JEPARA — Setidaknya hampir 17 tahun hidup dan bekerja di Yordania, tanpa menerima gaji sebagaimana mestinya.
Sri Titik Azizah (41), warga Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, akhirnya bisa kembali menginjakkan kaki di kampung halamannya.
Kepulangan perempuan tersebut menjadi akhir, dari perjalanan panjang yang penuh penderitaan. Sejak berangkat sebagai tenaga kerja wanita (TKW) pada 2009 silam.
Saat ini Sri telah kembali berkumpul dengan keluarganya di Desa Kepuk.
Bahkan, putri semata wayangnya yang kini berusia sekitar 20 tahun, telah menikah saat dirinya masih berada di luar negeri.
Setelah hampir dua dekade terpisah, kepulangan Sri menjadi momen haru. Sekaligus awal baru, untuk memulihkan kehidupan yang lama terenggut di negeri orang.
Kepala Bidang Rehabilitasi, Perlindungan dan Jaminan Sosial (RPJS) di Dinsospermasdes Kabupaten Jepara, Iman Bagus Sesulih, mengatakan Sri berangkat ke Yordania pada usia sekitar 24 tahun melalui perantara pencari kerja.
Saat itu ia tertarik bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia di luar negeri, dan ditempatkan di Kota Amman, Yordania.
Namun sesampainya di negara tujuan, kondisi yang dihadapi jauh dari harapan.
Menurut Iman, Sri mengaku mengalami perlakuan kasar dari majikan pertamanya. Karena tidak tahan, ia kemudian melarikan diri dari tempat kerjanya.
"Di lokasi pertama diperlakukan kasar. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu," ungkap Iman, usai melakukan asesmen, pada Rabu (10/6).
Setelah kabur, Sri bertemu dengan sesama warga Indonesia. Kemudian membantunya mendapatkan pekerjaan lain.
Akan tetapi, nasibnya tidak banyak berubah. Di tempat kerja kedua itulah Sri bertahan selama sekitar 17 tahun tanpa pernah menerima gaji secara layak.
"Selama bekerja di lokasi kedua itu dia hanya diberi uang jajan. Tidak menerima gaji sebagaimana mestinya," katanya.
Selama bertahun-tahun, Sri juga hidup dalam keterbatasan.
Ia tidak memegang telepon seluler dan disebut kerap dikunci di dalam rumah. Sehingga sulit berkomunikasi dengan keluarga, maupun mencari bantuan dari pihak luar.
Baru pada 2025 lalu Sri berhasil keluar dari lingkungan kerjanya dan mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amman, Yordania, untuk meminta pertolongan.
Namun proses identifikasi tidak berjalan mudah. Karena ia tidak lagi mengingat alamat lengkap tempat tinggalnya di Indonesia.
"Dia hanya ingat Jepara. Setelah ditelusuri, yang masih diingat adalah Bangsri (Kecamatan, red) dan Kepuk (Desa, red). Dari situ dilakukan pencarian melalui media sosial seperti Facebook, TikTok, dan berbagai saluran komunikasi lainnya hingga akhirnya ditemukan keluarganya," jelasnya.
Setelah proses administrasi dan pemulangan selesai, Sri diberangkatkan dari Amman menuju Jakarta, pada Jumat (5/6).
Ia lantas turun di Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta.
Dinsospermasdes Jepara mulai menerima informasi mengenai kepulangan Sri dari Pemerintah Desa Kepuk, pada Minggu (7/6) malam, menjelang Senin (8/6).
Selanjutnya pihaknya melakukan koordinasi, untuk memastikan proses pemulangan berjalan lancar hingga tiba di Jepara.
"Hari Minggu malam kami dihubungi pemerintah desa. Kemudian kami berkoordinasi untuk fasilitasi penjemputan dan pascapemulangan," ujarnya.
Namun, akhirnya Pemdes melakukan penjemputan hingga ke Jakarta.
Sri baru sampai di Jepara pada Selasa (9/6). Lalu, pada Rabu (10/6) Dinsospermasdes, Baznas serta PMI Jepara, melakukan pendampingan.
Pemerintah daerah juga menyiapkan langkah pemantauan lanjutan. Mengingat kondisi psikologis dan kesehatan yang bersangkutan masih memerlukan perhatian khusus.
Iman menuturkan, selama bertahun-tahun tinggal di luar negeri, kemampuan berbahasa Indonesia Sri tidak lagi lancar.
Di samping itu, terdapat indikasi trauma akibat pengalaman panjang yang dialaminya selama bekerja di Yordania.
"Kondisi mentalnya tentu terdampak. Kami akan melakukan asesmen awal. Kalau memang diperlukan, akan kami fasilitasi pendampingan psikolog. Kondisi medisnya juga akan kami pantau," pungkasnya.(fik)
Editor : Ali Mustofa