JEPARA — Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter, membuat sejumlah masyarakat beralih menggunakan Pertalite. Hingga kini, Pertalite masih dijual Rp 10.000 per liter.
Perbedaan harga yang cukup jauh, mendorong warga lebih selektif. Dalam memilih bahan bakar untuk kendaraan mereka. Sekalipun tidak sesuai dengan spesifikasi mesin motor.
Berdasarkan perhitungan, pengguna sepeda motor dengan kapasitas tangki sekitar 4,2 liter, sebelumnya mengeluarkan biaya sekitar Rp 51.660 untuk mengisi penuh Pertamax, kini harus merogoh kocek hingga Rp 68.250.
Artinya terdapat kenaikan biaya sekitar Rp 16.590 setiap kali pengisian penuh.
Sementara itu, pemilik mobil dengan kapasitas tangki 42 liter menghadapi kenaikan yang lebih besar.
Jika sebelumnya biaya pengisian penuh mencapai sekitar Rp 516.600, kini meningkat menjadi Rp 682.500 atau bertambah sekitar Rp 165.900 per tangki.
Apabila pengisian dilakukan empat kali dalam sebulan, pengguna sepeda motor harus menambah pengeluaran sekitar Rp 66.360 per bulan.
Sedangkan pengguna mobil, perlu menyiapkan biaya tambahan hingga Rp 663.600 setiap bulan.
Manajer SPBU Pertamina 44.594.09 Mulyoharjo, M. Syukron Ni’am, mengatakan dampak kenaikan harga, sudah mulai terlihat pada pola pembelian konsumen.
Menurutnya, terjadi penurunan penjualan Pertamax yang diikuti peningkatan permintaan Pertalite.
“Di lapangan, terpantau ada penurunan penjualan produk Pertamax dan kenaikan penjualan Pertalite,” ujarnya, pada Senin (15/6).
Meski demikian, ia memastikan pasokan bahan bakar di SPBU tetap aman.
Distribusi dari Pertamina, juga berjalan lancar. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terkait ketersediaan stok. “Stok aman dan pengiriman lancar,” ringkasnya.
Warga Desa Langon Kecamatan Tahunan, M. Fatkhu Falah (28), mengaku kini lebih memilih menggunakan Pertalite untuk sepeda motor Honda Vario 125 miliknya.
Pertimbangan utama karena faktor ekonomi, di tengah berbagai kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi.
Menurutnya, antrean di jalur Pertalite memang cenderung lebih panjang dibanding sebelumnya.
Namun, hal itu tidak mengubah keputusannya untuk beralih dari Pertamax ke bahan bakar bersubsidi tersebut.
“Sekarang Pertalite saja. Pertimbangannya ekonomi. Buat riwa-riwi sehari-hari,” ucapnya.
Fatkhu juga mengubah kebiasaan saat mengisi bahan bakar. Jika sebelumnya hanya membeli bensin senilai Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu, kini ia lebih sering mengisi penuh tangki kendaraan agar tidak terlalu sering mengantre di SPBU.
Hal serupa dirasakan Titah Ulfiani Cholil (26). Ia merasakan antrean pembelian BBM selalu mengular.
Namun, menurutnya muncul kekhawatiran baru terkait ketersediaan Pertalite di masa mendatang. Ia mengaku khawatir apabila stok menjadi sulit diperoleh atau kebijakan subsidi mengalami perubahan.
“Motor saya Scoopy, saya belinya Pertalite. Justru yang saya rasakan, adanya kekhawatiran baru. Takut tiba-tiba stok Pertalite susah dicari atau tidak disubsidi lagi,” ujarnya.
Kekhawatiran itu membuatnya mengubah pola pembelian bahan bakar. Jika sebelumnya mengisi bensin sesuai uang tunai yang tersedia di dompet, kini ia lebih memilih mengisi penuh tangki kendaraan setiap kali datang ke SPBU.
“Sekarang sekali ngisi bensin full terus. Dulu seadanya uang cash di dompet, kalau cuma Rp 15 ribu juga tidak masalah karena besok bisa ngisi lagi,” pungkasnya.(fik)
Editor : Admin