk Sumanding, juga diproyeksikan berkembang. Sebagai destinasi eduwisata kopi yang terintegrasi dengan konsep konservasi Tahura Muria.
Pengunjung nantinya dapat menyaksikan langsung proses budidaya, panen, pengolahan, hingga penyajian kopi khas lereng Muria.
Sehingga upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan, dengan penguatan ekonomi berbasis masyarakat.(fik)
Editor : Admin