Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hasil TKA Jeblok, Jepara Duduki Peringkat ke-29 atau Enam Besar dari Bawah

Fikri Thoharudin • Kamis, 18 Juni 2026 | 17:46 WIB
ASRI: Siswa SDN 3 Karimunjawa tengah berjalan kaki sepulang sekolah belum lama ini.
ASRI: Siswa SDN 3 Karimunjawa tengah berjalan kaki sepulang sekolah belum lama ini.

JEPARA — Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP di Jawa Tengah telah diumumkan. Kabupaten Jepara jeblok.

Menempati peringkat ke-29 dari 35 kabupaten maupun kota se-Jawa Tengah, dengan capaian nilai yang masih berada di bawah rata-rata provinsi.

Berdasarkan data TKA, untuk jenjang SD, siswa di Kabupaten Jepara, memperoleh nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia sebesar 62,44 dan Matematika 45,28. Dengan rata-rata TKA jenjang SD mencapai 53,86.

Sementara itu, pada jenjang SMP, capaian siswa Jepara untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia sebesar 63,81 dan Matematika 41,94, dengan rata-rata TKA sebesar 52,88. 

Posisi Jepara tercatat berada di peringkat ke-29, baik untuk jenjang SD maupun SMP. Peringkat enam dari bawah.

Sementara itu, Magelang berhasil menempati peringkat pertama, sedangkan Kabupaten Grobogan berada di posisi terbawah. 

Untuk jenjang SD, Kabupaten Rembang berada di peringkat ke-26, Kudus peringkat ke-23, Blora peringkat ke-20, dan Pati menempati posisi ke-16. 

Sementara pada jenjang SMP, Kudus berada di peringkat ke-21, Pati peringkat ke-23, Rembang peringkat ke-26, dan Blora peringkat ke-27.

Secara umum, rata-rata skor TKA di Jawa Tengah menunjukkan kemampuan literasi masih lebih baik, dibandingkan numerasi. Rata-rata nilai Bahasa Indonesia jenjang SD dan SMP mencapai 76,23, sedangkan Matematika hanya sebesar 61,34.

Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Jepara, Nur Hidayat, menilai capaian tersebut harus menjadi perhatian serius. 

Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun sekolah.

Tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga, dalam mendampingi proses belajar anak di rumah.

“Dengan hasil yang kurang maksimal ini, kami berharap semua pihak harus betul-betul memperhatikan kualitas pendidikan anak-anak Jepara. Orang tua juga harus turut andil dalam pendampingan pembelajaran di rumah, sementara guru, sekolah, dan dinas perlu terus meningkatkan kualitas peserta didik agar ada peningkatan pada tahun mendatang,” ujarnya, pada Kamis (18/6).

Ia menegaskan, kualitas dan kapasitas tenaga pendidik sebagai motor penggerak utama pendidikan perlu terus ditingkatkan. 

Selain itu, pengawasan terhadap jam belajar anak di rumah, juga harus menjadi perhatian bersama.

Menurutnya, fenomena penggunaan media sosial yang semakin masif di kalangan anak-anak, serta kebiasaan nongkrong hingga larut malam, menjadi salah satu faktor yang diduga memengaruhi menurunnya kualitas pembelajaran.

“Banyak anak-anak yang waktunya justru digunakan untuk nongkrong, bergadang, atau bermain media sosial. Jam belajar di rumah tidak dimanfaatkan dengan baik. Ini seharusnya menjadi perhatian serius semua pihak, tidak hanya dinas pendidikan dan guru, tetapi juga keluarga dalam mengawasi jam belajar anak,” tegasnya.

Ia menyebut keberadaan Peraturan Daerah tentang Ketahanan Keluarga, dapat menjadi instrumen untuk memperkuat peran orang tua. Khususnya dalam mendampingi tumbuh kembang dan pendidikan anak.

Pihaknya juga mengaku terus melakukan koordinasi dengan Disdikpora, melalui rapat kerja rutin setiap bulan. Untuk dapat mendorong peningkatan mutu pendidikan di Jepara.

“Kami selalu mengingatkan dinas pendidikan, agar terus memperhatikan kualitas pembelajaran. Kami berharap tahun depan ada peningkatan yang lebih baik,” ucapnya.

Nur Hidayat juga menyoroti potensi wilayah Pantura yang kaya hasil laut. Menurutnya, dengan asupan gizi yang baik, termasuk konsumsi ikan, dapat berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang serta kemampuan belajar anak-anak.

Selain peningkatan kualitas pembelajaran, ia mendorong agar program penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS), terus dilakukan.

“Upaya penyisiran anak putus sekolah, kolaborasi lintas dinas, serta penguatan pendidikan kesetaraan melalui PKBM dan program kejar paket, dinilai perlu lebih digalakkan. Sebagai bagian dari strategi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Jepara,” tandasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#pendidikan jepara #TKA SD SMP Jepara #TKA Jawa Tengah #Literasi dan numerasi #Siswa Jepara