JEPARA — Malam kian larut. Namun suasana di Sendang Bidadari tak kunjung sepi.
Sendang yang berada di Dukuh Krajan RT 1/RW 1, Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, justru semakin ramai.
Warga dari berbagai daerah berdatangan, tiada putus-putusnya. Mereka datang utuk mengikuti tradisi, malam 1 Muharram atau yang jamak disebut Malam Satu Suro.
Di area sendang yang memiliki sumber air seluas sekitar 4 x 3 meter itu, pengunjung dari berbagai usia tampak mengantre.
Anak-anak, remaja hingga orang tua bergantian memasuki kawasan sendang. Untuk membasuh muka maupun mandi menggunakan air yang dipercaya dapat membawa keberkahan.
Meski waktu telah menunjukkan dini hari, antrean warga tidak juga berkurang.
Sebagian pengunjung memilih mandi langsung di sendang, sementara lainnya mengisi botol-botol plastik dengan air sendang untuk dibawa pulang.
Tidak sedikit pula, para penggiat budaya yang datang khusus untuk ngumbah gaman atau mencuci pusaka.
Pengunjung tidak hanya berasal dari Desa Daren dan wilayah Jepara. Sejumlah warga dari Kabupaten Kudus, Pati hingga Grobogan juga terlihat hadir.
Warga Desa Daren, Ukriyana (40), mengaku rutin datang ke Sendang Bidadari setiap peringatan malam 1 Muharram.
Menurutnya, masyarakat meyakini air sendang dapat menjadi lantaran untuk memperoleh berbagai harapan baik. Meski tetap harus diimbangi dengan ikhtiar nyata.
"Setiap tahun memang orang-orang datang ke sini. Dipercaya bisa bikin awet muda, bikin ganteng kalau laki-laki dan cantik kalau perempuan. Tinggal cuci muka atau mandi di sini," ujarnya sumringah.
Begitupun dengan warga kelahiran Sumatra Selatan, Ria (32). Ia memang telah menikah serta mendapat orang Jepara. Sehingga ia tergugah untuk juga datang ke Sendang Bidadari.
Hal serupa disampaikan Nana (28), warga Desa Karangnongko yang datang bersama keponakannya yang masih berusia 16 tahun.
Ia turut hadir, karena meyakini adanya keberkahan yang menyertai kegiatan tersebut.
"Saya dari Karangnongko, setiap tahun ke sini, tak terhitung. Percaya akan berkah, sehingga setiap tahun saya datang, biar lebih baik dan berkah," ringkasnya.
Ketua Pelaksana Kirab Malam 1 Muharram 1448 Hijriah di Sendang Bidadari, M. Ulin Nidhom, mengatakan rangkaian kegiatan diawali dengan kirab budaya yang melibatkan masyarakat setempat.
Sebelum sendang dibuka untuk umum, terlebih dahulu digelar sejumlah prosesi adat dan keagamaan.
"Ada selamatan, manakiban, pemotongan tumpeng, kemudian manganan (makan bersama, red) Setelah itu baru sendang dibuka untuk masyarakat," jelasnya.
Menurutnya, sebagian masyarakat mempercayai bahwa mandi atau sekadar mencuci muka di Sendang Bidadari dapat menjadi salah satu lantaran terkabulnya hajat, mulai dari urusan kecantikan, jodoh hingga berbagai harapan lain.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa hal tersebut kembali kepada kepercayaan masing-masing.
"Kalau soal dipercaya bisa untuk kecantikan, jodoh ataupun lainnya, itu kembali lagi pada diri masing-masing. Yang jelas Sendang ini sudah ada sejak dulu dan airnya tidak pernah surut," ujarnya.
Ia menambahkan, puncak kegiatan biasanya berlangsung tepat tengah malam. Utamanya pada pukul 00.00.
Pada saat itu jumlah pengunjung meningkat drastis, karena masyarakat meyakini malam pergantian tahun Hijriah sebagai momentum yang baik untuk berdoa dan memohon harapan baru.
Filosofinya, air digunakan untuk bersuci. Ketika tubuh dalam keadaan suci, panyuwunan (harapan) kepada Tuhan juga akan tersampaikan secara baik.
Selain mandi di sendang, sebelumnya warga juga berburu berkat yang dibagikan saat prosesi selamatan.
Berkat tersebut dibungkus menggunakan anyaman irisan bambu dan berisi makanan yang telah didoakan bersama.
Sebagian warga meyakini makanan tersebut dapat membawa keberkahan, dalam menjalani tahun yang baru.
Nidhom menyebut, kegiatan yang terus berlangsung dari tahun ke tahun ini pun menjadi perpaduan antara ritual budaya. Termasuk sebagai sarana keguyuban antar warga, dan keyakinan masyarakat yang masih terjaga hingga kini di Desa Daren.
"Ya, banyak orang yang berdatangan. Bahkan dari luar kota," tandasnya.(fik)
Editor : Admin