Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Durian Petruk Balik Omah, Pengembangan Didukung Guru Besar Undip dan Unnes

Fikri Thoharudin • Minggu, 17 Mei 2026 | 17:41 WIB
UNGGUL: Mudhofir menerima bibit Durian Sibli yang untuk dapat dikembangbiakkan di Jepara (DKPP UNTUK RADAR KUDUS)
UNGGUL: Mudhofir menerima bibit Durian Sibli yang untuk dapat dikembangbiakkan di Jepara (DKPP UNTUK RADAR KUDUS)

JEPARA — Upaya mengembalikan kejayaan durian lokal Jepara mulai digencarkan. Pemerintah Kabupaten Jepara bersama kalangan akademisi dan komunitas hortikultura, bergerak menghidupkan kembali durian unggulan khas daerah. Terutama varietas Petruk yang selama ini dikenal luas oleh para pecinta durian.

Langkah tersebut mendapat dukungan dari Guru Besar hortikultura Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof Amin Retnaningsih, serta peneliti durian dari Universitas Diponegoro (Undip), Prof Saiful. Keduanya turut hadir dalam pertemuan pengembangan durian lokal Jepara, pada Kamis (14/5) lalu.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara Mudhofir menyampaikan bahwa Jepara memang memiliki varietas durian unggulan yang sudah dikenal masyarakat luas. Salah satunya Durian Petruk dari Kecamatan Tahunan. Namun, keberadaan pohon induk asli Petruk kini mulai sulit ditemukan di Jepara.

“Petruk itu sudah mulai nge-brand bagi penggemar durian. Tapi pohon Petruk justru mulai kabur keberadaannya, sementara masyarakat sangat menyukai Petruk,” ungkapnya pada Minggu (17/5).

PEDULI: Kepala DKPP Kabupaten Jepara Mudhofir tengah berdiskusi bersama dengan guru besar Unnes Prof. Amin dan Prof. Saiful dari Undip beserta komunitas hortikultura.
PEDULI: Kepala DKPP Kabupaten Jepara Mudhofir tengah berdiskusi bersama dengan guru besar Unnes Prof. Amin dan Prof. Saiful dari Undip beserta komunitas hortikultura.

Ia menjelaskan, saat ini pohon induk bersertifikasi Durian Petruk justru tercatat berada di luar daerah. 

Tiga pohon induk resmi diketahui tertanam di Kebun Bibit Jawa Tengah di Pendem, Karanganyar, milik Prof Reza di Bogor yang dikenal sebagai “Durian Traveler”, serta di kebun pembibitan di Solok, Sumatera Barat.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi, karena selama ini banyak petani durian di Jepara belum terbiasa melakukan pencatatan dan legalisasi pohon induk. 

Akibatnya, banyak pohon yang secara fisik menyerupai Petruk, namun tidak memiliki rekam jejak keturunan yang sah.

“Walaupun secara fisik ada beberapa yang mencirikan Petruk, karena legalitasnya tidak muncul akhirnya labelnya tidak terekam,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, DKPP Jepara kini mulai melakukan gerakan penanaman kembali durian unggulan lokal, dengan bibit yang memiliki identitas dan keturunan jelas. 

Setiap bibit akan dilengkapi label asal pohon induk, sehingga dapat ditelusuri secara resmi.

Selain Petruk, Jepara juga mulai mengembangkan varietas lokal lainnya seperti Durian Tarmin. 

DKPP bahkan telah memesan bibit langsung kepada keluarga pemilik varietas tersebut, untuk diperbanyak dan dibagikan kepada masyarakat melalui kelompok tani ataupun gapoktan.

“Tahun ini kami sedang memesan 500 batang bibit dari Balai Pembibitan Provinsi di Pendem Karanganyar. Nanti Petruk maupun Tarmin bisa dibagikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Prof. Amin Retnaningsih juga mengatakan pihaknya siap membantu pengembangan durian Jepara, termasuk melalui identifikasi genetika dan kultur jaringan. Menurutnya, pengembangan durian unggulan tidak cukup hanya berdasarkan pengakuan masyarakat, tetapi juga perlu didukung kajian ilmiah.

Pihaknya selaku akademsi dapat melakukan identifikasi Durian Petruk melalui uji laboratorium untuk mengenali DNA-nya. Sehingga tidak hanya sekadar klaim dan pengakuan, tapi terbukti secara ilmiah.

Di samping itu, Pemkab Jepara juga mulai memetakan sejumlah wilayah potensial sebagai kawasan unggulan durian. 

Beberapa daerah yang disiapkan antara lain Desa Kecapi di Kecamatan Tahunan, Desa Bantrung di Batealit, Desa Lebak di Pakis Aji, Desa Gelang di Keling, Desa Pancur di Mayong, serta Desa Banjaran di Bangsri.

Melalui langkah tersebut, Mudhofir berharap Durian Petruk dan varietas lokal lainnya tidak hanya kembali dikenal sebagai identitas daerah. Tetapi juga mampu menjadi komoditas hortikultura unggulan yang bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat.

“Ya semoga ini juga memperkuat branding daerah Jepara. Melalui tanaman buah,” pungkasnya.(fik)

Editor : Admin
#Durian Tarmin #Durian Petruk #Durian unggul Jepara #Durian enak #Pencinta Durian