Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

BPK Jateng Masih Dalami Temuan Ornamen di Kriyan, Penemuan Baru Akan Menguatkan Dugaan Kerajaan Kalinyamat

Fikri Thoharudin • Senin, 29 Juni 2026 | 22:32 WIB
TURUN LAPANGAN: Tim Penyelamatan dan Pengamanan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah serta Disparbud Jepara, tengah meninjau kondisi temuan ornamen dan struktur bata di Desa Kriyan, Kalinyamatan pada Kamis (11/6). (BPK JATENG UNTUK RADAR KUDUS)
TURUN LAPANGAN: Tim Penyelamatan dan Pengamanan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah serta Disparbud Jepara, tengah meninjau kondisi temuan ornamen dan struktur bata di Desa Kriyan, Kalinyamatan pada Kamis (11/6). (BPK JATENG UNTUK RADAR KUDUS)

JEPARA — Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah, masih mendalami hasil temuan arkeologis di kawasan Langgar Bubrah, di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan. 

Hingga kini, tim belum dapat disimpulkan. Apakah temuan dari lokasi tersebut, memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai objek diduga cagar budaya (ODCB) maupun situs cagar budaya.

Perwakilan Kelompok Kerja (Pokja) Penyelamatan dan Pengamanan BPK Jawa Tengah, Harun Arosyid, menjelaskan, saat ini tim masih melakukan proses pengkajian. 

Dengan menelaah berbagai literatur dan hasil temuan di lapangan. Agar kesimpulan yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kaidah keilmuan arkeologi.

"Kalau sudah final, laporan akan kami sampaikan. Selanjutnya bisa melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara. Apabila memenuhi syarat sebagai objek diduga cagar budaya, maka proses selanjutnya dapat ditangani oleh instansi yang membidangi cagar budaya," ungkapnya.

Menurut Harun, penetapan suatu kawasan sebagai cagar budaya tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan temuan awal. 

Keberadaan benda, struktur, maupun bangunan harus terlebih dahulu dibuktikan, lewat kajian arkeologis yang komprehensif.

"Belum bisa serta-merta menyatakan ini kawasan cagar budaya. Pertama harus ada benda atau struktur yang jelas. Setelah itu baru dapat berkembang menjadi situs. Jika terdapat beberapa situs yang saling berkaitan, barulah dapat membentuk sebuah kawasan cagar budaya," terangnya.

Ia menuturkan, kondisi struktur bata yang ditemukan di lapangan sebagian besar sudah mengalami kerusakan. Sehingga kesimpulan mengenai keberadaan situs masih terlalu dini. 

Meski demikian, tim juga mencatat adanya sejumlah makam dengan jirat yang memiliki karakteristik tertentu, dan berpotensi menjadi petunjuk penting dalam penelitian.

Fokus penelitian sementara diarahkan pada temuan batu medalion, beserta konteks struktur di sekitarnya. 

Dari temuan tersebut, tim berupaya memahami fungsi serta hubungan antarartefak yang ditemukan.

Harun mengatakan, penentuan usia sebuah temuan arkeologi tidak selalu dapat diketahui secara pasti. 

Jika tidak ditemukan prasasti atau penanggalan langsung, arkeolog menggunakan metode penanggalan relatif berdasarkan gaya, bentuk, maupun ciri khas suatu periode tertentu.

"Kalau ada prasasti tentu lebih mudah. Tetapi kalau tidak ada, biasanya menggunakan penanggalan relatif dari ciri khas artefaknya. Untuk masa Islam misalnya, ada karakter tertentu seperti yang ditemukan di Mantingan," imbuhnya.

Dalam kondisi tertentu, lanjutnya, penentuan usia juga dapat dilakukan melalui uji ilmiah seperti carbon dating, sebagaimana pernah diterapkan pada penelitian Situs Liangan di Temanggung. 

Sementara itu, pengujian logam terhadap artefak, juga dapat dilakukan untuk mengetahui komposisi material penyusunnya.

Harun mengibaratkan penelitian arkeologi sebagai proses menyusun kepingan puzzle

Setiap artefak yang ditemukan menjadi bagian dari upaya merekonstruksi kehidupan masyarakat pada masa lalu. 

Namun, rekonstruksi tersebut tidak selalu mampu mengungkap seluruh fakta sejarah, karena keterbatasan data yang tersedia.

"Setiap temuan adalah puzzle. Kami berharap nantinya muncul temuan-temuan berikutnya. Sehingga kepingan itu bisa tersusun dan memberikan gambaran yang lebih utuh tentang kehidupan masa lalu. Dugaan-dugaan yang berkembang, misalnya terkait Ratu Kalinyamat, baru bisa diperkuat apabila didukung oleh temuan arkeologis lainnya," pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
#Ornamen kuno #batu medalion #ukiran mantingan dua sisi #Ramayana Kalabhairawa Apsara #Hindu-Buddha dan Islam