JEPARA — Sebanyak 17 bhikkhu akan melakukan perjalanan spiritual, sejauh sekitar 220 kilometer.
Titik pertama dari Kabupaten Jepara menuju Candi Sewu Klaten. Hal tersebut dilakukan dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak 2570 BE tahun 2026.
Tudhong, dengan tajuk Walk for Peace itu, akan dimulai dari Candi Sima Kecamatan Donorojo, pada Rabu (20/5), dijadwalkan tiba di Klaten pada Sabtu (30/5).
Selanjutnya para bhikkhu akan mengikuti rangkaian perayaan Waisak, yang jatuh pada Minggu (31/5).
Ketua Panitia, Soendoko (58), menyampaikan kegiatan itu akan diikuti 17 bhikkhu. Awalnya hanya sejumlah 16 dari Jepara, namun kemudian bertambah satu bhikkhu dari Semarang.
“Ini perjalanan spiritual para bhikkhu dalam rangka menyambut Waisak. Total ada 17 bhikkhu yang ikut,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, selama perjalanan para bhikkhu akan berjalan kaki melintasi sejumlah kabupaten di Jawa Tengah.
Mulai dari Jepara, Demak, Semarang, Ungaran, Salatiga, Boyolali hingga Klaten. Setiap harinya mereka akan menempuh perjalanan sekitar 15 hingga 20 kilometer, bahkan pada mencapai 27 kilometer.
“Perjalanan dilakukan pagi sampai sore. Malamnya para bhikkhu menginap di pos-pos singgah, yang sudah kami koordinasikan sebelumnya,” ucapnya.
Panitia telah menyiapkan berbagai kebutuhan perjalanan, termasuk koordinasi dengan relawan, tenaga kesehatan, tokoh agama, pengurus vihara maupun klenteng. Termasuk pemerintah daerah di daerah yang dilalui.
Kegiatan tudhong sendiri merupakan tradisi lama dalam kehidupan para bhikkhu. Tradisi tersebut menjadi bentuk latihan pengendalian diri, hidup sederhana, keteguhan batin, serta latihan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurut Soendoko, perjalanan itu juga membawa pesan perdamaian dan cinta kasih. Utamanya di tengah situasi dunia yang dinilai penuh gejolak.
“Peserta dilatih untuk memiliki cinta kasih dan kepedulian terhadap sesama, baik kepada umat Buddha maupun umat lain. Di tengah situasi dunia yang gonjang-ganjing, kami membawa misi menyebarkan perdamaian,” jelasnya.
Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu mempererat hubungan antara para sangha dan umat, sekaligus menumbuhkan toleransi antarumat beragama.
“Kami berharap tudhong ini berjalan lancar, aman, tertib, penuh kebersamaan dan keberkahan. Ada sinergi antara pemerintah daerah, aparat, relawan, tokoh masyarakat, umat lintas agama dan masyarakat umum,” ujarnya.
Ia menambahkan, perjalanan spiritual tersebut, juga menjadi simbol hubungan harmonis antara umat Buddha dengan pemerintah serta masyarakat luas.
Harapannya, suasana damai, rukun dan penuh persaudaraan dapat terus terjaga melalui momentum Waisak tahun ini. "Misinya untuk menyebarkan perdamaian di seluruh penjuru," pungkasnya.(fik)
Editor : Admin