Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

30 SPPG di Jepara Tutup Sementara Akibat Dana Tak Cair, Wali Murid Ingin Pelaksanaan Lebih Efektif di Kantin Sekolah 

Fikri Thoharudin • Senin, 8 Juni 2026 | 19:24 WIB
PERLUAS: Kondisi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Kemala di Desa Rengging, Kecamatan Pecangaan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS).
PERLUAS: Kondisi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Kemala di Desa Rengging, Kecamatan Pecangaan. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS).

JEPARA — Lagi dan lagi. Setidaknya 30 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Jepara, terpaksa menghentikan operasionalnya.

Dari total 165 dapur aktif Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jepara, puluhan SPPG itu harus berhenti sementara. Lantaran dana dari Badan Gizi Nasional (BGN) belum cair. 

Serta, 34 titik lain yang sudah jadi, masih belum beroperasi. Menunggu suntikan dana dari BGN.

Di samping itu juga terdapat tujuh dapur yang harus di-stop. Sebab kena audit, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tak standar. Bermasalah.

Kondisi ini memunculkan tanggapan dari masyarakat. Jika program MBG memang tetap dilanjutkan, orang tua siswa mengusulkan agar pelaksanaan program lebih efektif. Seperti dengan dikelola melalui kantin sekolah.

Koordinator SPPG Jepara, M. Musthofa Wildan, mengatakan keterlambatan pencairan dana sebenarnya bukan kali pertama terjadi. 

Namun, kali ini penghentian operasional dilakukan, karena batas waktu pendanaan yang seharusnya diterima pada Jumat (5/6) belum juga turun.

Pihaknya menampik, jika program MBG akan diberhentikan secara serentak. Ia, mengaku belum ada instruksi dari pusat mengenai hal tersebut. Terutama usai peralihan pucuk pimpinan BGN.

"Secara administrasi kami masih menunggu pencairan dana dari pusat. Kami mohon maaf kepada seluruh penerima manfaat. Ini hanya keterlambatan pencairan," ujarnya, Senin (8/6).

Selain itu, menurut Wildan, jumlah SPPG yang terdampak masih bersifat dinamis. 

Namun 30 titik SPPG yang sementara menghentikan distribusi makanan tersebut, berbeda dengan sembilan SPPG yang sebelumnya mengalami persoalan terkait IPAL. Meskipun dua di antaranya kini telah dapat beroperasi kembali.

"Kami belum mendapat instruksi khusus selain menunggu proses pencairan. Informasinya, pencairan dilakukan bertahap dan diharapkan mulai turun dalam beberapa hari kerja ini," ucapnya. 

Wildan menambahkan, saat ini Program MBG di Jepara telah melayani sekitar 350.852 penerima. Terdiri atas siswa dan kelompok Bumil, Busui dan Balita (B3).

Setiap SPPG rata-rata mendistribusikan 1.500 hingga 3.000 porsi makanan per hari. Kapasitas ini, kini lebih ramping dibanding tahap awal pelaksanaan program.

Beberapa wilayah seperti Keling dan Donorojo disebut masih memiliki jumlah layanan yang relatif besar. 

Sedangkan wilayah Jepara Kota, Pecangaan, Kedung, dan Tahunan memiliki cakupan penerima yang lebih kecil.

Sementara itu, penghentian sementara distribusi MBG juga telah diinformasikan kepada para orang tua siswa melalui grup WhatsApp sekolah. 

Salah satunya diterima oleh wali murid SDN 2 Sowan Lor, Junaidi.

Dalam pesan tersebut disampaikan bahwa mulai Senin (8/6), MBG berhenti beroperasi sampai waktu yang belum ditentukan. 

Sementara itu, para siswa diminta kembali sarapan dari rumah seperti sebelum adanya program tersebut.

Junaidi mengaku tidak terlalu keberatan dengan penghentian sementara itu. 

Menurutnya, selama ini anak-anak sebenarnya telah terbiasa sarapan di rumah. 

Bahkan, ia menilai pelaksanaan MBG akan lebih efektif, jika menggandeng kantin sekolah dibandingkan dapur terpusat. Dapur, sebutnya, terlalu memakan biaya. 

"Kalau menurut saya lebih efektif lewat kantin-kantin sekolah. Lebih irit juga, karena anak bisa memilih makanan yang memang disukai. Kadang menu yang dikirim (SPPG, red), malah tidak dimakan karena tidak cocok," sambungnya.

Ia menegaskan, apabila program MBG tetap dilanjutkan, anggaran yang ada akan lebih tepat sasaran bila dikelola melalui kantin sekolah. Ataupun dihentikan dan anggaranya, dialihkan untuk mendukung kebutuhan pendidikan maupun kesehatan anak.

“Anggarannya lebih efektif untuk KIP atau kesehatan. Kalau anak tidak suka menunya saja, dikumpulkan oleh gurunya, untuk pakan ternak,” pungkasnya.(fik) 

Editor : Mahendra Aditya
#SPPG berhenti beroperasi #MBG berhenti beroperasi #MBG di Kantin Sekolah #MBG Jepara #Mbg