Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Reaktivasi Situs Siti Hinggil sebagai Situs Cagar Budaya, Warga Kriyan Gelar Selamatan dan Serasehan

Fikri Thoharudin • Jumat, 26 Juni 2026 | 18:32 WIB
KHIDMAT: Suasana serasehan di Situs Siti Hinggil di Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan, pada Jumat (26/6). (HISYAM MALIKI UNTUK RADAR KUDUS)
KHIDMAT: Suasana selamatan dan serasehan di Situs Siti Hinggil di Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan, pada Jumat (26/6). (HISYAM MALIKI UNTUK RADAR KUDUS)

JEPARA — Suasana khidmat menyelimuti Situs Siti Hinggil di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, pada Jumat (26/6). 

Warga berkumpul. Menggelar selamatan dan serasehan sebagai ikhtiar menjaga ingatan kolektif.

Sekaligus menghidupkan kembali situs bersejarah, yang diyakini memiliki keterkaitan dengan fragmen sejarah Kerajaan Kalinyamat.

Situs Siti Hinggil Kriyan sendiri secara hukum resmi dilindungi, melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Jepara nomor 430 tahun 2018.

Meski kajian historis masih tertunda, namun masyarakat berkeinginan agar kajian arkeologis dan historis secara menyeluruh, dapat dilakukan.

Kegiatan diawali dengan pembacaan surat Yasin, hizib manaqib, penuturan riwayat tentang Siti Hinggil, hingga doa bersama. 

Acara kemudian ditutup dengan tradisi makan bersama. Menikmati hidangan yang dibawa masing-masing warga, menciptakan suasana guyub dan penuh keakraban.

Petinggi Desa Kriyan, M. Khanafi, merasa lega atas digelarnya hal tersebut. Rasa memiliki warga atas situs disebutnya cukup besar.

Menurutnya, selamatan atau barikan yang digelar masyarakat, menjadi langkah nyata untuk mempertahankan identitas situs.

Meskipun hingga kini, juga belum terdapat penanda fisik sebagai dugaan situs cagar budaya di lokasi tersebut.

"Acara seperti ini dapat menjadi ajang silaturahmi masyarakat, sekaligus upaya mempertahankan identitas lahan bersejarah ini," ujarnya, pada Jumat (26/6).

Ia juga berharap keberadaan Batu Gilang yang berada di kawasan Siti Hinggil turut mendapatkan perhatian. 

Menurutnya, situs tersebut memiliki arti penting dalam merangkai kembali sejarah Jepara. Khususnya yang berkaitan dengan masa kejayaan Kerajaan Kalinyamat.

Khanafi menilai, hilangnya keberadaan maupun cerita mengenai Siti Hinggil, akan membuat fragmen sejarah Kerajaan Kalinyamat menjadi tidak utuh.

Karena itu, ia berharap situs tersebut dapat terus dipertahankan. 

Sementara itu, perwakilan panitia, Achfaz, menyampaikan bahwa selamatan dan serasehan tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga kalinya. 

Ia mengaku bersyukur, karena partisipasi masyarakat terus meningkat dari tahun ke tahun.

"Awalnya hanya kegiatan kecil. Alhamdulillah sekarang sudah melibatkan tiga RT. Harapannya, tahun depan bisa bertambah lagi, sampai seluruh warga satu desa dapat berkumpul bersama di Siti Hinggil," sambungnya.

Sesepuh Desa Kriyan, KH Muhtadi Moroteruno, turut membagikan cerita yang diwariskan dari generasi terdahulu. 

Ia mengungkapkan bahwa pada masa lalu, peringatan Hari Jadi Jepara pernah diawali dari Siti Hinggil. Meskipun tradisi tersebut kemudian tidak lagi dilaksanakan.

Menurutnya, Siti Hinggil dibangun oleh orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi pada zamannya, baik secara lahiriah maupun batiniah. 

Ia meyakini keberadaan situs tersebut memiliki nilai historis yang istimewa. Sebab, disebut sebagai satu-satunya Siti Hinggil yang ada di Jepara. “Di tempat lain tidak ada,” tandasnya.(fik)

Editor : Admin
#Kerajaan Kalinyamat #Kriyan Kalinyamatan #Siti Hinggil #Ratu Kalinyamat #situs cagar budaya