Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

106 Hari Membelah Bukit, Bupati Jepara Resmikan Jalur Sumanding-Duplak Sepanjang 6,5 Kilometer

Fikri Thoharudin • Sabtu, 23 Mei 2026 | 14:25 WIB
BELAH KABUT: Bupati Jepara Witiarso Utomo jajal jalur Sumanding-Duplak pada Sabtu (23/5). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
BELAH KABUT: Bupati Jepara Witiarso Utomo jajal jalur Sumanding-Duplak pada Sabtu (23/5). (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

JEPARA — Jalan baru, harapan baru. Di tengah kabut pegunungan Muria sisi utara, suara ekskavator yang selama empat bulan meraung, kini berganti dengan senyum warga. 

Setelah 106 hari berjibaku dengan tebing curam, longsor, hujan, dan tanah merah yang licin. Jalur penghubung Desa Sumanding, Kecamatan Kembang dengan Dukuh Duplak Desa Tempur, Kecamatan Keling, akhirnya diresmikan.

Peresmian jalur tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo, pada Sabtu (23/5). Ia beserta jajaran pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), langsung menjajal trek yang berada di kawasan pegunungan Muria tersebut.

Wiwit—sapaan akrab Bupati Jepara—bahkan menyetir sendiri motor trail, menanjaki dan menuruni jalur tersebut.

Momentum ini menjadi penanda dan babak baru. Utamanya bagi wilayah pegunungan seperti Desa Tempur yang selama ini dikenal memiliki akses terbatas.

TUNTAS: Prosesi peresmian jalur alternatif Sumanding-Duplak sepanjang 6,5 kilometer pada Sabtu (23/5).
TUNTAS: Prosesi peresmian jalur alternatif Sumanding-Duplak sepanjang 6,5 kilometer pada Sabtu (23/5).

Di samping itu, upaya ini juga sekaligus membuka harapan besar bagi mitigasi bencana, pengembangan wisata, hingga penguatan ekonomi warga di lereng Muria.

Pembukaan jalur ini bermula pada 7 Februari 2026. Sejak hari pertama alat berat masuk ke kawasan perbukitan, merayap sejengkal demi sejengkal. Proses pengerjaan dilakukan secara perlahan namun pasti, sebab kondisi medan yang ekstrem.

Menurut Wiwit, keberadaan akses baru tersebut bukan hanya untuk memperpendek jalur antardesa, tetapi juga menjadi bagian penting dari mitigasi bencana di wilayah Tempur dan sekitarnya. 

Baca Juga: https://radarkudus.jawapos.com/jepara/2605230040/bpbd-jepara-tuntaskan-pembukan-jalur-sumanding-duplak-dalam-106-hari-jalan-65-kilometer-dapat-dilewati-warga

Wiwit menegaskan, pihaknya tak lagi ingin ada desa di Kabupaten Jepara yang terisolasi. Seperti Desa Tempur yang terisolasi beberapa hari, usai terjadi longsor besar, pada Jumat-Sabtu (9–10/1) lalu. 

Sehingga dengan dibukanya jalur Sumanding-Duplak, sebagai langkah yang jelas. Menjamin kebutuhan infrastruktur dasar bagi masyarakat.

“Alhamdulillah sudah tembus, tinggal melakukan pelebaran dan pengerasan jalan, supaya bisa dijadikan landasan badan jalan,” ungkapnya usai meresmikan dan meninjau jalan, pada Sabtu (23/5).

Jalur yang menghubungkan permukiman warga Sumanding dan Duplak itu, memiliki panjang sekitar 6,5 kilometer. Dari total tersebut, sekitar 4 kilometer merupakan jalur baru, yang dibuka menggunakan alat berat di kawasan perbukitan.

“Kondisinya cukup bagus. Ini juga sebagai bagian dari mitigasi bencana juga karena kemarin (awal tahun, red) kita mengalami longsor. Tempur sempat terisolasi. Sehingga jalan ini sebagai alternatif, ketika ada hal-hal seperti bencana yang tidak terhindarkan, masih ada akses lain dan alat berat juga bisa masuk,” terangnya.

FATAMORGANA: Bupati Jepara beserta jajaran berfoto di spot Bukit Ngangook, yang jadi salah satu ikon dan landskap pemandangan.
FATAMORGANA: Bupati Jepara beserta jajaran berfoto di spot Bukit Ngangook, yang jadi salah satu ikon dan landskap pemandangan.

Saat ini jalan tersebut masih berupa tanah merah dan tebing batu. Pemerintah Kabupaten Jepara, belum memperbolehkan wisatawan umum melintasi jalur itu. Karena medannya masih terjal dan cukup berbahaya, terutama saat hujan turun.

“Jalan ini statusnya dapat digunakan untuk warga setempat yang sudah terbiasa melalui jalan seperti ini, akan tetapi untuk para wisatawan belum dianjurkan. Saya imbau supaya tidak lewat sini dulu, karena medannya masih terjal,” tegasnya.

Pemkab Jepara pun telah menyiapkan anggaran Rp 500 juta pada perubahan APBD tahun ini, untuk pembangunan bahu jalan hingga pengerasan jalur. 

Tahap berikutnya, akan dilakukan pelebaran akses di sejumlah titik. Supaya kendaraan besar dapat melintas, bahkan bersimpangan.

“Setelah ini, kami akan melakukan pengerasan jalan terlebih dahulu kemudian melakukan pelebaran jalan. Minimal untuk spot-spot yang lahannya lebar itu bisa 6 meter. Sehingga ketika di kemudian hari kembali terjadi bencana, ekskavator itu juga bisa masuk,” sebutnya sembari menekankan upaya mitigasi bencana.

Diketahui per April 2026, kawasan Muria, juga telah ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya (Tahura). Hal ini menjadikan petakan ini sebagai kawasan pelestarian alam, yang berfungsi sebagai tempat koleksi tumbuhan dan satwa, baik alami maupun buatan. Utamanya untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan (pusat konservasi), pendidikan (edukasi), pariwisata, dan rekreasi alam.

Wiwit berharap ke depan apa yang telah dimulainya tersebut dapat berjalan seimbang. Ia menargetkan pada 2027, berbagai proses perizinan dan kebutuhan teknis dapat terselesaikan. 

Selanjutnya pada 2028, jalur tersebut diharapkan sudah dapat beroperasi secara lebih aman, bagi masyarakat umum maupun wisatawan.

“Kurang lebih 2028 baru dapat dimanfaatkan secara lancar, bagi masyarakat secara umum,” imbuhnya.

Wiwit juga menegaskan, bahwa Pemda akan mengikuti seluruh prosedur, berkaitan dengan pengelolaan kawasan kehutanan ataupun Tahura. “Kami akan ikuti mekanismenya, seperti aturan di Kementerian Kehutanan,” ringkasnya.

Tak hanya menjadi jalur alternatif kebencanaan, kawasan tersebut juga diproyeksikan sebagai jalur wisata baru di Kecamatan Keling Raya. 

Pemerintah desa pun, telah memetakan sedikitnya enam titik spot wisata, yang akan dikembangkan di sepanjang jalur tersebut.

“Ada enam titik spot yang kami arahkan, untuk bagaimana dapat mengembangkan pariwisata di daerah ini, Sumanding ataupun Tempur, termasuk branding kopi,” ucapnya.

Enam lokasi itu yakni Bukit Bejagan, Watu Mayung, Watu Gambang, Ngangook, Watu Lorot, dan Pinusan. 

Hamparan bukit hijau, batuan tebing, awan dan kabut pegunungan, hingga panorama lereng Muria menjadi daya tarik kawasan tersebut.

Pemerintah juga mulai menyiapkan rencana penataan fasilitas pendukung wisata seperti toilet, area parkir, hingga pendataan pedagang lokal. 

Menurut Wiwit, potensi wisata kawasan tersebut, sudah mulai terlihat dari tingginya jumlah pengunjung saat tradisi sedekah bumi digelar Pemdes Tempur.

Selain fokus pada jalur Sumanding–Duplak, Pemkab Jepara juga akan memperbaiki jalur eksisting Damarwulan–Tempur. Yang selama ini menjadi akses utama menuju kawasan wisata Tempur.

“Untuk jalan Damarwulan–Tempur ini juga ada perbaikan. Yang rawan dan jelek, kami rehabilitasi di tahun ini dan sudah ada anggarannya. Anggarannya Rp 4,5 miliar,” jelasnya.

Pascabencana longsor yang melanda kawasan pegunungan Muria. Pemda juga telah mengajukan bantuan rehabilitasi infrastruktur kepada pemerintah pusat dan BNPB.

“Termasuk kami juga sudah melakukan pengajuan pascabencana ini seperti yang terjadi di sepanjang area dan fasilitas umum infrastruktur dasar, seperti jalan juga sudah kami ajukan ke BNPB dan pemerintah pusat,” tandasnya.(fik)

Editor : Admin
#Jalur Sumanding-Duplak #Lereng Muria #Peresmian Jalan Sumanding-Duplak #mitigasi bencana #tempur