Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menyaksikan Para Bhikkhu Menjalani Thudong “Walk for Peace 2026” dari Jepara ke Candi Sewu, Klaten

Ali Mustofa • Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:54 WIB
TOLERANSI KENTAL: Pengurus Masjid Baitush Shomad, Desa Welahan, Welahan, Jepara, memberi air mineral kepada bhikkhu thudong saat istirahat sejenak di masjid itu kemarin siang. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
TOLERANSI KENTAL: Pengurus Masjid Baitush Shomad, Desa Welahan, Welahan, Jepara, memberi air mineral kepada bhikkhu thudong saat istirahat sejenak di masjid itu kemarin siang. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

JEPARA – Perjalanan spiritual para bhikkhu thudong di Kabupaten Jepara menghadirkan suasana penuh kehangatan dan toleransi antarumat beragama pada Jumat kemarin.

Memasuki hari ketiga perjalanan, rombongan bhikkhu sempat singgah di Masjid Baitush Shomad yang berada di Desa Welahan, Kecamatan Welahan, dan mendapat sambutan hangat dari pengurus masjid serta warga sekitar.

Dari pantauan di lokasi, para bhikkhu memasuki area masjid untuk beristirahat sejenak setelah menempuh perjalanan panjang.

Mereka dipersilakan duduk bersama, berbincang santai dengan pengurus masjid, hingga saling berjabat tangan sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Momen tersebut menjadi gambaran nyata kerukunan dan persaudaraan lintas agama yang terjalin harmonis di tengah masyarakat.

Ketua Panitia Bhikkhu Thudong Jepara, Soendoko, menjelaskan bahwa perjalanan hari ketiga dimulai dari Pendapa Kabupaten Jepara sejak pukul 04.00 WIB.

Rombongan kemudian tiba di Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan sekitar pukul 17.30 WIB setelah menempuh jarak sekitar 25 kilometer.

“Hari ini ada lima titik persinggahan, salah satunya di Masjid Baitush Shomad. Titik singgah dipilih berdasarkan jarak tempuh agar rombongan tidak terlalu malam di perjalanan karena lebih berisiko,” ujarnya.

Ia menambahkan, perjalanan thudong sebelumnya dimulai dari Candi Sima menuju Bangsri sejauh kurang lebih 15 kilometer pada hari pertama.

Selanjutnya, hari kedua dilanjutkan dari Bangsri menuju Kota Jepara dengan jarak sekitar 27 kilometer.

Menurut Soendoko, selama perjalanan para bhikkhu mendapatkan sambutan yang sangat baik dari masyarakat.

Bahkan banyak warga yang berinteraksi langsung dan memberikan makanan maupun minuman meski berasal dari latar belakang agama berbeda.

“Kalau hujan biasanya kami berhenti sementara. Alhamdulillah masyarakat sepanjang perjalanan sangat mendukung. Banyak yang menyambut dan membantu,” katanya.

Sepanjang perjalanan, para bhikkhu juga terlihat akrab dengan warga.

Banyak masyarakat mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam, sementara para bhikkhu membalas dengan senyuman, lambaian tangan, hingga acungan jempol.

Bahkan beberapa bhikkhu juga tampak menggunakan smartphone untuk merekam sambutan hangat warga.

Soendoko menegaskan bahwa kegiatan thudong bukan hanya perjalanan spiritual menjelang Hari Raya Waisak, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan dan pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama.

“Kami ingin menjaga nilai toleransi dan kemanusiaan. Keberagaman harus terus dirawat agar kerukunan tetap terjaga,” imbuhnya.

Rombongan bhikkhu thudong di Jepara terdiri dari 16 peserta dengan rentang usia sekitar 20 hingga 60 tahun.

Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Jepara, Pati, Salatiga, Boyolali, Ngawi, hingga Medan.

Nantinya, satu bhikkhu tambahan dijadwalkan bergabung di Semarang sehingga total peserta menjadi 17 orang.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Baitush Shomad Welahan, Sumarno, mengaku senang dapat menyambut rombongan bhikkhu sebagai simbol persaudaraan antarumat beragama di Indonesia.

“Selamat beristirahat di rumah ibadah umat Islam. Ini bentuk toleransi antarumat beragama. Semoga silaturahmi ini membuat negara kita semakin damai,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Sebagai bentuk penghormatan, pengurus masjid juga menyediakan air mineral, roti, hingga buah-buahan untuk para bhikkhu. Sebagian bekal tersebut bahkan dibawa kembali untuk perjalanan mereka selanjutnya.

Sumarno berharap hubungan baik antarumat beragama terus terjalin tanpa terhalang perbedaan keyakinan.

“Yang penting tetap seduluran,” pungkasnya. (dik)

Editor : Ali Mustofa
#Candi Sima Jepara #bhikkhu thudong #oleransi antarumat #jepara #rumah ibadah