Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jejak Ratu Kalinyamat Kembali Terungkap? Temuan Situs Kuno di Kriyan Dilaporkan ke Bupati Jepara

Fikri Thoharudin • Senin, 22 Juni 2026 | 17:20 WIB
PELESTARIAN: Proses penyerahan surat penemuan ODCB kepada Bupati Jepara melalui Bagian Umum Setda Jepara oleh M Hisyam Maliki pada Senin (22/6). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
PELESTARIAN: Proses penyerahan surat penemuan ODCB kepada Bupati Jepara melalui Bagian Umum Setda Jepara oleh M Hisyam Maliki pada Senin (22/6). (FIKRI T/RADAR KUDUS)

JEPARA — Penggiat sejarah dan budaya Jepara, kembali mendorong upaya penyelamatan peninggalan masa lalu, yang diduga berkaitan dengan era Ratu Kalinyamat. 

Pendiri Yayasan Widya Gilang Gumilang Kriyan, Hisyam Maliki (36), secara resmi menyerahkan surat kepada Bupati Jepara, pada Senin (22/6).

Surat tersebut berisi laporan penemuan objek diduga cagar budaya (ODCB) di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan. Sekaligus permohonan tindak lanjut, pelestarian situs-situs bersejarah di wilayah tersebut.

Hisyam menjelaskan, surat tersebut memuat beberapa ihwal penting. Pertama, pelaporan temuan sebuah batu, yang menyerupai arca serta struktur batu bata berukuran besar yang diduga bangunan cagar budaya.

Kedua, permohonan kepada Pemerintah Kabupaten Jepara agar melakukan pendataan, inventarisasi, serta verifikasi terhadap temuan tersebut. Guna memastikan statusnya sebagai benda cagar budaya.

Di samping itu, pihaknya juga meminta perhatian pemerintah daerah terhadap kawasan Siti Hinggil di Desa Kriyan, yang telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya sejak tahun 2018. 

Namun, hingga kini kondisi kawasan tersebut kurang terawat. Sebagian besar telah berubah menjadi area kebun, yang ditumbuhi vegetasi rimbun.

Ia mengungkapkan, tim ahli dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah telah turun ke lokasi, pada Kamis (11/6).

Terutama untuk melakukan peninjauan lapangan, didampingi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara. 

Hasil kajian lebih lanjut diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian, terhadap situs-situs bersejarah di Kriyan.

Hisyam juga berharap, agar dapat dilakukan kajian epigrafi terhadap sejumlah batu gilang, yang berada di lingkungan Masjid Al Makmur Kriyan dan kawasan Siti Hinggil. 

Tercatat terdapat dua batu gilang di kompleks Masjid Al Makmur dan satu batu gilang di kawasan Siti Hinggil. 

Salah satu batu yang berada di belakang Masjid Al Makmur, diketahui memiliki aksara Tionghoa yang dinilai mengandung jejak peradaban dan sejarah yang penting.

"Harapan kami dapat dilakukan kajian epigrafi terhadap batu-batu tersebut. Batu beraksara Tionghoa hanya ada satu, letaknya di belakang Masjid Al Makmur Kriyan. Ini tentu penting untuk mengungkap konteks sejarahnya," jelasnya.

Selain temuan batu medalion dari kawasan Langgar Bubrah tersebut, di area yang sama terdapat kompleks makam kuno dengan nisan berbahan batu karang. 

Beberapa makam bahkan memiliki simbol bulan sabit, yang diduga berkaitan dengan fase awal penyebaran Islam di Kecamatan Kalinyamatan, khususnya Jepara.

Menurutnya, berbagai tinggalan sejarah yang tersebar di Desa Kriyan berpotensi membentuk lanskap budaya yang kuat, pabila dikaji dan dikelola secara serius. 

Potensi tersebut, dinilai memiliki keterkaitan erat dengan sejarah pemerintahan Ratu Kalinyamat, yang menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Jepara.

"Upaya ini merupakan ikhtiar, agar pemerintah memperhatikan cagar budaya dan fragmen-fragmen sejarah yang diduga peninggalan masa Ratu Kalinyamat supaya tidak hilang," tambahnya.

Dalam surat yang disampaikan kepada Bupati Jepara, pihaknya juga memaparkan berbagai potensi budaya Desa Kriyan, mulai dari penyelenggaraan Festival Baratan dalam Pekan Budaya Desa Kriyan, tradisi tabuh bedug sebagai penanda datangnya bulan Ramadan, hingga keberadaan mustaka Masjid Al Makmur yang diyakini sebagai peninggalan abad ke-16. 

Berbagai warisan budaya tersebut dinilai menjadi bagian penting, dari identitas masyarakat Kriyan yang perlu dijaga keberlangsungannya bagi generasi mendatang.

“Semoga pemerintah daerah lebih peduli terkait dengan temuan dan potensi Desa Kriyan. Ini bisa jadi wisata sejarah, sekaligus memperkuat posisi Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional, apabila benar berbagai temua yang ada terkait dengannya. Atau malah justru peninggalan peradaban yang lebih tua lagi?” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#Sejarah Jepara #Desa Kriyan Kalinyamatan #Struktur bata kuno #Peradaban terkubur #Ratu Kalinyamat