JEPARA — Para penyandang disabilitas dari berbagai komunitas di Jepara, mendeklarasikan Jaringan Difabel Nahdlatul Ulama (Difa NU) Jepara.
Hal tersebut dilakukan di Pondok Pesantren Inklusi Al Anwar An Naqsabandiyah, Desa Gleget, Mayong Lor, pada Kamis (29/5).
Deklarasi ini menjadi penanda, menguatnya gerakan inklusi di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).
Sekaligus dorongan agar kaum difabel tidak lagi diposisikan sebagai objek belas kasih. Melainkan subjek dalam pembangunan sosial, pendidikan, dan keagamaan.
Setidaknya, lebih dari 100 penyandang disabilitas hadir dalam agenda tersebut.
Mereka berasal dari berbagai ragam difabel, mulai tunanetra, tunarungu, tunawicara hingga tunadaksa, yang tergabung dalam sejumlah komunitas di Jepara.
Suasana pesantren inklusi tampak hidup sejak Kamis (28/5) pagi.
Para peserta datang dengan semangat membangun ruang sosial, yang lebih ramah dan setara bagi komunitas difabel.
Sedikitnya lima komunitas difabel bergabung dalam DIFA NU Jepara, yakni Komunitas Motor Difabel Jepara (KMDJ), Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Cabang Jepara. Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Jepara, Ikatan Tuli Jepara (ITJ), serta Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Jepara.
Koordinator kegiatan Zakariya Anshori Chamim mengatakan, pembentukan DIFA NU Jepara menjadi langkah penting untuk memperkuat jejaring advokasi, pemberdayaan, sekaligus penguatan spiritual dan sosial bagi komunitas difabel di lingkungan NU.
“NU memiliki basis masyarakat yang sangat besar sampai tingkat desa. Karena itu kepedulian terhadap kelompok difabel harus menjadi gerakan bersama,” sambung Pengasuh Ponpes Al Anwar An Naqsabandiyah, KH. Mugits Nailufar.
Menurut Gus Mugits, keberadaan Difa NU dapat menjadi ruang kolaborasi antara pesantren, komunitas, dan masyarakat dalam membangun budaya inklusi yang lebih kuat.
Deklarasi tersebut juga diisi diskusi bertema NU dan Disabilitas yang menghadirkan akademisi, aktivis, dan tokoh NU.
Hadir di antaranya Dr. Mayadina Rohma Musfiroh, Dr. Muh Khamdan, Dr. Alex Yusron Al Mufti, serta Ketua LKKNU PWNU Jawa Tengah sekaligus anggota DPRD Jateng, Ulil Albab.
Dalam forum itu, Mayadina menekankan pentingnya perspektif kemanusiaan dalam memandang isu disabilitas.
Menurutnya, penyandang difabel masih menghadapi berbagai hambatan sosial, pendidikan. Hingga kesempatan ekonomi akibat minimnya kesadaran publik terhadap hak-hak difabel.
Sementara itu, Muh Khamdan menilai penghormatan terhadap komunitas difabel, merupakan bagian dari amanat konstitusi dan nilai Islam yang menjunjung martabat manusia.
Ia menyebut pesantren memiliki potensi besar menjadi pelopor ruang inklusi sosial dan pendidikan, terutama di wilayah pedesaan.
Senada, Ulil Albab menambahkan, NU memiliki sejarah panjang dalam gerakan kemanusiaan yang berpihak kepada kelompok rentan.
Ia jug menyinggung sosok Guru Bangsa, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai simbol bahwa keterbatasan fisik, tidak menghalangi seseorang untuk memimpin dan memperjuangkan nilai kemanusiaan.
“Deklarasi ini penting untuk memperkuat gerakan sosial NU yang berpihak kepada kelompok rentan. Kami berharap Difa NU dapat berkembang hingga tingkat cabang dan ranting agar pendampingan terhadap komunitas difabel semakin nyata,” tandasnya.(fik)
Editor : Admin