JEPARA — Suasana Dukuh Karang Sari RT 04 RW 05 Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Jepara, mulai bergerak lebih hidup menjelang Festival Memeden Gadhu 2026.
Jalan kampung dipenuhi persiapan warga, jerami mulai ditata, ruang-ruang rumah dibuka untuk tamu.
Sementara anak-anak hingga orang tua sibuk bergotong royong menyambut festival yang digelar pada Jumat–Senin (22–25/5).
Bukan sekadar agenda hiburan tahunan, Festival Memeden Gadhu tahun ini hadir sebagai ruang perjumpaan budaya rakyat, gerakan literasi masyarakat, seni komunitas, hingga solidaritas warga kampung yang tumbuh secara kolektif.
Tradisi Memeden Gadhu menjadi inti perayaan. Dirawat bersama, lewat berbagai kegiatan kreatif dan partisipatif.
Pengunjung akan disuguhkan beragam agenda budaya seperti Tari Tani Kolosal, Wayang Kampung Gadhu, lokakarya budaya, praktik pembuatan Memeden Gadhu, workshop kreatif anak, lapak baca, produksi zine independen, bazar warga, pertunjukan seni komunitas. Hingga ngaji budaya dan tirakatan kampung pada malam hari.
Tidak hanya itu, sejumlah komunitas lintas bidang, juga ikut membuka mini workshop dan ruang interaksi warga. Festival tahun ini sengaja dirancang bukan hanya untuk ditonton, tetapi untuk dialami langsung oleh masyarakat dari berbagai usia.
Salah satu agenda yang menarik perhatian tahun ini ialah pameran lukisan bertajuk “Fragmen Jerami dan Kehampaan Modern” karya seniman Tino Jones.
Pameran tersebut menghadirkan refleksi visual, tentang kehidupan masyarakat agraris. Termasuk perubahan sosial, hingga rasa keterasingan manusia modern di tengah perkembangan zaman.
Ketua Program Festival Memeden Gadhu, Hasan, mengatakan festival ini lahir dari semangat menjaga ingatan kampung. Agar tetap hidup di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat.
“Festival Memeden Gadhu bukan hanya tontonan. Namun jadi ruang berkumpul, ruang belajar, dan ruang untuk mengingat kembali siapa kita sebagai masyarakat yang punya akar budaya,” ungkapnya Jumat (22/5).
Menurut Hasan, tradisi rakyat memiliki hubungan erat dengan gerakan literasi masyarakat.
Literasi, sambungnya, tidak berhenti pada aktivitas membaca buku semata, melainkan juga membaca kehidupan sosial, memahami tradisi, hingga mengenali pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun.
“Tradisi seperti Memeden Gadhu menyimpan banyak pengetahuan lokal, simbol, cerita rakyat, dan nilai kebersamaan. Ketika tradisi dipelajari, didokumentasikan, dan dibagikan kembali kepada generasi muda, di situlah literasi bekerja,” tambahnya.
Selama proses persiapan festival, suasana gotong royong terasa kuat di tengah warga Dukuh Karang Sari.
Di tengah semakin kuatnya budaya individualisme dan hubungan sosial yang mulai renggang, Festival Memeden Gadhu diharapkan menjadi ruang temu masyarakat untuk kembali membangun kedekatan secara nyata.
Dengan duduk bersama, berbincang, berkarya, sekaligus merawat tradisi kampung.
Festival ini juga menjadi ajakan terbuka bagi generasi muda. Agar tidak hanya menjadi penonton budaya, tetapi ikut terlibat menjaga dan mengembangkan tradisi, dengan cara-cara kreatif yang relevan dengan kehidupan hari ini.
Selama empat hari pelaksanaan, Festival Memeden Gadhu terbuka untuk umum.
Diharapkan menjadi ruang lintas generasi dalam merayakan budaya rakyat, solidaritas sosial, dan kehidupan kampung yang terus tumbuh bersama masyarakat.
“Yang paling tampak ialah semua warga merasa memiliki festival ini. Ada yang menyumbang tenaga, alat, makanan, bahkan rumahnya dipakai untuk tempat singgah tamu dan komunitas. Semangat itu yang membuat budaya kampung tetap hidup,” pungkasnya.(fik)
Editor : Admin