Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bermula Rintis Pondok sempat Berjualan Kerupuk dan Miliki MTs-MA, Perjuangan Berdarah Abi Jamroh Puluhan Tahun Runtuh Seketika

Fikri Thoharudin • Selasa, 12 Mei 2026 | 18:35 WIB
BERKEMBANG PESAT: Kondisi Ponpes Al Anwar Mantingan, Kecamatan Tahunan, yang terus berkembang hingga memiliki MTs serta MA. (FIKRI T/RADAR KUDUS)
BERKEMBANG PESAT: Kondisi Ponpes Al Anwar Mantingan, Kecamatan Tahunan, yang terus berkembang hingga memiliki MTs serta MA. (FIKRI T/RADAR KUDUS)

JEPARA — Suasana di lingkungan Pondok Pesantren Al Anwar yang berada di RT 26/RW 17 Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, tampak lengang, pada Selasa (12/5) siang. 

Tak banyak aktivitas terlihat dari luar pondok, yang selama puluhan tahun, dikenal sebagai tempat pendidikan agama tersebut.

Berdasarkan penuturan tetangga yang enggan disebut namanya disebutkan, kasus yang kini menjerat pendiri Ponpes Al Anwar, Ibnu Abi Jamroh (60), sebenarnya sudah lama menjadi perbincangan terbatas di lingkungan sekitar.

“Kasuse wis lumayan lama,” ucapnya saat ditemui pada Selasa (12/5).

Menurut warga, Abi Jamroh dikenal sebagai sosok yang tidak terlalu membaur dengan masyarakat sekitar. 

Interaksi dengan warga disebut terbatas. Sebagian besar santri yang belajar di ponpes juga disebut banyak yang berasal dari luar daerah Jepara.

Meskipun demikian masyarakat pun memaklumi kesibukan Abi Jamroh. Belum lagi ia sebagai seorang kiai, yang juga memiliki peran sebagai Wakil Rois Syuriah di PWNU Jawa Tengah.

“Santrinya kebanyakan dari luar kota, bukan asli Jepara,” ucapnya.

Masyarakat sekitar juga menyebut, sejak awal berdiri, pondok tersebut dirintis AJ dengan perjuangan yang tidak mudah. 

Ia disebut merantau ke Jepara dari Babalan, Kecamatan Wedung, Demak, dan membangun pondok sedikit demi sedikit. 

Pada masa awal, Abi Jamroh tampak gigih, hingga sempat berjualan kerupuk.

Ditambah dengan perjuangan lain, termasuk rihlah akan pengajaran keilmuan, Ponpes Al Anwar kemudian berkembang. 

Tidak hanya pondok pesantren, lembaga pendidikan formal tingkat MTs hingga MA juga berdiri di lingkungan tersebut. 

BERTINGKAT: Kompleks Pondok Pesantren Al Anwar Mantingan, Kecamatan Tahunan Jepara.
BERTINGKAT: Kompleks Pondok Pesantren Al Anwar Mantingan, Kecamatan Tahunan Jepara.

Nama Abi Jamroh perlahan dikenal sebagai tokoh agama, yang memiliki cukup banyak santri.

Meski demikian, keberadaan ponpes disebut tidak terlalu menjadi pilihan utama warga sekitar Mantingan. 

Tak sedikit pula masyarakat lebih memilih menyekolahkan anak di SMP maupun SMA negeri, di pusat kota Jepara.

“Kalau warga sini rata-rata sekolah di SMP atau SMA kota. Jarang yang mondok di sini (Al Anwar, red),” imbuhnya.

Di tengah mencuatnya kasus pencabulan yang menjeratnya, suasana pondok pun berubah drastis. 

Aktivitas terlihat lebih tertutup dibanding biasanya. Beberapa santri putra juga tampak membatasi interaksi dengan orang luar.

Saat jurnalis Radar Kudus mengamati area pondok pada Selasa (12/5) siang, seorang santri putri sempat menghampiri dan menegur. Meminta agar tidak mengambil gambar di sekitar lokasi. 

Dengan nada pelan, ia menyebut persoalan yang terjadi sebagai penodaan. “Itu aib,” ucapnya singkat, sebelum kembali masuk ke area pondok. Menghilang dari pandangan.

Warga sekitar juga mengaku heran dengan kondisi Abi Jamroh, saat memenuhi panggilan pemeriksaan polisi sebagai tersangka, pada Senin (11/5). Hingga ditahan pada hari yang sama.

Abi Jamroh, terlihat datang menggunakan kursi roda. Padahal, tiga hari sebelumnya masih berdiri dan berjalan tegak. 

Kasus yang kini menyeret nama besar pendiri ponpes tersebut, pun menjadi perhatian luas masyarakat. 

Perjalanan panjang membangun lembaga pendidikan agama selama puluhan tahun, seolah runtuh hanya dalam hitungan hari. Setelah kasus pencabulan terhadap santriwatinya sendiri mencuat ke publik. Kini status pengasuh pondok telah diberikan kepada menantunya.

Warga pun menyayangkan perilaku Abi Jamroh. Pasalnya Pondok dan sekolah MTs dan MA yang berada di bawah naungan yayasan, bagus. Dalam beberapa tahun terakhir dapat berkembang pesat.

Berdasarkan pamflet penerimaan murid baru di Madrasah Al Anwar 2026-2027, program unggulannya seperti hafal Alquran tanpa menghafal. Mahir bidang komputer. Mahir membaca kitab kuning. Serta mahir berbahasa Arab dan bahasa Inggris.

Di samping itu, gelombang pertama pendaftaran juga gratis SPP 50 persen selama 1 tahun. Gratis pendaftaran dan uang gedung. Sementara untuk anak yatim piatu, gratis pendaftaran, SPP, dan uang gedung.

“Ya, sayang. Tapi kalau warga di sini kebanyakan cuek. Tidak mau banyak mengurusi persoalan orang lain,” tandas warga.(fik)

Editor : Admin
#Abi Jamroh #Oknum kiai #Pencabulan terhadap santriwati #tahunan jepara #Ponpes Al Anwar