JEPARA — Rencana pembangunan rumah dinas (rumdin) Bupati Jepara yang baru, tidak lagi menyentuh kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
Sebelumnya, rencana pembangunan rumdin di belakang Pendopo Kabupaten Jepara ditentang sejumlah pihak.
Terlebih, usai Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan eks rumdin yang satu kompleks dengan Pendopo Kabupaten, pada Sabtu (15/11) tahun lalu.
Selama setidaknya enam bulan, Bupati Jepara Witiarso Utomo tak memiliki rumah dinas. Sebab, rumdin yang ditempatinya telah diikhlaskan menjadi objek serta kawasan budaya sepenuhnya.
Jadi Museum Kartini yang baru, selain museum yang kini berada di kawasan Alun-alun Jepara I.
Sehingga, kini kompleks Museum Kartini tersebut, dapat disiapkan lebih matang, untuk memperoleh status cagar budaya tingkat nasional.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan bersejarah, yang selama ini menjadi salah satu ikon Kota Jepara. Terlebih soal tempat kelahiran gagasan Kartini.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara bukan tanpa alasan, memilih menyesuaikan pembangunan fasilitas pemerintahan. Dengan prinsip pelestarian budaya dan kearifan lokal. Yang selama ini telah melekat kuat di lingkungan Pendopo Kartini.
Pelepasan rumdin yang lama, yang saat ini jadi satu kawasan Museum Kartini, bukanlah hal yang murah.
Melainkan modal besar, yang diwariskan oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo untuk masyarakat Jepara.
Tak ada lagi perlu permohonan panjang, untuk hanya sekadar masuk ke ruang pingit Kartini. Karena tempat tersebut bukan lagi jadi rumah dinas. Secara keseluruhan, ini menjadi ruang publik.
Yang diharapkan dapat membidani kelahiran gagasan-gagasan dan ide baru, bagi para pemuda di Jepara secara khusus.
Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Jepara, Aditya Hendrayana, menjelaskan bahwa desain rumah dinas yang akan dibangun, telah diselaraskan dengan karakter bangunan Pendopo Kartini.
Lokasi pembangunan Rumdin Bupati yang baru itu, atau pengganti rumdin yang diikhlaskan jadi museum, berada di bagian belakang kompleks Setda Jepara.
Menurutnya, konsep arsitektur yang digunakan mengusung bentuk joglo yang dipadukan dengan ukiran khas Jepara. Termasuk lantainya, dengan corak motif kuno.
Desain tersebut dipilih, sebagai upaya menghadirkan identitas lokal. Sekaligus menjaga keserasian visual kawasan pemerintahan, yang berdampingan dengan situs bersejarah.
“Pembangunan rumah dinas akan diselaraskan dengan fasad dan corak Pendopo Kartini. Konsepnya joglo dengan sentuhan ukiran khas Jepara sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal,” ujarnya.
Adit menuturkan, proses perencanaan pembangunan sebenarnya telah dilakukan sejak tahun sebelumnya.
Namun setelah melalui berbagai evaluasi dan penyesuaian, pelaksanaannya baru dapat dilaksanakan pada tahun ini.
Saat ini proyek tersebut telah memasuki tahapan pengadaan.
Pemkab menargetkan kontrak pekerjaan dapat ditandatangani pada awal Juli 2026, sehingga pembangunan fisik dapat segera dimulai.
Total anggaran pembangunan rumdin bupati yang baru tersebut, sebesar Rp 4 miliar. Sementara Harga Perkiraan Sendiri (HPS) proyek tersebut berada di kisaran Rp3,9 miliar.
“Usulan anggaran pembangunan itu telah diajukan sejak 2025,” ucapnya.
Pembangunan direncanakan dilakukan secara bertahap.
Di tahun pertama, pekerjaan difokuskan pada pembangunan hunian utama, beserta landasan pendopo.
Sementara, penyelesaian ornamen arsitektur dan pembangunan pendopo secara utuh, direncanakan dilanjutkan pada tahun berikutnya.
“Untuk tahap awal, pekerjaan konstruksi diperkirakan berlangsung selama 160 hari kalender. Jika berjalan sesuai jadwal, bangunan utama rumah dinas dapat mulai berdiri sebelum akhir tahun,” sebutnya.
Nominal tersebut disebutnya juga tidak merupakan angka yang mahal, pasalnya dekorasi bangunan akan menjadi representasi dan identitas Jepara.
Hal tersebut jadi satu modal yang juga sengaja ditanam. Utamanya dalam penyambutan tamu-tamu kehormatan, baik dari dalam ataupun dari luar negeri.
Sehingganya, pembangunan rumah dinas bukan semata hanya untuk bupati belaka. Melainkan untuk citra Jepara di mata para aktivis, pengamat, budayawan, seniman hingga pemimpin. Kebanggaan juga tercermin dari tempat ini.
Di tengah pembangunan fasilitas pemerintahan tersebut, perhatian terhadap pelestarian sejarah juga terus diperkuat.
Adit pun menyebut, asas pembangunan Museum Kartini yang berada di kawasan pendopo, ke depan dipersiapkan untuk mendapatkan pengakuan sebagai cagar budaya tingkat nasional.
Upaya itu diharapkan semakin memperkuat posisi Jepara sebagai daerah yang tidak hanya membangun infrastruktur pemerintahan, tetapi juga menjaga warisan sejarah Kartini.
Pada momen peresmian Museum Kartini Sabtu (15/11) tahun lalu, menandai upaya penguatan pelestarian warisan sejarah perjuangan emansipasi.
Di samping pembangunan rumdin, keberadaan Museum juga berfungsi sebagai pusat edukasi, dokumentasi, dan wisata sejarah yang menyimpan berbagai koleksi terkait kehidupan, pemikiran, serta perjuangan Kartini.
Nilai historisnya tidak hanya penting bagi Jepara, tetapi juga bagi perjalanan bangsa Indonesia. Sebab, Kartini menjadi simbol kemajuan pendidikan dan kesetaraan perempuan.
Dukungan terhadap pelestarian museum, sebelumnya juga disampaikan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Ia menilai, keberadaan Museum Kartini perlu terus dijaga, dan dikembangkan sebagai sarana pembelajaran sejarah serta penguatan karakter generasi muda.(fik)
Editor : Admin