JEPARA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara, menyiapkan program konservasi lahan seluas 1.700 hektare. Hal tersebut akan dilakukan pada 2026 hingga tahun 2033 mendatang, di wilayah pegunungan Muria.
Program dukungan corporate social responsibility (CSR) perusahaan ini, diproyeksikan tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan. Namun juga memperkuat ekonomi masyarakat, utamanya melalui pengembangan komoditas kopi.
Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan, Desa Sumanding dan Desa Tempur memiliki potensi besar, untuk dikembangkan sebagai pusat produksi sekaligus konservasi.
Menurutnya, program tersebut akan melibatkan dukungan CSR perusahaan dalam bentuk penanaman tanaman produktif dan konservasi.
Dari situ, akan terdapat keuntungan ganda. Ada pengembangan dan peningkatan produksi kualitas maupun kuantitas tanaman kopi, untuk ekonomi masyarakat sekaligus konservasi lingkungan.
Tanaman yang dikembangkan tidak hanya kopi, tetapi juga alpukat, petai, dan tanaman penunjang konservasi lainnya.
Pada tahap awal, program akan difokuskan terlebih dahulu di Desa Tempur, dengan dominasi sekitar 70 persen tanaman kopi.
Pemerintah daerah juga mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat, agar program tersebut dapat berjalan berkelanjutan. Dari sisi budidaya hingga pemasaran.
“Kalau ini menjadi komoditas besar, kami siap mendukung pasar dan pengolahannya. Jadi bukan hanya menanam, tetapi juga produksi dan pemasaran,” tuturnya, pada Sabtu (23/5).
Witiarso menyebut, dari sekitar 1.400 kepala keluarga di Desa Tempur, sebanyak 400 kepala keluarga akan dilibatkan langsung pada tahap awal program.
Sementara secara keseluruhan, ditargetkan sekitar 14 ribu petani di Kabupaten Jepara terlibat, dalam program konservasi dan pengembangan kopi hingga 2033.
Sementara itu, Petinggi Desa Tempur Mariyono mengatakan, saat ini sekitar 10 hingga 15 persen hasil kopi masyarakat telah diolah menjadi produk bubuk kopi kemasan. Dengan produksi tahunan sekitar 400-600 ton per tahun.
Pemerintah desa pun mulai memfasilitasi pembentukan kelompok cluster coffee, untuk menghimpun para pelaku usaha kopi mandiri.
“Rata-rata yang kami himpun di kelompok cluster kopi itu mereka yang sudah punya produksi mandiri. Jadi saat ini masih menggunakan merek masing-masing,” sambungnya.
Ia menuturkan, pemasaran produk kopi Tempur sejauh ini masih didominasi pasar lokal Jepara dan penjualan daring.
Namun ke depan, desa berharap dapat memiliki satu merek bersama, yang menaungi berbagai UMKM kopi di kawasan tersebut.
Menurut Mariyono, Desa Tempur juga tengah menyiapkan konsep eduwisata pengolahan kopi, sebagai bagian dari pengembangan wisata di wilayah Kecamatan Keling.
Wisatawan nantinya dapat melihat langsung seluruh proses produksi kopi, mulai dari budidaya, pemetikan, roasting, hingga penyajian.
“Tempur nanti mengambil peran untuk wisata pengolahan kopi. Semua tahapan itu sudah kami rencanakan, termasuk di rest area yang sudah tersedia,” ujarnya.
Ia menambahkan, kawasan Pos Kaliombo dan rest area Tempur direncanakan menjadi terminal wisata sekaligus pusat eduwisata kopi.
Harapannya, program tersebut dapat memperoleh dukungan penuh dari Pemkab Jepara, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Mariyono menegaskan, Desa Tempur sendiri dihuni sekitar 1.400 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 3.600 jiwa.
Sebanyak 98 persen masyarakat menggantungkan hidup pada sektor perkebunan kopi, sehingga pengembangan komoditas tersebut dinilai menjadi tumpuan utama ekonomi desa, terutama pada musim panen antara Juni hingga Oktober.(fik)
Editor : Admin