JEPARA — Tabir yang menutup sejarah era Ratu Kalinyamat, perlahan mulai tersingkap. Warga Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, mengungkap hasil temuan ornamen langka.
Pasalnya corak yang ditemukan kali ini, memiliki ukiran pada kedua sisinya. Satu sisi menggambarkan ukiran flora khas sulur-suluran.
Sementara sisi yang lainnya, menggambarkan Kalabhairawa Tantra era Hindu-Buddha.
Pendiri Yayasan Widya Gilang Gumilang Kriyan, Hisyam Maliki (36) menceritakan awal mula penemuan ornamen tersebut.
Sebelumnya ornamen berbahan andesit putih tersebut ditemukan pada akhir 2022 lalu.
Kemudian disimpan di kediaman Pengasuh PP. Nailun Najah Assalafy Gus Muhammad (Gus Mad).
Pada Sabtu (6/6) siang, Hisyam beserta Gus Mad mengajak menilik lokasi penemuan tersebut. Tepatnya di salah satu daerah yang disebut sebagai Langgar Bubrah.
Gus Mad menunjukkan satu titik, di bawah rumpun bambu, tempatnya dahulu menemukan ornamen tersebut. Ornamen ditemukan saat mereka sedang bekerja bakti, membersihkan area makam setempat.
Setelah diukur, ornamen tersebut memiliki panjang 60 cm, lebar 36 cm, serta tebal 12,5 cm.
Corak dan bahannya sama persis dengan ornamen yang kini berada di Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan, yang juga satu kompleks dengan Makam Ratu Kalinyamat.
Hisyam, yang juga pemerhati sejarah Jepara, menyampaikan seperti Situs Siti Inggil di Desa Kriyan, diyakini sebagai bekas pusat pemerintahan atau Keraton Kerajaan Kalinyamat.
Sebagaimana Sejarawan Belanda, HJ. De Graaf dalam buku Awal kebangkitan Mataram, menuliskan bahwa Ratu Jepara sesungguhnya merupakan satu-satunya tokoh Jawa dari abad ke-16, yang melalui berita-berita Portugis, memiliki pelabuhan besar kerajaan.
Dituliskan bahwa kala itu, orang Jawa menamakan Jepara menurut istananya, Kalinyamat. Terletak di sebelah utara Sungai Jepara, kotanya terletak di sebelah selatan.
Lebih lanjut Hisyam menyampaikan, jika ornamen tersebut selain menyiratkan peralihan masa Hindu-Buddha dan Islam era Ratu Kalinyamat juga memiliki fungsi lain.
Yakni sebagai estetika sosial, serta simbol-simbol mengenai filosofi kehidupan.
Beririsan kuat dengan fasad bangunan depan Masjid Mantingan yang menampilkan seni akulturasi kebudayaan Jawa, Hindu-Buddha, Tionghoa serta Islam.
"Ornamen dua sisi ini, penggambaran yang berbeda. Prediksi saya ini masa peralihan, Majapahit - Demak - Kalinyamat," ungkapnya, Sabtu (6/6).
Menurutnya, sekalipun pada pertengahan abad ke-15 Majapahit runtuh, hilangnya kerajaan bercorak Hindu-Budha tersebut, tidak serta merta membuat para pemeluknya habis.
"Ya, pengaruhnya (Hindu-Buddha, red) tetap ada. Ornamen ini ditemukan di Desa Kriyan, di kompleks TPU Mbah Sidiq atau Raden Kusuma Abdul Jalil," sebutnya.
Hisyam turut menduga, sosok penggambaran dalam ornamen ialah Kalabhairawa yang berkalung kepala tengkorak, beserta lima aspara atau perempuan makhluk surgawi.
"Meskipun wajahnya sudah rusak, tapi masih dapat dilihat. Lima aspara, satu di antaranya memegang alat musik seperti gendang kecil," ucapnya.
Sementara di satu sisi, Hisyam menyebutkan terdapat sejenis taman air mancur di sisi bawah ornamen. Pada bagian tengah sulur-suluran bermotif floral, serta pada bagian atas ada setengah lingkaran.
"Kami belum tahu, apakah suasana dalam penggambaran ini siang atau malam. Yang jelas, saya yakin ornamen ini tidak hanya satu. Melainkan bagian dari sejumlah ornamen yang memiliki cerita, yang saling terhubung satu sama lain," terangnya.
Temuan ini menandai babak baru yang cukup penting. Terlebih Ratu Kalinyamat telah resmi, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2023.
Jika dalam catatan Portugis, Ratu Kalinyamat dikenal karena keberaniannya melawan kolonial, temuan ini jadi pemerkuat. Dari satu keping benteng ataupun bangunan Istana Kerajaan Kalinyamat.
"Saya kira ini tidak hanya satu, mungkin yang lain masih terkubur. Ini sangat menarik karena punya dua sisi, berbeda dengan ornamen yang ada di Masjid Mantingan, flora dan sulur-sulurannya hanya tampak satu sisi," ucapnya.
Di satu sisi, Gus Mad, juga berharap dari Pemerintah Daerah (Pemda) Jepara punya kepedulian yang lebih besar. Berkenaan dengan situs-situs maupun kawasan yang diduga sebagai Kerajaan Kalinyamat.
Hingga saat ini, masih jamak ditemui bata serta bebatuan merah besar, yang diduga sebagai bagian dari benteng maupun inti dari Kerajaan Kalinyamat.
"Kami berharap, ada upaya yang nyata dari Pemda. Untuk menyelamatkan warisan budaya dan sejarah ini," pungkasnya.(fik)
Editor : Ali Mustofa