JEPARA — Suara tawa anak-anak pecah di sela lokakarya seni pertunjukan Anima Wayang, dalam Festival Memeden Gadhu, Sabtu (23/5).
Tangan-tangan kecil tampak sibuk memainkan karakter wayang. Sementara sebagian lainnya, mencoba mengisi suara tokoh satwa hutan dengan penuh semangat.
Suasana itu menjadi warna tersendiri dalam gelaran Festival Memeden Gadhu, yang tahun ini kembali menyedot perhatian masyarakat.
Festival budaya yang telah berlangsung sejak 2009 itu, kini memasuki tahun ke-17 penyelenggaraan.
Tradisi Memeden Gadhu bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan, pada 2025 lalu.
Ketua Program Festival Memeden Gadhu, Den Hasan, mengatakan festival kali ini sengaja dirancang lebih interaktif. Supaya generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat langsung dalam proses kreatif budaya.
“Anak-anak kami ajak bermain sambil belajar. Mereka dikenalkan dengan seni pertunjukan, lingkungan, sampai cara mengekspresikan gagasan,” ungkapnya Senin (25/5).
Kegiatan yang berlangsung sejak Jumat (22/5) hingga Senin (25/5) ini, menghadirkan berbagai agenda, mulai dari workshop Anima Wayang dari Solo, workshop pembuatan Memeden Gadhu, hingga workshop zine bersama komunitas Kultuju Jaringan dari Tegal.
Lokakarya Anima Wayang, menjadi salah satu agenda yang paling ramai diminati. Sekitar 100 pelajar sekolah dasar duduk melingkar mengikuti arahan mentor.
Mereka belajar membuat karakter wayang, memahami cerita, hingga mencoba menjadi pengisi suara.
Sesekali ruangan dipenuhi gelak tawa, ketika anak-anak mencoba menirukan suara hewan atau tokoh pewayangan dengan gaya khas masing-masing.
Namun dari suasana santai itu, mereka perlahan belajar membangun keberanian tampil di depan umum dan bekerja sama dalam sebuah pertunjukan.
Menariknya, dari seluruh peserta dipilih 15 anak, tampil pada Sabtu (23/5) malam harinya di hadapan ratusan penonton.
Dengan penuh percaya diri, mereka memainkan pertunjukan animasi wayang. Bertemakan lingkungan dan kehidupan satwa hutan.
Cerita yang dibawakan tidak sekadar menghibur. Pertunjukan itu membawa pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Serta hubungan saling ketergantungan antar makhluk hidup.
Penonton beberapa kali tampak bertepuk tangan, ketika para pemain cilik berhasil memainkan dialog-dialog lucu yang disisipkan dalam cerita.
Selain pertunjukan wayang, peserta festival juga diajak memahami proses pembuatan Memeden Gadhu.
Mereka mempelajari bentuk, simbol, hingga nilai budaya yang diwariskan turun-temurun dalam tradisi tersebut.
Di sudut lain lokasi festival, suasana tak kalah hidup terlihat dalam workshop zine. Anak-anak muda tampak sibuk menggambar, menulis, dan menyusun cerita visual tentang keresahan sosial maupun lingkungan sekitar mereka.
Festival ini turut dihadiri Pamong Budaya di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara Lia Supardianik, pegiat literasi M. Ali Burhan, serta pegiat budaya Didin Ardiansyah.
Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya, yang melibatkan generasi muda secara langsung.
Hasan menyebut, tahun depan Festival Memeden Gadhu akan diarahkan pada isu ketahanan pangan.
Pihaknya ingin menggali kembali kuliner masa lampau, diversifikasi pangan ala petani. Hingga pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi kreasi makanan yang memiliki nilai ekonomi.
“Tradisi harus terus hidup dan dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini. Karena itu festival tidak hanya bicara budaya, tapi juga lingkungan dan pangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, melalui Festival Memeden Gadhu, tradisi tidak lagi terasa jauh atau kuno. Namun, hadir sebagai ruang bermain, belajar, dan berekspresi bagi generasi muda.
Sekaligus pengingat bahwa budaya dapat terus hidup ketika diwariskan dengan cara yang menyenangkan dan relevan dengan zaman.
“Arak-arakan Memeden Gadhu juga berlangsung meriah. Semua generasi, tua, muda hingga anak-anak ikut berpartisipasi. Semoga ini menjadi babak kebangkitan tradisi dan budaya,” pungkasnya.(fik)
Editor : Admin