JEPARA — Temuan ornamen dua sisi, dari Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, menarik perhatian Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah.
Pasalnya, ornamen tersebut di satu sisi berukiran Kalabhairawa. Sementara pada sisi lainnya, bermotif sulur-suluran khas tanaman dan bunga menjalar.
Sebelumnya, diduga ini merupakan satu fragmen. Yang menandakan masa peralihan Hindu-Buddha dan Islam. Apalagi ditemukan di kawasan yang diduga bekas Kerajaan Kalinyamat.
Di samping itu, juga ditemukan struktur bata kuno. Menyerupai benteng yang memanjang, masih terkubur di dalam tanah.
Tak hanya itu, diameter bata tersebut juga terbilang besar. Memiliki lebar 14,5 cm, panjang 29,5 cm dan tebal 5-7 cm.
Bata ini jauh berbeda dari bata modern yang cenderung kecil. Bahkan dari sejumlah bata yang terlihat bercecer, juga terdapat motif tertentu, baik guratan, menjalar, ataupun melingkar.
Menindaklanjuti temuan tersebut, tim BPK Jawa Tengah turun langsung ke lokasi. Untuk melakukan asesmen lapangan pada Kamis (11/6).
Dalam asesmen tersebut, BPK Jawa Tengah, menurunkan dua personel dari Pokja Penyelamatan dan Pengamanan. Yakni Harun Arosyid serta Wahyu Broto Raharjo.
Termasuk juga didampingi oleh Kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara, serta Kabid Kebudayaan dan jajaran.
Perwakilan Kelompok Kerja (Pokja) Penyelamatan dan Pengamanan BPK Jawa Tengah, Harun Arosyid, mengatakan kunjungan tersebut dilakukan, sebagai tindak lanjut atas pemberitaan mengenai temuan yang diduga sarat nilai sejarah dan budaya.
"Kami melakukan asesmen lapangan dalam rangka menindaklanjuti informasi dari media massa tanggal 6 Juni, yang kami terima pada 9 Juni," ujarnya, pada Kamis (11/6).
Dari sejumlah temuan yang diamati, Harun menyebut salah satu yang paling menarik perhatian, ialah sebuah batu berbentuk medalion dengan relief pada kedua sisinya.
"Yang menarik ialah batu temuan berbentuk medalion yang mempunyai relief di kedua sisinya yang kontras. Satu sisi merupakan penggambaran tokoh, sedangkan sisi lainnya berupa sulur dengan penggambaran yang cukup nyata," terangnya.
Meski demikian, pihaknya belum dapat memastikan asal-usul maupun periode benda tersebut.
Menurutnya, diperlukan kajian lebih lanjut. Dengan mendasarkan pada berbagai literatur dan data pembanding.
"Ini masih perlu dikaji terlebih dahulu dengan mendasarkan literatur yang ada. Tetapi berdasarkan pengamatan sementara, tipologi benda ini mirip dengan yang ada di Mantingan (Kompleks Makam Ratu Kalinyamat dan Masjid Astana Sultan Hadlirin, red)," jelasnya.
Mengenai kemungkinan keterkaitan temuan tersebut dengan masa Kerajaan Kalinyamat ataupun masa klasik jauh sebelumnya, Harun belum dapat memberikan kesimpulan. "Kalau itu perlu kami kaji," hematnya.
Selain batu berornamen, tim juga mengamati struktur bata yang muncul di lokasi.
Berdasarkan pengamatan awal, struktur yang terlihat saat ini hanya tersisa sekitar tiga lapis bata, pada kedalaman kurang lebih satu meter dari permukaan tanah.
"Kami melihat hanya tinggal tiga lapis bata yang nampak di kedalaman kurang lebih satu meter dan kondisi bagian atasnya sudah hancur," katanya.
BPK juga menilai belum diperlukan langkah ekskavasi atau penggalian arkeologis dalam waktu dekat.
Pertimbangan tersebut diambil karena di bagian atas lokasi masih terdapat sejumlah makam kuno, yang perlu diperhatikan keberadaannya.
"Sementara belum perlu dilakukan ekskavasi, melihat di sisi atas masih terdapat beberapa makam kuno," sebutnya.
Ke depan, BPK Jawa Tengah akan melakukan kajian lebih mendalam, terhadap temuan tersebut melalui penelusuran literatur. Serta berkoordinasi dengan Disparbud Kabupaten Jepara.
Hasil kajian nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai nilai sejarah temuan di Kriyan.
Termasuk kemungkinan keterkaitannya dengan perkembangan peradaban dan pusat kekuasaan Ratu Kalinyamat pada abad ke-16 tersebut.
“Akan kami kaji lebih dalam lagi,” pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya