JEPARA — Jalur penghubung Desa Sumanding Kecamatan Kembang, menuju Dukuh Duplak Desa Tempur Kecamatan Keling, masih memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi.
Namun sejak diresmikan pada Sabtu (23/5) hingga kini, sudah didatangi para warga dari luar desa dan daerah. Untuk sekadar nongkrong ataupun trail-trailan.
Pemkab Jepara pun telah menyiapkan anggaran Rp 500 juta pada perubahan APBD tahun ini, untuk pembangunan bahu jalan hingga pengerasan jalur, setidaknya 6,5 kilometer antar permukiman penduduk di dua desa tersebut.
Kendati demikian, Camat Keling Lulut Andi Ariyanto menyampaikan kekhawatirannya sekaligus mengimbau pada masyarakat.
Sebab, oondisi medan yang didominasi tanjakan, turunan curam, hingga karakter tanah merah yang labil jika usai diguyur hujan.
Pihaknya mengimbau kepada masyarakat, yang memanfaatkan jalur tersebut untuk kegiatan trail-trailan maupun wisata alam agar selalu memperhatikan faktor keselamatan.
Menurutnya, kawasan tersebut memang menawarkan pemandangan alam yang menarik, namun karakteristik medannya masih belum aman.
"Kami juga telah berkoordinasi, dengan pemdes dan pihak terkait. Bagaimana mempersiapkan jalur tersebut sebelum ditangani oleh PUPR untuk pengerasan jalan," sebutnya.
Lulut menjelaskan, sekalipun separuh jalan memiliki karakter bebatuan. Namun sisanya merupakan medan tanah merah, jika hujan mengguyur menyebabkan permukaan jalan menjadi licin.
Selain itu, di sejumlah titik masih terdapat potensi longsoran kecil dan material batu yang dapat membahayakan pengendara.
Pemerintah Kecamatan Keling juga mengingatkan, agar masyarakat maupun komunitas trail tidak memaksakan diri melintas.
Kecuali bagi warga setempat yang telah biasa lewat jalur tersebut.
Sekalipun kini, daerah tersebut menjadi akses antarwilayah, jalur Sumanding-Duplak belakangan mulai dikenal sebagai salah satu rute wisata dadakan. Yang menarik minat pengunjung, khususnya di kawasan lereng Muria bagian utara.
Meski. demikian, juga diingatkan bahwa tidak ada foto dan video yang seharga nyawa. Sehingga para wisatawan yang berkunjung tidak diperkenankan untuk nekat, melebihi batas-batas kunjungan dan sejumlah kayu darurat yang telah dipasang oleh warga maupun relawan.
"Masih berproses semuanya. Termasuk kawasan ini kan sudah masuk menjadi Kawasan Tahura. Sehingga perlu disiapkan secara berkelanjutan," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin