JEPARA — Sebanyak 100 pelajar sekolah dasar mengikuti lokakarya Anima Wayang dalam Festival Memeden Gadhu di Jepara, Jumat (23/5/2026). Dari kegiatan itu, 15 anak terpilih tampil di hadapan ratusan penonton dengan pertunjukan bertema lingkungan dan kehidupan satwa hutan.
Anak-anak Jadi Pemeran Utama Festival Memeden Gadhu
Festival Memeden Gadhu tahun ini menghadirkan konsep berbeda dengan melibatkan anak-anak secara langsung dalam pertunjukan budaya. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut belajar membuat karakter wayang hingga mengisi suara tokoh pertunjukan.
Suasana workshop berlangsung meriah. Tangan-tangan kecil tampak sibuk memainkan wayang, sementara sebagian peserta mencoba menirukan suara hewan dengan ekspresi penuh semangat.
Ketua Program Festival Memeden Gadhu Den Hasan mengatakan pendekatan interaktif dipilih agar budaya lebih dekat dengan generasi muda.
“Anak-anak kami ajak bermain sambil belajar. Mereka dikenalkan dengan seni pertunjukan, lingkungan, sampai cara mengekspresikan gagasan,” ujarnya, Senin (25/5).
Pertunjukan Wayang Angkat Pesan Lingkungan
Lokakarya Anima Wayang menjadi agenda paling ramai dalam rangkaian festival budaya tersebut. Sekitar 100 siswa SD duduk melingkar mengikuti arahan mentor untuk memahami cerita hingga teknik pengisian suara karakter.
Dari seluruh peserta, dipilih 15 anak untuk tampil pada Sabtu (23/5) malam. Mereka membawakan pertunjukan animasi wayang bertema lingkungan dan kehidupan satwa hutan di hadapan ratusan penonton.
Cerita yang dibawakan mengangkat pesan menjaga keseimbangan alam dan hubungan antar makhluk hidup. Penonton beberapa kali memberikan tepuk tangan ketika dialog lucu dimainkan para pemain cilik.
Selain melatih keberanian tampil di depan umum, kegiatan tersebut juga membangun kemampuan kerja sama anak-anak dalam sebuah pertunjukan seni.
Festival Memeden Gadhu Dorong Budaya Tetap Relevan
Festival Memeden Gadhu telah berlangsung sejak 2009 dan kini memasuki tahun ke-17 penyelenggaraan. Tradisi tersebut bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan pada 2025.
Selain workshop wayang, festival juga menghadirkan workshop pembuatan Memeden Gadhu dan workshop zine bersama komunitas Kultuju Jaringan dari Tegal. Peserta diajak memahami budaya sekaligus menuangkan keresahan sosial dan lingkungan melalui karya visual.
Festival turut dihadiri Pamong Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara Lia Supardianik, pegiat literasi M. Ali Burhan, dan pegiat budaya Didin Ardiansyah.
Den Hasan menyebut tema ketahanan pangan akan diangkat pada festival tahun depan. Panitia ingin mengembangkan tradisi agar tetap dekat dengan kehidupan masyarakat modern.
“Tradisi harus terus hidup dan dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini. Karena itu festival tidak hanya bicara budaya, tapi juga lingkungan dan pangan,” katanya.
Melalui Festival Memeden Gadhu, budaya lokal tidak hanya dipertontonkan, tetapi diwariskan secara langsung kepada generasi muda. Pendekatan kreatif dan interaktif membuat tradisi terasa lebih hidup, relevan, dan dekat dengan kehidupan anak-anak masa kini. (fik/war)