Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Momen Langka Perang Obor Tegalsambi 2026 Diguyur Hujan, Ribuan Orang Menolak Berteduh

Fikri Thoharudin • Selasa, 26 Mei 2026 | 01:04 WIB
MEMUKAU: Ratusan obor dari pelepah daun kepala (blarak) dan daun pisang (klaras) dihantamkan oleh 40 pemain atraksi budaya
MEMUKAU: Ratusan obor dari pelepah daun kepala (blarak) dan daun pisang (klaras) dihantamkan oleh 40 pemain atraksi budaya 'Perang Obor' di Perempatan Jalan Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara pada Senin (25/5) malam. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Prosesi Perang Obor 2026 di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan tetap berjalan, meski hujan deras mengguyur. 

Ribuan manusia tumpah ruah, pada Senin (25/5) malam. Menolak tunduk pada cuaca masa pancaroba yang tak menentu.

Sebelumnya, Perang Obor dimulai dengan kirab. Dari rumah Petinggi Desa Tegalsambi, menuju perempatan jalan setempat, yang berjarak sekitar 500 meter.

Tepat sekitar pukul 20.00 WIB, azan dikumandangkan, disusul iqamah sebagai penanda dimulainya rangkaian sakral. Puncak acara sedekah bumi desa setempat tersebut.

Kirab diiringi tabuhan terbang telon dan cahaya oncor yang berpendar. Ribuan warga dan wisatawan terus memadati ruas jalan. Meski gerimis menjadi hujan, tak ada yang benar-benar ingin beranjak pulang. Mereka tahu, malam itu bukan malam biasa. 

Kirab dibersamai Bupati Jepara Witiarso Utomo, Wakil Bupati Jepara M Ibnu Hajar, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, hingga anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Andang Wahyu Triyanto. 

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Perempatan Jalan Desa Tegalsambi, menjadi lokasi utama atraksi budaya tahunan tersebut.

MEMERCIK: Hasil obor yang diharamkan menciptakan siluet hingga percikan berwarna oranye, dalam
MEMERCIK: Hasil obor yang diharamkan menciptakan siluet hingga percikan berwarna oranye, dalam 'Perang Obor' Senin (25/5) malam.

Di perempatan jalan, lautan manusia telah menunggu setidaknya selepas Maghrib. Empat penjuru penuh sesak.

Warga berdesakan. Mencari sudut terbaik. Sementara wisatawan sibuk mengangkat telepon genggam dan kamera, untuk mengabadikan suasana.

Sebelum perang obor dimulai, generasi muda Tegalsambi menampilkan tarian tradisional, yang memadukan gerak lincah dan nuansa magis khas pesisir Jepara.

Namun baru saja acara inti hendak dilangsungkan, gerimis berubah menjadi hujan deras.

Sebagian pengunjung sempat berlarian mencari tempat berteduh. Ada yang menepi ke emper rumah warga, ada pula yang menutupi kepala dengan jaket dan plastik seadanya. 

Tetapi hujan rupanya tak mampu mengusir antusiasme ribuan orang yang datang malam itu. Mereka tetap bertahan di tengah guyuran air, demi menyaksikan satu momen yang hanya datang setahun sekali. Dan di situlah momen langka itu terjadi.

Setelah berpuluh-puluh tahun tradisi berlangsung, baru kali ini Perang Obor digelar dalam hujan deras, yang benar-benar mengguyur area pertunjukan. 

Sebanyak 400 obor dari pelepah daun kelapa kering atau blarak serta daun pisang kering atau klaras disiapkan panitia. 

40 pemain yang terdiri dari generasi muda dan generasi tua berdiri, membentuk kelompok. Mereka mengenakan pakaian lurik khas Jawa lengkap dengan topi anyaman, baju berlengan panjang, dan celana panjang yang menutup tubuh rapat.

Api pertama itu disulut oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo bersama Wakil Bupati M Ibnu Hajar dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. Tak lama kemudian, obor-obor menyala terang, di tengah hujan yang tak kunjung reda.

Jalanan berubah basah, termasuk setelan baju yang melekat di badan. Genangan air memantulkan cahaya api, yang menjilat-jilat pada kegelapan.

Di saat para pemain mulai saling menghantamkan obor, sorak-sorai warga memekik. Percikan api merah-oranye beterbangan ke udara, membumbung di tengah gelap malam dan tetes hujan yang jatuh deras. 

Sesekali penonton spontan mundur menghindari percikan bara, namun tak sedikit yang justru semakin mendekat demi melihat lebih jelas pertunjukan apik tersebut.

Suasana terasa dramatis. Api dan hujan seakan beradu di satu cawan yang sama.

Wajah-wajah pengunjung tampak terpaku. Sebagian menahan napas saat percikan api dan kepulan asap membesar. Sebagian lain, kian bersorak ketika para pemain bergerak cepat saling menyerang dan menghindar. 

Cahaya api yang menari di tengah guyuran hujan, menciptakan panorama yang sulit dilupakan.

Meski terlihat ekstrem, para pemain sudah dibekali perlindungan khusus. Panitia menyediakan minyak racikan tradisional. Yang dioleskan ke kulit pemain, untuk mengurangi rasa panas akibat percikan api. 

Karena itulah mereka tetap tenang, meski bara api beberapa kali mengenai pakaian dan tubuh mereka.

Bagi masyarakat Tegalsambi, Perang Obor bukan sekadar tontonan wisata. Tradisi ini merupakan ingatan kolektif yang diwariskan lintas generasi. 

Filosofinya bukan tentang permusuhan, melainkan tentang saling memberi suluh. Saling membantu, dan saling mengajarkan satu sama lain.

Obor dimaknai sebagai suluh kehidupan. Cahaya yang menerangi orang lain agar tidak berjalan sendirian dalam gelap. Nilai itu pula yang diyakini masih hidup, dalam pola kekerabatan masyarakat Tegalsambi, sampai kini.

Tradisi ini berakar dari cerita rakyat tentang Mbah Babadan dan Mbah Gemblong. Alkisah, Mbah Babadan merupakan peternak kaya yang memiliki banyak sapi dan kerbau. Hewan-hewan ternaknya dipercayakan kepada Mbah Gemblong untuk digembalakan.

Namun suatu kali Mbah Gemblong lalai menjalankan tugasnya. Akibatnya, ternak milik Mbah Babadan jatuh sakit, kurus, bahkan ada yang mati. Kemarahan pun terjadi.

Dalam pertengkaran tersebut, keduanya spontan mengambil obor, dari pelepah kelapa yang menyala di dekat kandang lalu saling memukulkannya. 

Anehnya, di tengah percikan api dan pertikaian itu. Hewan-hewan ternak yang semula sakit, mendadak bangkit dan berlarian kembali dalam keadaan sehat.

Peristiwa itu diyakini sebagai tersibaknya tirai gaib. Pertikaian pun dihentikan. Keduanya berdamai dan berwasiat agar perang menggunakan api tersebut, diperingati setiap tahun sebagai ritual tolak bala bagi anak cucu mereka.

Petinggi Desa Tegalsambi Agus Santoso mengatakan, tahun ini panitia sengaja memberi sejumlah sentuhan baru agar Perang Obor semakin menarik. 

Mulai dari kostum, tata cahaya, hingga narasi historis yang melatarbelakangi tradisi tersebut. “Kami ingin ada inovasi setiap tahun supaya Perang Obor semakin menarik dan tetap lestari,” ungkapnya usai acara.

Ia menyebut keterlibatan generasi muda dalam 40 pemain tahun ini menjadi bagian penting regenerasi budaya. Generasi tua tetap dilibatkan untuk mendampingi agar permainan berlangsung terkendali dan tidak terlalu emosional.

Selain aspek budaya, penyelenggaraan Perang Obor juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat. Ratusan pelaku UMKM tampak memadati area festival dengan menjajakan makanan, minuman, hingga cendera mata kepada pengunjung.

Agus berharap status Desa Wisata Tegalsambi dapat terus dari rintisan, menjadi desa wisata berkembang, maju hingga mandiri. Bahkan, ia menargetkan Perang Obor bisa menjadi prioritas pariwisata nasional.

Tradisi Perang Obor sendiri, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 2020. 

Tahun ini, acara turut dihadiri Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah serta Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB).

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen pun menyebut tradisi tersebut sebagai warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

“Ini pepeling bagi kita semua. Tanggung jawab kita untuk ngestoaken dawuh orang tua dan menjaga budaya ini agar tetap hidup,” sambungnya.

Menurutnya, patut untuk menjaga dan melestarikan tradisi atau atraksi budaya Perang Obor tersebut. "Ini menjadi destinasi wisata yang menarik. Apalagi sudah menjadi WBTb, menunjukkan usaha yang luar biasa dari masyarakat dan pemerintah," tegasnya.

Sementara itu, bagi Izaroh (17), warga asli Tegalsambi, hujan justru membuat Perang Obor tahun ini terasa berbeda. “Sempat kecewa karena hujan, tapi malah jadi seru,” ujarnya.

Dalam adat kebiasaan di Desa Tegalsambi, sudah jamak dilakukan. Biasanya satu hari menjelang pelaksanaan Perang Obor, masyarakat saling ater-ater (membagi) kepada para kerabat dan tetangga.

Berupa kintelan, yang berwarna putih dan hijau. Hal ini menunjukkan pola kekerabatan satu sama lain masih amat kental di Tegalsambi. Seperti makna obor, sebagai suluh dan penerang.(fik)

Editor : Admin
#atraksi budaya #perang obor 2026 #momen langka perang obor hujan #Tegalsambi tahunan jepara #desa wisata